Menatap Masa Depan dari Remang-remang Derita

114
Salva Kiir (kanan) dan Paus Fransiskus pada pertemuan dengan pihak berwenang di Juba.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Anda pernah dengar nama Santa Yosephine Bakhita? Dia adalah seorang budak yang diperjualbelikan lalu mengalami penyiksaan dari para tuannya. Dia kemudian dibawa ke Italia dan menjadi seorang biarawati yang membaktikan seluruh hidupnya bagi banyak orang. Dia menjadi pelindung bagi Negara Sudan dan Sudan Selatan serta para migran yang selamat.

Namanya selalu berkenaan dengan Negara Sudan dan Sudan Selatan. Ketika dia lahir, kedua Negara ini masih menjadi satu kesatuan dengan ibukota Khartoum. Namun di kemudian hari, Sudan Selatan memisahkan diri dengan memproklamirkan kemerdekaannya pada 2011 lalu. Agama Kristen mendominasi Sudan Selatan. Sementara di bagian utara, sekarang Sudan, didominasi oleh penganut agama Islam.

Paus Fransiskus memberkati Presiden Sudan Selatan Salva Kiir menjelang keberangkatannya.

Pada awal Februari lalu Paus Fransiskus mengadakan perjalanan apostolik ke Sudan Selatan. Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu terbang dari Kongo setelah beberapa hari mengunjungi umat di Kongo. Beliau disambut oleh jutaan warga Sudan Selatan di Ibukota Juba. Umat Katolik dari berbagai keuskupan menghadiri Misa penutup di Juba.

Mengapa Paus Fransiskus mau mengunjungi Sudan Selatan? Menurut sejumlah sumber, kunjungan apostolik semestinya dilaksanakan tahun lalu. Namun karena Paus Fransiskus baru saja menjalani operasi lutut, maka kunjungan baru dilaksanakan awal Februari ini. Namun alasan utama adalah memberi motivasi terjadinya perdamaian dalam masyarakat Sudan Selatan yang masih bertikai di antara para pemimpin.

Paus Fransiskus pernah mengundang para pemimpin Sudan Selatan untuk mengadakan retret beberapa hari di Vatikan pada 2019 lalu. Usai retret, paus mencium kaki para pemimpin itu untuk mendesak mereka hidup sebagai saudara yang saling mengampuni. Beliau meminta mereka untuk mengutamakan perdamaian daripada pertikaian untuk memperebutkan kekuasaan.

Ketika itu mereka berjanji untuk melaksanakan upaya perdamaian. Namun perdamaian itu tak kunjung tiba. Bahkan terjadi lagi perang untuk memperebutkan kekuasaan di antara suku-suku. Hasilnya adalah hidup masyarakat jauh dari damai. Ada banyak korban yang berjatuhan. Diperikirakan terdapat 2 juta pengungsi dalam negeri. Sementara itu, sebanyak 2,2 juta warga mesti mengungsi keluar negeri. Penderitaan rakyat ini mengetuk hati Paus Fransiskus untuk mendorong pihak pemerintah Sudan Selatan untuk memperjuangkan perdamaian.

Paus Fransiskus menyerukan agar mereka meletakkan senjata dan merengkuh perdamaian. Dalam Perayaan Ekaristi Minggu (5/2/2023) lalu, Paus Fransiskus meminta kaum muda untuk menghidupi damai dan menata masa depan mereka dengan penuh harapan. Tampak kaum muda sangat antusias menerima seruan Paus Fransiskus. Mengapa? Karena mereka mesti mengemban beban hidup yang lebih baik di masa yang akan datang.

Paus Fransiskus bertemu dengan 2.500 pengungsi internal selama kunjungannya ke Juba, Sudan Selatan, pada 4 Februari 2023.

Ada sejumlah persoalan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Sudan Selatan. Pertama, Negara yang masih berusia muda ini tidak memiliki bahasa nasional. Ada ratusan bahasa daerah yang hanya dimengerti oleh masing-masing suku. Pernah dicetuskan bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa resmi Negara. Namun kedua bahasa ini belum diajarkan di sekolah-sekolah. Akibatnya, masing-masing suku berbicara dalam bahasa mereka masing-masing. Kesalahpahaman kemudian mudah terjadi di antara mereka. Perang antarsuku pun mudah terjadi.

Kedua, sistem pendidikan yang masih rendah. Negara ini memiliki 8.000 sekolah dasar dari kelas 1 hingga kelas 8. Ada 120 sekolah menengah dari kelas 9 hingga kelas 12. Hanya ada satu guru fungsional. Perguruan tinggi bisa dihitung dengan jari. Akibatnya, sebagian besar rakyat Sudan Selatan tidak memiliki pendidikan yang memadai untuk membangun negeri mereka.

Ketiga, terjadi pemberontakan bersenjata, sengketa perbatasan, dan perebutan kendali terhadap lahan peternakan. Situasi ini semakin memburuk setelah pertentangan yang terjadi di dalam partai penguasa, SPLM, yang membuat Presiden Salva Kiir dari etnis Dinka (kelompok etnis terbesar di negara tersebut) memecat wakilnya, Riek Machar, yang berasal dari etnis terbesar kedua, Nuer, pada 2013. Kiir menuduh wakilnya itu merencanakan kudeta. Perdebatan politik kemudian berubah menjadi konflik etnis.

