UMAT PEDULI JAKARTA BEBAS SAMPAH

92
Posko timbang sampah Dinas Kebersihan DKI Jakarta di Paroki Rawamangun.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]

HIDUPKATOLIK.comUmat Katolik Keuskupan Agung Jakarta mengampanyekan Jakarta bebas sampah pada Hari Sampah Nasional. Beberapa paroki mengurangi penggunaan botol minuman kemasan.

Pagi itu, Minggu, 21/2, umat Paroki Keluarga Kudus Rawamangun, Jakarta Timur, berkumpul di halaman gereja. Tampak sekitar 50 petugas Dinas Kebersihan berbaur bersama umat. Satu mobil sampah juga telah bersiap. Hari itu, umat bersama para petugas kebersihan turun ke jalan menggelar kegiatan bersih-bersih sepanjang Jalan Balai Pustaka, jalan yang melintas di depan Gereja Rawamangun. Sampah hasil pungutan kemudian ditimbang Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang membuka posko timbang sampah anorganik.

“Jadi, umat yang menimbang sampah hasil pungutan akan dibayar oleh Dinas Kebersihan. Ini baru pertama kali kami adakan. Semoga bisa mengispirasi banyak umat dan tersebar ke paroki lain,” ujar Ketua Seksi Lingkungan Hidup Paroki Rawamangun, Lucia Mona Hartari Windoe. Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim yang hadir dalam acara ini menyambut baik inisiatif umat Katolik yang turut serta membantu pemerintah menjaga kebersihan Jakarta.

Ratusan umat Katolik juga berbaur bersama lebih dari 3000 warga Jakarta dalam kampanye “Buang Sampah pada Tempatnya” saat pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu, 21/2. Mereka mengenakan berbagai atribut bertuliskan “Kampanye Anti Sampah”, “Cinta Jakarta Keren, Tapi Kok Nyampah”, serta slogan-slogan yang lain. Sembari memungut sampah, umat bersama warga tak henti meneriaki yel-yel, “Buang sampah pada tempatnya!” Sampah hasil pungutan tersebut dimasukkan ke dalam truk milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang parkir di bahu-bahu jalan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang hadir dalam acara ini mengatakan, masyarakat Jakarta harus menyadari dampak terbesar bila Jakarta kotor. “Masyarakat Jakarta kerap berteriak banjir, tetapi ajakan hidup bersih tidak dihiraukan!” ucap Siti Nurbaya. Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, pemerintah akan menjalankan program mengurangi penggunaan kantong plastik. Maka Djarot berkata, “Warga yang berbelanja hendaknya membawa tas atau kantong sendiri.”

Gerakan bersama
Ajakan peduli terhadap lingkungan hidup dan sampah sebenarnya bukanlah hal baru dalam Gereja Katolik. Melalui beragam cara, Gereja menggerakkan umat agar semakin sadar dan peduli dengan alam sekitar. Gerakan yang telah diupayakan beberapa paroki adalah dengan mengurangi penggunaan botol minuman kemasan. Salah satu paroki yang aktif mengampanyekan hal ini adalah Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat.

Atim dan Fajar, dua pekerja di Paroki Kedoya menceritakan, sejak satu tahun lalu, umat telah diminta agar mengurangi atau bahkan menghilangkan penggunaan plastik kemasan air minum sekali pakai, misalkan gelas atau botol minuman mineral. Demi mengurangi penggunaan kemasan air minum sekali pakai, Paroki Kedoya menyediakan air minum gratis di setiap ruangan. Semua itu disiapkan Astim dan Fajar, pekerjaan mereka bertambah semenjak ada program tersebut.

Gerakan mengurangi penggunaan kemasan plastik menjadi contoh nyata seperti yang disampaikan Romo Martin Harun OFM dalam Seminar “Laudato Si’: Perawatan Rumah Kita Bersama”, di aula Betlehem Paroki Kedoya, Minggu, 21/2. “Orang yang terobsesi dengan keuntungan maksimal jangan terlalu diharapkan memikirkan dampak ekologis,” ucap Romo Martin Harun dalam seminar yang diadakan Seksi Lingkungan Hidup bersama Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan ini.

Stefanus P. Elu
Laporan: Yanuari Marwanto/Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here