Dr Fransiscus Xaverius Atanasius Teguh Dwi Nugroho SpB : Titipan dan Alat Tuhan

1748
Dr Fransiscus Xaverius Atanasius Teguh Dwi Nugroho SpB bersama istri dan anak.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – Dia mantap memilih untuk menjadi tenaga medis. Tak sekadar menyembuhkan, dia juga memberikan edukasi. Cita-cita bisa diraih asalkan mereka sehat, pesannya.

Franciscus Xaverius Atanasius Teguh Dwi Nugroho mendapat penempatan di Puskesmas Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali itu menjadi tenaga medis PTT (Pegawai Tidak Tetap). Usai praktik di sana, berbekal beasiswa dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dia mengambil spesialis bedah Master Biomedik di kampusnya dulu.

I tetap memilih untuk berkarya di daerah, persisnya di RSUD Kefamenanu, TTU. Hatinya telah berlabuh di sana. Penerimaan dan keramahan masyarakat Kefamenanu terhadap dirinya dan keluarganya, membuat mereka jatuh hati. “Tetangga kami sangat memperhatikan kami. Mereka selalu menyapa dan menanyakan kabar saya dan keluarga. Mereka juga sangat mudah membantu saat listrik rumah dinas saya korsleting atau atap bocor,” ujar suami Maria Fransiska Deasy Ayuningtyas Tandio, yang juga berprofesi sebagai dokter di Puskesmas Nimasi, sekitar tujuh kilometer dari Kefamenanu.

Takut Operasi
Dua tahun berkarya di kota kabupaten, Teguh mengungkapkan, banyak pasiennya takut operasi. Mereka lebih memilih pengobatan tradisional. RS baru menjadi pilihan terakhir jika kondisi mereka sudah parah lantaran berbagai praktik tradisional tak membuahkan hasil. Salah satu kejadian yang paling dia ingat saat awal bertugas di Kefamenanu, pada pertengahan tahun 2016.

Alkisah, sekitar pukul dua dini hari, Teguh menerima telepon dari RS. Perawat minta bantuan kepadanya untuk menangani seorang pasien. Pria itu datang dengan tubuh penuh luka dan bersimbah darah. Dari mulutnya terendus aroma minuman beralkohol. Rupanya, lantaran mabuk berat, pria itu jatuh dari motor.

Karena kondisi pasien amat memprihatinkan, Teguh berencana mengoperasi pria itu. Lantaran tak ada seorang pun kerabat pasien di sana, Teguh meminta persetujuan langsung dari pria itu. “Dia (pasien) menolak operasi dan perawatan. Dia memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Rote. Selang dua minggu, dia datang kembali. Tapi, kondisinya telah parah. Akhirnya kaki pasien itu diamputasi di Kupang (Ibu Kota Provinsi NTT),” bebernya.

Satu dari sejumlah kejadian serupa itu membuatnya prihatin, bahwa masyarakat masih berpikir negatif terhadap pembedahan. Dia kerap mendengar dari obrolan masyarakat bahwa tiap pasien yang dioperasi pasti meninggal. Anggapan itu pulalah yang membuat tiap pasien –terutama akibat kejadian traumatik (kecelakaan, jatuh, perkelahian)– yang datang kepadanya selalu menolak untuk dioperasi.

Mereka lebih memilih untuk berobat ke dukun tulang daripada operasi atau pemasangan gips di RS. Terkait hal itu, menurut anggota Komunitas Satu Biinmafo (komunitas sosial lintas profesi, suku, ras, dan agama di Kefamenanu) itu, persoalan utama di masyarakat saat ini adalah minimnya pengetahuan soal praktik bedah, kepeduliaan dan kepercayaan terhadap penanganan dan perawatan di RS.

Meyakinkan Pasien
Menghadapi aneka penolakan dari pasien maupun keluarganya, Teguh berusaha memberikan edukasi sekaligus meyakinkan mereka bahwa tidak semua penyakit bisa selesai dengan obat. Ada sakit yang harus ditangani dengan operasi. Tak hanya sekadar teori, Teguh juga meminta testimoni langsung dari pasien yang ditangani serta menunjukkan hasil kepada keluarga bersangkutan. Cara itu ternyata menuai hasil positif.

Sebagai tenaga medis, kebahagiannya adalah bila operasi berjalan baik serta pasien yang ditangani lekas sembuh. “ Saya bisa melakukan dan mengusahakan apa yg memang semestinya saya lakukan, bukan mengusahakan apa yang mudah bagi saya. Setelah itu kebahagiaan batin akan datang sebagai hadiah dari kerja keras itu ,” ujar pria yang mengidolakan Presiden Joko Widodo ini.

Langkah dokter yang menggemari film berdasarkan kisah nyata itu tak terhenti di RSUD Kefanenanu. Bersama rekan-rekannya, alumni SMU Taruna Nusantara Magelang, putra pasangan Bambang Poernomo dan Giok In ini terlibat dalam Gerakan Bakti Nusantara (BN).

Gerakan kemanusiaan yang dimulai tahun 2016 tersebut merupakan karya sosial yang dilandasi semangat kepeduliaan, kemanusiaan, persaudaraan, dan gotong royong untuk masyarakat tepi luar Indonesia yang belum mendapat akses layak pembangunan nasional. Bakti Nusantara dilakukan setiap tahun dengan sasaran yaitu daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terpencil).

Ada tiga kegiatan BN, ungkap Teguh menjabarkan, yaitu bangun nusantara, sehat nusantara, dan inspirasi nusantara. Alumni SMU Taruna Nusantara dari beragamprofesi dan keahlian di berbagai bidang saling bersinergi untuk menumbuhkan harapan dan serta senyum bagi anak-anak yang tinggal di pelosok Nusantara.

Lantaran kegiatan itu amat mengesankan dan menyentuh batinya, Teguh menamai anak bungsunya Ester Bakti Mahasatya. “Nama bakti saya jadikan nama tengah anak kedua saya ini, karena gerakan Bakti Nusantara ini sungguh merupakan perjalanan spiritual yang sangat indah bagi saya,” ungkapnya.

Berkat kegiatan itu dan juga karyanya di RS saban hari, Teguh mengakui bisa berjumpa dengan masyarakat, terutama mereka yang berada dalam strata prasejahtera. Dengan aktifitas dan karyanya itu pula, dia bisa membantu memberikan pelayanan edukasi dan kesehatan. Dia meyakini, jika masyarakat sehat dan berpendidikan maka cita-cita yang mereka idamkan bisa diraih dengan optimal.

Sumber Kekuatan
Sumber kekuatan dirinya selama menjalankan tugas dan karya sosial adalah doa dan misa bersama keluarga. Pada saat itu, dirinya selalu merasa diingatkan bahwa saya dapat berjumpa dengan masyarakat yang sangat memerlukan bantuan kesehatan dan pendidikan. Saya berkeyakinan dengan masyarakat sehat maka cita-cita mereka bisa dicapai. Saya ingin mengembalikan senyum di wajah mereka,” kisah dokter yang bersyukur Tuhan memberikan pasangan hidup yang memiliki visi sama untuk membantu sesama ini.

Saat dokter Teguh mengikuti misa dan berdoa bersama keluarga, ia merasa diingatkan bahwa diri dan profesinya merupakan sarana bagi Tuhan untuk menunjukkan cinta dan perhatian kepada umat-Nya. “Tugas sebagai dokter hanya titipan dari Tuhan untuk melayani orang-orang lain. Tuhan yang berkarya, saya sebagai alat-Nya,” pungkas umat Paroki St Theresia Kefamenanu, Keuskupan Atambua ini.

Ivonne Suryanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here