Keempat, persoalan kekayaan alam yang kemudian diperebutkan. Sudan Selatan merupakan negara yang kaya dengan minyak. Pusat perhatian pemerintahan baru ini adalah meningkatkan produksi. Namun untuk mewujudkannya, mereka harus melalui serangkaian sengketa dengan Sudan. Setelah kemerdekaannya, Sudan mengambil 75% total cadangan minyak mereka. Sudan Selatan juga membutuhkan fasilitas minyak dan pelabuhan di Khartoum untuk mengekspor hasil tambang mereka.

Kelima, terjadi bencana alam banjir yang membuat ratusan ribu orang kehilangan rumah pada 2019. Banjir datang tiga tahun berturut-turut setelah itu. Pada 2021, hujan turun selama lebih dari enam bulan, dan berdampak pada empat negara bagian di area utara dan timur negara tersebut. Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 700.000 orang kehilangan tempat tinggal karena hujan deras.

Lima permasalahan di atas menjadi sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar, rumit dan menantang bagi Gereja Katolik Sudan Selatan. Namun hal pertama yang mesti mereka ciptakan adalah damai bagi seluruh rakyat Sudah Selatan. Hanya melalui damai itu, warga Sudan selatan dapat membangun kehidupan mereka secara lebih baik dan benar.

Situasi Gereja Katolik

Gereja Katolik di Sudan Selatan memiliki satu provinsi gerejawi dengan satu keuskupan agung dan enam keuskupan sufragan. Hingga saat ini ada 31 uskup di Sudan Selatan. Para uskup Sudan Selatan dan Sudan saat ini membentuk satu konferensi uskup tunggal, yaitu Konferensi Waligereja Sudan.

Menurut World Christian Encyclopedia, Gereja Katolik merupakan badan Kristen tunggal terbesar di Sudan sejak tahun 1995, dengan 2,7 juta umat Katolik yang mendiami Sudan Selatan. Saat ini, 37,2% dari penduduk beragama Katolik, dengan sekitar 6,2 juta umat Katolik dari total penduduk 16,7 juta.

Pada tahun 1900, Monseigner Antonio Riveggio mendirikan sebuah misi di Lul. Pada tahun 1904, tiga misi lagi dimulai di Bahr al-Ghazal. Pada tahun 1905, umat Katolik membuka Stack Memorial School sebagai pusat misi dan mempersiapkan anak-anak kepala suku untuk bekerja di pemerintahan kolonial. Pada Februari 1907, Pastor Paolo Maroni membaptis 8 orang Kristen pertama di Kangnjo. Pada tahun 1913, antara 200 dan 300 orang Selatan telah dibaptis di Wau. Wau menjadi pusat administrasi Vikariat Apostolik pada tahun yang sama. Keuskupan tersebut menjadi sebuah keuskupan pada tahun 1974.

Ketika pemerintah ingin meningkatkan kerja sama dengan misi di bidang pendidikan pada tahun 1920-an, misi Katolik berbeda dengan misi Protestan karena mereka yakin pemerintah harus membantu Gereja mendidik warga Sudan Selatan. Sekolah teknik Comboni di (Bahr el Ghazal) memiliki anak laki-laki yang belajar pertukangan, pemasangan batu bata, dan berkebun. Anak perempuan belajar agama, bahasa Inggris, menjahit, dan kebersihan.

Bahasa pengajaran sekolah banyak dibahas pada tahun 1930-an, dengan beberapa sekolah Katolik menggunakan bahasa lokal dan sekolah lain berpendapat bahwa lebih baik menggunakan bahasa Inggris. Asosiasi anak laki-laki untuk alumni beberapa sekolah juga dibentuk pada tahun 1930-an dan 1940-an untuk mempromosikan keterlibatan antaretnis. Meski demikian, beberapa lulusan sekolah misi Dinka percaya bahwa mereka menerima perlakuan yang tidak sama dari Gereja Katolik. Mereka percaya itu karena Dinka dianggap terlalu mandiri bagi Gereja. Beberapa imam menolak untuk duduk di tanah atau minum air di kompleks Dinka. Beberapa langsung mencuci tangan setelah bersalaman dengan etnis Dinka.

Paus disambut di Kongo

Apa yang mesti dibuat? Tentu saja sesuai dengan seruan Bapa Suci Fransiskus pada misa penutup perjalanan apostiknya, Minggu (5/2), berjudul Ziarah Ekumenis, gerakan kebersamaan dalam oikumene mesti senantiasa ditingkatkan di Negara yang didiami berbagai etnis dan agama. Lantas hal juga mesti diperhatikan sungguh-sungguh, menurut Paus Fransiskus, adalah generasi muda yang mesti senantiasa memelihara harapan bagi masa depan yang lebih cerah.

Tentu saja santa pelindung Negara, yaitu Josephine Bakhita yang lahir di Darfur namun pada usia enam tahun diculik, mesti menjadi panutan bagi bangsa dan Negara ini. Meski dia dijual hingga tiga kali sebagai budak, dia kemudian menjadi tokoh panutan dalam melayani sesamanya yang menderita.

Frans de Sales SCJ (dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here