web page hit counter
Kamis, 8 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Dari Seminar Natal Nasional 2026: Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan

2.3/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Seminar Natal Nasional 2026 merupakan rangkaian kegiatan Natal yang diselenggarakan sejak bulan November 2025. Acara yang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, lembaga, dan lintas agama ini mengambil tema  Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga (Matius 1: 21-24).

Selain di Jakarta, Seminar Natal Nasional juga diselenggarkan di 9 kota seperti Bandung, Manado, Ruteng, Ambon dan Maumere dengan tema besar yang sama. Sub tema di masing-masing kota memiliki penekanan tertentu seperti Dampak Judi Online, Pinjaman Online serta Ekologi.

Inti dan semangat seminar nasional menekankan peran keluarga sebagai “gereja terkecil” tempat Allah berkarya dan menyelamatkan.

Sedangkan pesan utamanya adalah megajak umat untuk menjawab krisis dengan menghidupi kasih, iman, dan ketaatan, serta memperkuat ketahanan keluarga.

Seminar ke sepuluh diselenggarakan pada 29 Januari 2026 di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten.

Ki-ka:James T. Riady, Prof Stella Christie, Ketua Panitia Natal Nasional Maruarar Sirait, Menteri Agama Nasaruddin Umar (kedua dari kanan) dan moderator

Panitia yang diketuai oleh Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP)  ini,  mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial terpadu seperti bantuan bencana alam di 4 propinsi sejumlah 2.8 M (Semeru dsk, Medan dsk, Aceh dan Padang); bantuan pendidikan kepada 1.000 orang; 35 ambulans di 10 wilayah Indonesia; renovasi 100 gereja; 20.000 alkitab yang didistribusi ke seluruh Indonesia; 1.000 kursi roda; pembangunan 2 jembatan gantung di Papua; dan mendatangkan 3.000 tamu kehormatan (terdiri dari guru, Paduan suara, anak-anak sekolah minggu) untuk perayaan Natal nasional di Jakarta.

Bantuan dan dukungan penyelenggaraan juga diterima dari berbagai organisasi Gereja yakni PGI, KWI, Gereja Pentakosta, Baptis, Advent, Balai Keselamatan, Injili, Ortodoks. Kebersamaan penyelenggaraan Natal tampak dari dukungan berbagai pihak, yakni  dana yang disumbang oleh umat Islam sejumlah 10 M, dan 5M beserta paket sembako dari umat Budha. Panitia juga memberikan sumbangan kepada Palestina. Total dana gotong royong Natal Nasional terkumpul sebanyak Rp. 50.650.000.000,-

Hadir sebagai pembicara dalam seminar nasional di Jakarta pada 3 Januari 2026 ini antara lain Menteri Agama, Wamen Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pengusaha James T. Riady dengan Moderator Pendeta Justitia Vox Dei Hattu. Selain itu tampil menyampaikan materi diantaranya Anna Surti Ariani dari Komisi Keluarga KWI serta Hening Parlan, aktivis lingkungan dan Wakil Ketua Majeis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah. Sambutan disampaikan oleh Ketua Panitia Natal Nasional 2025, Maruar Sirait.

Tantangan Keluarga

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) mengawali presentasinya dengan pertanyaan reflektif, kapan terakhir Anda makan malam bersama keluarga? Banyak peserta menjawab, saat Natal. Ada pemikiran bahwa berbicara saat makan tidak baik, namun bagaimana filosofi di balik berbincang saat makan bersama keluarga? Mengacu pada sebuah penelitian yang dikenal dengan video Baby Einstein bahwa anak-anak menjadi lebih pintar dengan menonton video. Video Baby Einstein merupakan seri edukasi untuk bayi dan balita yang diperkenalkan pada tahun 1996 oleh Julie Aigner-Clark. Ia menggunakan musik klasik, boneka, dengan pola sederhana melalui objek sehari-hari untuk merangsang perkembangan kognitif, bahasa dan kreativitas. Meskipun efektivitasnya sempat menjadi kontroversial karena orangtua lebih disarankan untuk berinteraksi langsung dengan anak. Terkait dengan hal ini Stella Christie kelahiran Medan, Sumatera Utara ini mengemukakan hasil penelitian yang mengamati 3 kasus anak menonton yakni ketika anak dengan orangtua saja, kemudian anak dengan video, dan anak dengan video dan orangtua. Hasil penelitian menunjukkan yang terbaik adalah ketika anak berinteraksi hanya bersama orangtua dimana mereka dapat berbicang-bincang lebih banyak.

Baca Juga:  Lebih dari 33,5 Juta Penziarah Datang ke Roma Selama Tahun Yubileum
Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (kiri) menyampaikan meteri dalam seminar.

Ada tiga alasan terjadi dalam keluarga yang merupakan tantangan hidup di metropolitan saat ini. Pertama, anak tidak bisa makan tanpa ipad; kedua, anak perlu belajar dari menonton dan ketiga, orangtua sangat sibuk. Hal ini dikemukan Prof. Stella Christie, dalam Seminar Natal Nasional, 3 Januari 2026 yang diselenggarakan di kampus Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT),  Jakarta ini. Ilmuwan kognitif yang selalu berbicara berdasarkan data ini, memaparkan pentingnya berkomunikasi antar anggota keluarga saat makan bersama. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita pahami terlebih dulu, apa itu Cognitive Science? Ilmu kognitif adalah studi yang mempelajari bagaimana otak bekerja, berfungsi, hingga berperilaku. Mengacu pada EduBridge (Oktober 2024), sebagai studi interdisiplin, ilmu ini menggabungkan berbagai bidang relevan lainnya seperti ilmu saraf, psikologi, antropologi, filsafat, linguistik, atau  Artificial Intelligence (AI) guna memahami cara otak berproses serta mengambil keputusan. Studi ini juga mempelajari ilmu bahasa, termasuk hubungan antara strutur bahasa, proses pemahaman bahasa, dan dasar saraf yang mendukungnya. Sejak tahun 1950-an, ilmu ini semakin dikenal seiring dengan banyaknya peneliti yang mempelajari cara manusia berepikir dan menerima informasi.

Pertanyaan Filosofis

Melalui perbincangan keluarga di meja makan akan muncul pertanyaan-pertanyaan penting dimana orangtua dapat langsung memberi jawaban kepada anak-anak. Profesor lulusan  Harvard University ini juga menjelaskan, dalam sebuah eksperimen menunjukkan bahwa anak-anak berusia 4 tahun memiliki banyak pertanyaan yang sifatnya fisosofis seperti kenapa saya harus makan?; kenapa saya harus tidur padahal saya tidak mengantuk?; kenapa saya tidak boleh bermain? Kemudian ketika anak melihat orangtuanya bertengkar, ia akan bertanya kenapa ibu mau menikah dengan bapak jika tidak menyukai dia? Jawaban terhadap pertanyaan-petanyaan tersebut dapat bermacam-macam. Contoh, apa jawaban ortu jika anak bertanya: “mengapa saya harus makan?. Beberapa jawaban klise mungkin dapat muncul misalnya “supaya kamu tumbuh besar”, “supaya tidak sakit”. Jawaban ini tidak salah, tetapi coba bandingkan dengan jawaban eksplanatif lainnya yakni : “Mobil jika tidak diisi bensin tidak akan bisa jalan. Demikian kamu jika tidak makan juga tidak punya energi, tidak bisa bermain dengan teman-teman”. Jawaban seperti ini dari sisi struktur fisika akan menimbulkan rasa ingin tahu dan belajar lebih banyak dari seorang anak tentang dunia.

Baca Juga:  Paus Leo XIV Menutup Pintu Suci, Mengakhiri Tahun Yubileum Harapan

Kesimpulannya, berbicara saat makan merupakan cara belajar yang menjadikan anak lebih aktif melalui tanya jawab langsung dengan orangtua ketimbang mereka mencari jawaban  dari  gadget/hp. Disamping itu, melalui percakapan antara anak dengan orangtua, dapat menimbulkan kenangan yang akan diingat oleh anak-anak ketika mereka sudah beranjak dewasa. Hal ini juga menjadi semacam nilai-nilai yang ditanamkan kepada orangtua kepada anak-anaknya. “Kita bisa mencoba dengan menanyakan kepada anak, apa yang mereka ingat akan kata-kata orangtua ketika kecil. Jika jawabannya ragu atau tidak jelas, maka dapat kita simpulkan tak ada kata-kata yang penting terekam dalam benaknya,” jelas Prof. Stella Christie. Banyak orangtua menasehati anak-anak, misalnya: “Dengan rajin belajar kamu akan dapat meraih cita-cita, menjadi seperti apa yang kamu mau. Atau: “setelah bangun tidur berdoalah, awali hari dengan baik”; “rapihkan tempat tidurmu sendiri”. Anak-anak akan mengingat kata-kata orangtua yang terus menerus diulang dan dijelaskan maksudnya, menjadikan mereka disiplin dan memiliki kebiasaan hidup yang baik.

Pengaruh Influencer

Mari kita bandingkan dengan saat ini dimana anak-anak akan lebih mudah mengingat kata-kata dari para influencer melalui media sosial. Artinya mereka lebih mengenal orang yang sebetulnya tidak mereka kenal. Mengutip dari presentasi Prof. Stella Christie pada kegiatan “Refelksi Akhir Tahun, Pameran Infografis Hasil Riset, dan Monev Akhir Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Tahun 2024,” bahwa pendidikan inklusif penting dalam keluarga yakni tetang apa yang perlu dicanangkan, bagaimana cara mengajarkan agama sehingga bagi siswa agama itu menjadi bagian dari moral bukan sesuatu yang harus mereka pelajari karena ada ulangan di sekolah. Hal ini penting untuk dijawab sehingga menjadi kebijakan di berbagai bidang. “Kita adalah manusia yang diberi kemampuan untuk dapat menghadapi tantangan hidup berdasarkan nilai-nilai yang ditumbuhkan dalam keluarga,” jelas Prof. Stella Christie yang mengaku terpisah sementara waktu dengan keluarga yang tinggal di lain negara semata mengemban tugas untuk Tanah Air dari Presiden Prabowo.

Baca Juga:  Makan Siang Natal Katedral, Kardinal Suharyo dan Romo Hani Menjadi Pelayan Tamu

Pembicara lainnya, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA (Menteri Agama) menjelaskan bahwa dalam setiap keluarga anak-anak bertumbuh tak hanya melalui orangtua biologis yakni ibu yang melahirkannya dan ayah yang membesarkannya. Tetapi ada juga orangtua spiritual atau orangtua sosial yang turut memengaruhi perkembangan mereka. Dengan demikian tidak selalu anak yang tumbuh dalam keluarga utuh akan lebih baik daripada anak yang tumbuh dari seorang ibu Tunggal dan sebaliknya. Misalnya, Nabi Musa juga dibesarkan oleh orangtua Tunggal yakni ibunya; atau Nabi Muhammad yang ditinggal mati bapaknya. Banyak tokoh-tokoh penting dilahirkan dari keluarga yang justru tidak utuh. Tidak mesti juga seorang suami yang jahat pasti memiliki isteri yang jahat pula. “Isteri yang paling soleh dalam Alquran itu adalah isterinya Firaun,” jelasnya. Maka adalah penting anak-anak dibesarkan berdasarkan nilai-nilai dalam keluarga, sehingga mereka memiliki role model. Jika keluarga rusak, maka masyarakat akan rusak, selanjutnya negara juga akan rusak.

Ketahanan Keluarga

Pembicara berikutnya, James Riady seorang pengusaha, co-founder dari Yayasan Pendidikan Pelita Harapan. Ia menekankan dalam keluarga anak belajar kasih, disiplin dan pengampunan. Sehingga Natal tak hanya selalu dengan perayaan-perayaan atau seremonial tetapi bagaimana damai itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari dalam keluarga. Dikemukakan pula, generasi muda sebagai calon pemimpin perlu memiliki pengetahuan, iman, dan karakter yang berdasarkan pada prinsip-prinsip agama. Dr. Ali Maulana Hakim, yang mewakili Gubernur DKI dalam sambutannya mengingatkan bahwa Jakarta masih disebut sebagai Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kota ini akan menjadi kota global, berbudaya dan inklusif.  “Dimaksud di sini adalah tak ada satu warga yang tertinggal dalam setiap aspek pembangunan, dan semua agama memperoleh perhatian serta hak untuk menjalani ibadah masing-masing,” ungkapnya.

James T. Riady

Menurut Ali Maulana, saat ini Monas sudah dibuka untuk kegiatan perayaan hari besar. Konsep Natal tahun 2025 adalah kolosal, Christmas Carol yang melibatkan 1.000 paduan suara di Bundaran HI dan sekitarnya dalam kurun jelang Natal. Diharapkan hasil seminar ini tak sekadar memberi rekomendasi tetapi perlu dilakukan yakni bagaimana secara bersama mengupayakan ketahanan keluarga. Menurutnya, masalah keluarga masih mengacu pada persoalan pengasuhan anak, kekerasan, tawuran, sex bebas, serta gizi. “Ibadah tak hanya di rumah, maka bagaimana seluruh tempat ibadah mengambil peran aktif agar keluarga dapat terselamatkan. Berpikir besar tetapi mulai dari yang terkecil yakni keluarga,” tegas Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Privinsi DKI Jakarta.

Mathilda AMW Birowo (Kontributor, Jakarta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles