HIDUPKATOLIK.COM – Udara sejuk khas dataran tinggi Kiawa menyambut kedatangan saya di pintu gerbang biara OCD (Ordo Carmelitarum Discalceatorum). Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota ini, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan ruang bagi jiwa untuk bernapas kembali. Saya datang membawa kerinduan akan keheningan, dan Biara ini segera membalut saya dengan ketenangan yang dalam.
Kehadiran saya disambut hangat oleh para penghuni biara, terutama oleh Pater Agus, Pater Adam, dan Pater Dani. Keramahan mereka bukan sekadar basa-basi formalitas, melainkan sebuah keterbukaan hati yang tulus. Dalam bincang-bincang santai, saya merasakan kebijaksanaan terpancar dari kesederhanaan tutur kata dan sikap hidup mereka yang bersahaja.

Di koridor-koridor biara, saya juga berjumpa dengan para frater postulan yang sedang dalam masa awal pembentukan diri. Wajah-wajah muda ini memancarkan binar semangat yang sangat menyegarkan. Meskipun mereka berada dalam masa pencarian dan pengolahan batin, aura optimisme terpancar kuat dari setiap sapaan dan senyum yang mereka berikan kepada tamu seperti saya.
Suasana biara ini benar-benar didominasi oleh keheningan yang berkualitas. Namun, keheningan di sini bukan berarti kesunyian yang kosong, melainkan sebuah “suara” yang mengajak saya untuk masuk ke dalam diri. Keheningan ini dijaga dengan penuh disiplin, menciptakan ruang bagi setiap individu untuk berkomunikasi secara lebih intim dengan Sang Pencipta.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat mendengarkan dari balik kamar doa brevir atau doa bersama dalam ritme hidup membiara. Melodi Mazmur yang didaraskan dengan tenang menciptakan harmoni yang menyentuh relung hati terdalam. Di dalam biara OCD, saya merasa ditarik keluar dari hiruk-pikuk ego pribadi menuju sebuah kesadaran akan keilahian yang menetap.
Di sela-sela waktu senggang, saya berkesempatan untuk duduk melingkar bersama para frater postulan. Momen ini menjadi ruang berbagi yang sangat cair dan akrab. Kami tidak membicarakan hal-hal yang rumit, melainkan berbagi tentang esensi keberadaan manusia di dunia yang terus berubah dengan sangat cepat ini.
Saya membagikan refleksi saya kepada para frater tentang tiga pilar yang saya pegang: hidup, cara hidup, dan menghidupi hidup. Saya menekankan bahwa hidup adalah anugerah, namun cara kita menjalani hidup adalah pilihan sadar yang menentukan kualitas diri. Sedangkan menghidupi hidup berarti memberikan makna dan api pada setiap napas yang kita hirup agar tidak menjadi rutinitas belaka.
Para frater mendengarkan dengan antusias, sesekali mereka memberikan tanggapan yang bernas dari sudut pandang panggilannya. Diskusi ini menjadi pertukaran energi yang luar biasa bagi saya pribadi. Saya belajar dari keberanian mereka melepaskan kenyamanan duniawi, sementara mereka belajar dari pengalaman konkret saya dalam bergulat dengan dinamika hidup di luar tembok biara.
Selama dua malam bermalam di sana, saya merasakan perubahan dalam ritme batin saya. Tubuh dan pikiran yang tadinya lelah karena perjalanan dan beban pekerjaan, perlahan-lahan kembali segar. Tidur di dalam kesunyian biara memberikan kualitas istirahat yang sulit didapatkan di tempat lain, di mana alarm pagi digantikan oleh bunyi lonceng kapel yang lembut.
Saya sangat terkesan dengan ekspresi semangat yang ditunjukkan oleh komunitas ini. Meskipun mereka hidup dalam aturan yang ketat dan penuh askese, tidak nampak wajah yang tertekan atau muram. Sebaliknya, kegembiraan justru muncul dari ketulusan mereka dalam melayani dan menjalani kaul-kaul yang telah mereka pilih dengan penuh kesadaran.
Ketika tiba saatnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan, ada rasa syukur yang membuncah di dada. Dua malam di Kiawa telah menjadi oase yang memulihkan kekuatan batin saya. Pengalaman ini bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan sebuah ziarah kecil yang mengingatkan saya untuk selalu membawa “keheningan batin” ke mana pun saya melangkah.
Saya meninggalkan Biara Karmel La’un Dano, Kiawa dengan senyuman, membawa serta doa-doa dari para pater dan frater. Kenangan akan keramahan mereka dan kedalaman diskusi tentang makna hidup akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan saya selanjutnya. Saya melangkah pergi dengan semangat yang baru, siap untuk kembali menghidupi hidup dengan lebih bermakna.
Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan





