Pekerjaan Mas David

54
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – KALAU ditanya seberapa besar banggaku pada Mas David?

Aku akan menjawab, “Besar banget…”

Bagaimana tidak. Sebagai anak pertama di keluarga kami, Mas David itu benar-benar mencontohkan banyak hal kepadaku, si bungsu ini. Contoh yang diberikan Mas David itu nyata. Tidak sekadar nasihat atau ungkapan kalimat semata.

Seperti misalnya tentang kuliah. Mas David beneran menunjukkan bagaimana berprestasi dengan baik, tapi juga bisa aktif bersosialisasi kemana-mana. Mas David yang dikenal sebagai anak yang giat belajar, juga dikenal di kalangan komisi kepemudaan di gerejaku.

Waktu SMP saja dia jadi ketua OSIS. Saat SMA sampai kuliah jadi pengurus OMK.

Meski begitu tidak ada kesan sombong atau keinginan untuk bisa diteladani.

Semua mengalir begitu saja untuk bisa dilihat serta dicontoh adiknya. Bapak dan Ibu pun tidak pernah menggunakan kalimat yang menyatakan perbandingan diantara kami.

Selepas kuliah, Mas David bekerja di sebuah perusahaan yang katanya sudah bisa langsung mengangkatnya jadi pegawai tetap. Padahal teman-temannya masih banyak yang menganggur terutama karena dampak dari pandemi ini.

Tiap bulan, Mas David tetap selalu memberi bulanan kepada Ibu serta membantu kuliah adiknya ini. Sesekali, ketika aku perlu tambahan kebutuhan kuliah, tidak berapa lama Mas David bisa menyediakan.

“Yang penting kamu janji berikan terbaik buat bapak dan ibu biar mereka bangga juga padamu ya Vit…,” begitu jawabnya sesaat aku sungguh berterima kasih atas usahanya memenuhi kebutuhan itu. Aku jadi merasa diberi semangat tulus agar turut sukses seperti dia.

***

Sepagi ini Mas David sudah terlihat rapi dan wangi.

Polo shirt biru muda, membuatnya terlihat fresh sekali.

Katanya, di tempat kerjanya itu diperbolehkan memakai baju apa saja, yang penting rapi. Maka, Mas David memang lebih sering mengenakan polo shirt atau kemeja lengan pendek. Sepatunya saja, sepatu kets. Plus jaket yang tidak pernah ia lupa bawa. Katanya lagi, jaket adalah andalannya di tempat kerja.

Terlihat santai, tapi serius juga.

Terbukti dari jam kerjanya saja, dari jam delapan pagi bisa sampai jam delapan malam.

Malah pernah jam tujuh pagi sudah tak terlihat di rumah. Saat aku pulang dari pertemuan OMK jam sembilan malam, tak lama Mas David sampai rumah juga. Sering banget ngelemburnya.

Beruntungnya badan Mas David termasuk yang fit. Jarang sakit. Semoga demikian seterusnya.

***

Minggu siang ini aku dan Mas David sudah janjian misa bareng. Padahal tadi pagi dia sempat ke kantor dulu katanya. Hari ini ada target yang harus dia selesaikan. Mas David pun menepati janji untuk misa bareng, sesuatu hal yang baru kali ini kami lakukan sejak gereja terbuka tanpa mendaftar setelah sempat ditutup dan atau mendaftar pasca pendemi.

“Kenal sama bapak satpam yang paling tua itu, Vit? Mas David menunjuk seseorang yang sedang membantu parkir sebuah mobil umat yang baru masuk. Motor Mas David juga belum lama ini dibantu parkirnya, tapi bukan bapak yang Mas David tunjuk itu.

“Kenal, Mas… Suka nungguin OMK kelar kegiatan pas malam-malam gitu…,” jawabku.

“Beliau itu katanya dulu bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Tapi, setelah perusahaannya bangkrut beliau malah nggak bisa dapat bekerja lagi. Lalu jadilah tukang parkir sampai sekarang.”

