spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

DALAM SIMPOSIUM INTERNASIONAL 2026, IFTK LEDALERO ANGKAT TEMA AGAMA, MEDIA, DAN BUDAYA DI ASIA TENGGARA

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COMMatahari belum benar-benar tenggelam, saat sejumlah mahasiswa, dosen, dan tamu undangan mulai memasuki Auditorium Maksimum, Kampus II, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere pada Kamis, 19 Februari 2026 .

Bekerja sama dengan Asian Research Center for Religion and Social Communication Saint John’s University, Bangkok, Thailand, IFTK Ledalero menyelenggarakan symposium international bertema Religion, Media, and Culture in Southeast Asia.

Suasana simposium

Simposium yang berlangsung dari 19-21 Februari 2026 ini akan menghadirkan sejumlah keynote speakers dan panelist yang datang dari beragam disiplin ilmu yang berbeda. Sebut saja antara lain, Dr. Benjamina Paula G. Flor dan Prof. Dr. Alexander Gonzales Flor, keduanya merupakan ahli ilmu komunikasi dari University of the Philippines Los Banos.

Hadir juga Dr. Enqi Weng, seorang peneliti di bidang sosiologi sekaligus dosen di Deakin University, Australia, dan Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, seorang peneliti dan dosen dalam bidang teknologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Serta, Dr. Anthony Le Duc, SVD Direktur Eksekutif Asian Research Center for Religion and Social Communication (ARC) di Saint John’s University, Thailand.

Pada hari pembukaan simposium internasional, hadir beberapa petinggi IFTK Ledalero, para dosen, mahasiswa, dan sejumlah pembicara. Dalam mukadimahnya, Rektor IFTK Ledalero, Prof. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD mengatakan bahwa semakin hari, manusia semakin dituntut untuk lebih kritis dan bijaksana menggunakan teknologi.

Alasannya, ia menambahkan, karena perkembangan infrastruktur teknologi justru dimanfaatkan oleh “penguasa” untuk mengontrol dan mengawasi masyarakat, termasuk ketika isu-isu agama digitalisasikan dalam media sosial. “Mechanisms such as electronic registration systems, online monitoring of religious content, and the enforcement of laws related to blasphemy and hate speech illustrate how digital infrastructures intersect with religious governance” ujar orang nomor satu di IFTK Ledalero ini.

Mengaminkan pendapat ini, Dr. Anthony Le Duc, dalam sambutannya, mengatakan bahwa dunia digital telah merekonstruksi ulang penghayatan dan pemahaman manusia terhadap agama dan budaya. “What we see in the media affects how religion is perceived: whether it is understood as a source of meaning and solidarity, or as something outdated, contested, or even threatening” ujar imam SVD ini. Berangkat dari alasan tersebut, simposium ini diselenggarakan untuk menyediakan ruang-ruang kritis, sekaligus agar penelitian seputar agama, media, dan budaya menjadi concern setiap orang.

Baca Juga:  "KEBISINGAN" YANG MENENGGELAMKAN SUARA HATI

Pada hari pertama simposium, Dr. Benjamina Paula G. Flor berkesempatan membawakan materi seputar diskursus sakralitas agama dalam ruang-ruang digital. Di bawah tema Embodying The Sacred in the Digital Age: A Mediated Communication Approach, Dr. Benjamina berpendapat bahwa ruang digital yang terbentuk akibat dari perkembangan teknologi, turut membawa serta atribut dan nilai-nilai agama ke dalamnya.

Dr. Benjamina memandang fenomena ini sebagai sebuah hal yang baik. “I feel that attending online Mass is more efficient, not only because it saves time and money, but also because it tests my devotion and faith” katanya dengan dialek Filipina yang kental. Pandangan Dr. Benjamina ini tentu menuai beragam respon dari audiens, dan salah satu yang paling keras menggugat tesis Dr. Benjamina ini adalah Pater Bernard Boli Udjan, SVD.

Mantan anggota Komisi Liturgi KWI ini mengatakan bahwa sakramen (ekaristi) tidak dapat dihadirkan lewat media sosial, karena itu mengikuti misa secara online berarti meniadakan sakramen ekaristi dari yang seharusnya diterima. “Memang benar bahwa banyak hal baik dijumpai lewat media sosial, tetapi perlulah digaris bawahi bahwa sakramen tidak sungguh dirayakan sebagaimana mestinya ketika di bawa ke dalam ruang digital” ujar dosen Liturgi di IFTK Ledalero ini.

Padatnya Hari Kedua

Memasuki hari kedua, sawala semakin padat, ditandai dengan topik pembahasan yang semakin beragam. Panelis pada simposium hari kedua adalah Dr. Leonard, Dr. Anthony, dan Prof. Alexander. Ketiga panelis ini membawakan topik pembahasan tentang penggunaan media sosial. Menurut Dr. Leonard, tingginya intensitas penggunaan gadget oleh manusia saat ini perlu dibatasi.

Senada dengan itu, Dr. Anthony berpendapat bahwa kemajuan teknologi telah menciptakan ruang-ruang baru dalam media sosial. Dalam ruang-ruang ini, Dr. Anthony berharap agar orang muda dapat menjadi perantara yang menjembatani dialog di tengah komunitas masyarakat yang jamak.

Ruang-ruang itu, oleh Prof. Alexander, dalam presentasinya, dianggap sering menimbulkan gap-gap komunikasi antar agama, yang di zaman ini sering terjadi dalam ruang-ruang virtual (baca: media sosial). Selain Dr. Leonard, Dr. Anthony, dan Prof. Alexander, siomposium hari kedua ini juga menghadirkan sejumlah pembicara lain.

Baca Juga:  Pesan Paus Leo pada Misa Kamis Putih di Basilika Lateran: Kita Dipanggil untuk Melayani Umat Allah dengan Seluruh Hidup Kita

Salah satu pemateri yang hadir ialah Felisita Winanda Oka, yang membawakan materi seputar komodifikasi agama dan percintaan dalam media sosial. Di bawah tema, The Commodification of Religion and Love: Courtship Practice among Young Catholics on the Instagram Account @grup_singlekatolik, mahasiswa pasca sarjana UGM ini berpendapat bahwa simbol-simbol agama dan urusan percintaan menjadi komoditas paling laku di pasar medsos. “Fenomena ini dapat ditemui dalam akun instagram @grup_singlekatolik, dengan ekosistem multi-platformnya yang saling terintegrasi” ungkapnya.

Selain Felisita, simposium ini juga memberi kesempatan kepada sejumlah kelompok mahasiswa IFTK Ledalero – yang penelitiannya lolos penilaian – untuk memaparkan hasil kajian mereka, misalnya kelompok Atanasius, dkk. Bersama beberapa temannya, Atanasius mengangkat persoalan penghayatan ekologi dalam diri generasi muda.

Objek penelitian mereka ialah mahasiswa di STIKES St. Elisabeth, Maumere. Tidak berhenti di situ, simposium ini juga menghadikran Romo Patris Neonub – akrab disapa Romo Patris Aleggro. Apologet Katolik yang aktif menyebarkan ajaran Gereja lewat medsos ini membawakan materi berjudul Algorithmic Radiance: Viral Aesthetic, Thomistic Beauty, and the Digital Self in Southeast Asia.

Padatnya simposium hari kedua ini tidak menyurutkan semangat para pemateri juga para peserta. Antusiasme ini ditunjukan oleh banyaknya pertanyaan dari para peserta, dan diskusi yang berjalan alot antara pemateri dan peserta. Menyikapi hal ini, para pemateri justru tampak bergembira, dan Felisita salah satunya. “Meski saya agak nerveous karena ini pengalaman pertama saya membawakan materi di simposium internasional, tapi saya senang diberi kesempatan ini” ujar penerima beasiswa LPDP 2023 ini ketika di wawancarai.

Di Penghujung Simposium

Iklim diskusi yang hangat tetap bertahan hingga hari ketiga simposium, pada Sabtu, 21 Februari 2026. Seperti pada hari-hari sebelumnya, simposium hari ketiga ini dibagi menjadi beberapa sesi.

Pada sesi pertama, Dr. Enqi Weng membawakan materi bertema Sticky Media Discourses and “Empire Religion”.

Dalam pemaparannya, peraih doktor bidang filsafat dari RMIT University ini mengulas polemik seputar agama sebagai pembebasan atau kolonialisme.

Baca Juga:  Merangkai Identitas Baru dalam Kasih Kristus

Selanjutnya, pada sesi kedua dan ketiga, giliran mahasiswa IFTK Ledalero yang memaparkan kajian mereka.

Kelompok pertama yang diketuai Emanuel Rizan Pryatno ini memaparkan kajian berjudul Faith into Action: Ecological Practice of Catholic Students Viewed from the Perspective of Laudato Si (Case Study of St. John Paul II Catholic High School in Maumere).

Sedangkan, kelompok kedua, Wishal Ambrosae, dkk. memaparkan materi berjudul, Fostering Ecological Consciousness in Catholic Youth: A Case Study of Environmental Awareness and Practice in SMA Negeri 1 Ndoso, NTT.

Secara umum, kedua kelompok ini menyoroti perkembangan isu lingkungan hidup di lingkungan pelajar, dan sejauh mana seruan keberpihakan terhadap alam seturut Laudato Si’ menjadi bagian dari pewartaan iman saat ini.

Setelah semua sesi pemaparan materi dan tanya jawab berakhir, menandakan simposium internasional telah sampai di penghujung.

Sebelum simposium internasional ini resmi berakhir, dilangsungkan seremoni penerimaan sertifikat kepada para pemateri, moderator, dan peserta, juga untuk mendengarkan sambutan dari penyelenggara simposium.

Dalam sambutannya, Dr. Wilibaldus Gaut, selain berterima kasih dan mengapresiasi kerterlibatan banyak pihak dalam kegiatan berskala internasional ini, ia juga menyampaikan beberapa hal lain. Doktor lulusan Universitas Leuven, Belgia ini menegaskan bahwa diangkatnya tema; agama, media, dan budaya merupakan jawaban atas fenomena interseksi ketiga hal ini di Asia Tenggara.

Lebih dari itu, ia menambahkan, penyelenggaraan simposium ini merupakan wujud keseriusan IFTK Ledalero dalam menyikapi perkembangan teknologi, yang telah masuk dalam ruang-ruang agama dan budaya. Apalagi sejak beberapa tahun lalu, institusi ini telah berkembang dan menaruh perhatian yang sama pada kajian-kajian teknologi.

Dosen Teologi di IFTK Ledalero ini juga berharap agar ke depannya, semakin banyak orang muda (baca: mahasiswa) yang peka dan mampu membaca realitas di sekitar, termasuk dalam kaitannya dengan isu teknologi, agama, dan budaya. “Harapannya agar banyak mahasiswa memiliki basic teoritis yang kuat agar mampu membaca realitas secara kritis dan bijaksana” ujar imam SVD ini.

Laporan: Fr. Alfian Tanggang, SVD/Fr. Dionisius Rienaldi Pea Muga, SVD (Maumere)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles