Menunda Kepulangan, Kontingen IYD Agats Kena Denda Puluhan Juta

101
Kontingen Agats saling berpelukan dengan OMK dan umat Paroki St Ignatius, Manado dalam acara Perpisahan. (Dok. Ernestasia Putri)

HIDUPKATOLIK.com – INDONESIAN Youth Day (IYD) Manado 2016 berakhir pada 6 Oktober lalu. Sebagian besar kontingen dari berbagai keuskupan pulang sehari atau dua hari setelahnya. Namun kontingen Keuskupan Agats rupanya paling betah di Manado, Sulawesi Utara. Mereka baru angkat kaki dari tanah Minahasa pada Kamis, 13/10. Kristianus Rahajaan, ketua Kontingen Keuskupan Agats bercerita ihwal ‘keterlambatan’ mereka pulang ke Agats-Asmat, Papua.

Kris – sapaannya – bercerita, kontingen Agats memang sengaja untuk lebih lama di Manado. “Kami ingin belajar banyak lagi dari OMK dan kehidupan di sini. Kesempatan semacam ini tidak datang begitu sering,” jelasnya.

OMK Keuskupan Agats, kata Kris sudah melakukan persiapan untuk mengikuti IYD selama hampir setahun. Itu dihitung mulai dari persiapan spiritual hingga pencarian dana lewat jualan kaos dan makanan kepada umat. “Jadi sangat disayangkan ketika mereka sudah berada di sini lalu tidak terbayarkan dengan jalan-jalan dan mengenal sisi lain kehidupan di luar Agats,” tutur Kris.

Kontingen Agats bersama OMK Paroki Ignatius, Manado. (HIDUP/Edward Wirawan)
Kontingen Agats bersama OMK Paroki Ignatius, Manado. (HIDUP/Edward Wirawan)

[nextpage title=”Menunda Kepulangan, Kontingen IYD Agats Kena Denda Puluhan Juta”]

Perpisahan Kontingen Agats dengan OMK dan umat Paroki St Ignatius, Manado. (Dok. Ernestasia Putri)
Perpisahan Kontingen Agats dengan OMK dan umat Paroki St Ignatius, Manado. (Dok. Ernestasia Putri)

Keputusan untuk menunda kepulangan ke Agats membuat Kris dan kawan-kawan harus membayar denda cukup besar kepada sebuah maskapai penerbangan. Pasalnya, Kris sudah memesan tiket pulang untuk penerbangan 8 Oktober 2016. Tetapi diundur hingga dua kali; 10 Oktober lalu diundur lagi hingga tanggal 13 Oktober. “Kami harus membayar sekitar lima puluh juta untuk dendanya,” ujar Kris sambil tersenyum.

Beruntung, orangtua angkat mereka dan OMK Paroki Ignatius Manado – tempat kontingen Agats live in – membantu masalah tiket pulang mereka. “Ya, untungnya mereka berbaik hati. Ada juga pihak tertentu yang membantu dana untuk tiket pulang,” ujar Kris.

Di Manado, Kris dan kawan-kawan tetap tinggal di orangtua angkat masing-masing. Panitia lokal IYD bahkan mengajak OMK Agats untuk study tour: mempelajari budaya Manado serta mengelilingi kota Tomohon.

Findy Kakomore, ketua OMK Ignatius mengaku senang dengan keberadaan OMK Agats. Setiap malam, mereka bertemu dan berbagi pengalaman dalam hidup menggereja dan bermasyarakat. “Kami mengajak mereka juga mengunjungi orang sakit; sesuatu yang biasa kami lakukan,” tutur Findy.

Pada malam Rabu, 12/10, Kontingen Agats mengakhiri live in mereka di Paroki Ignatius, Manado dengan acara perpisahan. Orangtua angkat dan OMK Ignatius Manado melepas kontingen Agats ini dengan pelukan kekeluargaan. “Kami akan merindukan mereka selalu,” ujar Findy.

Ernestasia Putri/Edward Wirawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here