“O ya, Mas?” aku rada kaget. Bapak yang dimaksud itu sangat bersahaja dan memang  sudah lama menjadi tukang parkir gereja.

Kepala Mas David menangguk mantap. “Trus, bapak yang jualan rokok, tisyu, air mnineral dan lain-lain di depan itu sebenarnya hanya lulus SD Dari kampung ke kota nyari nafkah dengan berjualan. Anak-anaknya ada yang jadi PNS dan dosen.”

“Waaa… Serius Mas?” kali ini aku kaget sebab kagum dengan cerita Mas David barusan.

Kedua kali kepala Mas David angguk-angguk. “Itu menandakan semua pekerjaan itu baik dan bermanfaat asal kita pun juga mengerjakannya dengan baik, turut aturan. Nggak ikut arus yang tak baik. Nggak usah malu dengan pekerjaan kita. Apalagi bagi Allah semua bisa menjadi berkah.”

Ganti aku yang menangguk. “Kok Mas tahu detail bapak-bapak itu?”

“Loh… Lupa apa kalau Masmu ini pernah jadi pengurus OMK lama yang hobinya nongkrong dan ngobrol sama mereka?” Mas David tekekeh.

Benar juga…

Mas David memang dikenal di sekitar lingkungan gereja serta pintar mencari bahan cerita dan termasuk pendengar yang baik.

“Yuk ah, nanti telat misanya lho…” Mas David mengingatkan.

Aku pun menurut dan melangkah masuk ke dalam.

Ada sukacita yang lama lama tak kurasa ketika baru saja sampai di depan pintu gereja. Bukan saja melihat penuhnya umat bermaksud sama, tetapi karena ada beribu syukur hadir atas karunia bisa kembali ke bait Allah ini.

***

Kesehatan bapak mendadak menurun.

Kemungkinan karena tensi dan diabetesnya yang berapa waktu lalu nyaris bersamaan kambuh. Demi tidak membuat kondisi semakin parah, bapak dirujuk untuk opname di rumah sakit. Kami bergantian menunggui bapak, kecuali Mas David yang tidak bisa selalu menjaga karena tugas-tugas kejar tayangnya. Ibu memang nggak tega meminta Mas David ikut menjaga bapak sementara dia juga yang harus pontang panting bekerja untuk pembayaran rumah sakit.

Aku sendiri berusaha untuk bisa mengatur waktu supaya bisa gentian jaga bapak, gentian dengan ibu dan tante atau keponakan yang juga mau nungguin.

Padahal beberapa minggu ke depan, aku akan menerima Sakramen Penguatan.

Sakramen yang sudah lama bapak ingatkan agar aku ikuti.

Awalnya aku malas sebab dengan segala macam alasan. Setelahnya, terpotong kondisi pandemi. Maka keinginan bapak itu harus tertunda lebih lama lagi.

“Sebagai umat katolik yang taat dan sudah dewasa, baik jika kamu menerima sakramen yang ada, satu-satu. Bukankah itu juga merupakan simbol serta ketaatan kita akan keberadaan kita sebagai umat Allah?” pesan bapak tempo hari. Maka begitu gerejaku membuka pendaftaran sakramen penguatan, bapak adalah orang yang paling bersemangat memintaku buat ikutan daftar.

Maka, aku ingin sekali saat nanti menerima sakramen itu, bapak, ibu dan Mas David hadir menjadi saksi sekaligus mendoakan anak bungsunya ini. Namun, dengan kondisi bapak seperti ini, apakah mungkin keinginanku itu terwujud?

“Dah… Kalau bapak masih harus dirawat dan ibu juga harus nungguin, kan ada Mas yang bisa damping kamu? Biar mereka lewat streaming saja…” hibur Mas David.

“Tapi, Mas kan kerja dan nyari tambahan buat bayar rumah sakit?” bantahku.

Mas David merengkuhku. ”Tenang saja… Kapan Masmu tidak menepati janji?”

Aku berusaha tersenyum dan mengiyakan meski ku tahu, pasti akan repot sekali Mas David membagi waktu dalam kondisi sekarang ini.

Ah….

Kakakku satu ini memang terbaik.

****

“Mas telat dikit ya… Tapi, pasti datang kok. Don’t worry…” demikian bunyi WA dari Mas David tadi sebelum misa dimulai. Dia pasti masih mengejar deadline pekerjaannya demi memeuhi kebutuhan kami ini. Sekarang sedang kotbah yang  disampaikan oleh Uskup, tapi tanda-tanda Mas David akan datang belum ada juga.

Sejujurnya aku ingin bapak dan ibu ada di sini. Melihat anaknya ini akhirnya bisa menerima Sakramen Penguatan setelah tertunta berapa waktu. Terbayang wajah bapak yang akan sumringah menjadi saksi hari ini.

Apalagi aku sengaja meminta bapak yang mencarikan nama penguatan. Sebelum beliau sakit, nama itu sudah beliau berikan padaku.

Nama yang beliau pilih adalah Abigail yang diambil dari kata “abba” dalam bahasa Ibrani berarti “ayah”.

Sesaat sebelum ke gereja, aku sempat mampir dulu ke rumah sakit, meminta izin dan restu dari bapak dan ibu. Walau bapak masih lemah, tapi tanda bahagia tersirat di wajahnya. Saat pamit, mata beliau berkaca-kaca dan sempat meminta maaf karena tidak bisa ikut menghadiri misa. Beliau berdua akan menyaksikan secara streaming di di youtube.

Aku menyeka air mata yang mendadak muncul di pinggiran mata. Bersamaan dengan kalimat Uskup seperti menandakan akan selesai berkootbah.

Cemasku mulait meninggi.

Tidak ada tanda-tanda Mas David datang.

Berulang kubuka HP meski rada sembunyi. Tidak enak dilihat yang lain.

Sekelebat aku melihat seorang laki-laki gagah memasuki gereja. Dia diarahkan duduk di bagian keluarga penerima sakramen. Petugas pun seperti kenal laki-laki mengenakan jaket hijau, khas driver ojeg online yang juga suka kunaiki.

Hah?!!

Spontan aku kaget sekali menyadari hal itu.

Segera lebih kutengokan kepala, memastikan dugaan atas mata yang melihat sosok itu.Untung di depan masih ada pengantar dari pembimbing para penerima sakramen.

Cepat kuambil HP dan mengetik WA.

“Mas sudah di gereja? Duduk di bagian keluarga, kiri, nomor dua di belakang ibu-ibu batik merah?” tulisku sambil deg-degan.

Tak lama ada, kulihat ada balasan. “Yes, Dek… Maaf masih kucel ya, Baru banget sampai…”

Kutengok sekali lagi ke tempat yang sama.

Lakl-laki itu mengangguk lalu tersenyum. Ia memberi kode agar aku konsen ke depan.

Oh God

Mas David yang seorang Sarjana Teknik dan kubanggakan itu seorang driver ojol?

Bukankah katanya bekerja di sebuah perusahaan terkenal dan sudah menjadi pegawai tetap?

Mendadak aku sedikit linglung. Untungnya, pembina kami meminta semua uamt untuk melanjutkan acara dengan berdoa sebelum kami menerima sakramen penguatan satu per satu.

“Apa pun pekerjaanya, di hadapan Allah akan bisa menjadi berkat,” kalimat Mas David itu kembali terngiang.

Aku tahu, Tuhan pasti sedang memberi tahu sesuatu untuk menguatkan langkahku selanjutnya. Diawali saat penerimaan Sakramen Penguatan ini.

Semoga seluruh langkah kami dalam berkat dan perlindungamu ya, Allahku…

Oleh Anjar Anastasia

HIDUP, Edisi No. 31, Tahun ke-76, Minggu, 31 Juli 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here