spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Tidak Cukup Sampai pada Kesadaran Ekologis Saja

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – SEJAK mendiang Kardinal Jorge Mario Bergoglio memilih nama Fransiskus dari Assisi sebagai nama kepausannya pada 13 Februari 2013, sosok Santo Fransiskus seakan hidup kembali dalam kehidupan Gereja. Fransiskus dari Assisi, pendiri Ordo Fratrum Minorum (OFM) pada awal abad ke-13 (tahun 1209), dikenal karena kesederhanaan hidupnya, persaudaraan, pelayanan, dan kedalaman mistiknya bersama Kristus, serta kedekatannya dengan alam ciptaan. Ketika seorang Paus dari Serikat Jesus memilih nama Fransiskus, banyak orang terkejut. Namun pilihan itu justru menegaskan arah baru kepemimpinannya: Gereja yang sederhana, peduli pada sesama, dan peka terhadap kelestarian bumi.

Semangat ekologis Santo Fransiskus kemudian semakin nyata dalam kepemimpinan Paus Fransiskus. ‘Terinspirasi’ oleh spiritualitas tersebut, ia menerbitkan dua ensiklik penting, yaitu Laudato Si’ dan Fratelli Tutti. Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “Rumah Bersama” yang harus dijaga oleh seluruh umat manusia. Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan alam, melainkan juga persoalan moral dan kemanusiaan. Sementara itu, Fratelli Tutti menekankan pentingnya persaudaraan universal dan solidaritas global dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis ekologis.

Baca Juga:  Menjelang Kunjungan Apostolik ke Benua Afrika, Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Perdamaian, Bukan Perang dan Kehancuran

Komitmen terhadap persaudaraan dan tanggung jawab bersama atas bumi juga terlihat ketika Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb, menandatangani Deklarasi Abu Dhabi pada tahun 2019. Deklarasi tentang Persaudaraan Insani ini menjadi simbol kuat kerja sama lintas agama demi perdamaian dan kelestarian dunia.

Sayangnya, berbagai peringatan itu semakin relevan di tengah kenyataan dunia saat ini. Perubahan iklim, mencairnya es di Antartika, pembalakan hutan, serta kerusakan ekosistem telah membawa dampak nyata bagi kehidupan manusia. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya bencana alam, termasuk banjir bandang yang pada akhir tahun 2025 melanda beberapa wilayah di Asia, termasuk Indonesia. Beberapa provinsi di bagian barat Pulau Sumatra seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat turut merasakan dampaknya.

Baca Juga:  Menanggapi Situasi di Timur Tengah, Paus Leo: Kita Tidak Bisa Tinggal Diam

Dalam konteks inilah sejumlah keuskupan di Indonesia mengangkat tema pertobatan ekologis pada Masa Prapaskah 2026. Umat diajak untuk tidak hanya memahami krisis lingkungan, tetapi juga melakukan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan Laudatosi Indonesia (GLI), misalnya, telah mengambil langkah konkret dengan menyusun buku panduan pendidikan lingkungan bagi anak-anak dan remaja.

Kesadaran masyarakat juga terlihat dalam perjuangan warga di Sumatra Utara yang menuntut penutupan perusahaan yang dinilai merusak lingkungan. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, menyetujui penutupan perusahaan tersebut.

Pertobatan ekologis tidak cukup berhenti pada kesadaran. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari hal sederhana seperti menaruh sampah pada tempatnya dan menghemat air, hingga kebijakan publik yang berpihak pada keseimbangan alam. Jika setiap orang mengambil bagian, bumi sebagai Rumah Bersama dapat tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Baca Juga:  Membutuhkan Keteladanan sebagai Kunci

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.11, Minggu, 15 Maret 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles