Bernardus Wisnu Widjaya : Pejuang di Tengah Bencana

1019
Bernardus Wisnu Widjaja.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – “Saya senang dengan suasana kebatinan para pekerja kemanusiaan yang tidak terkotak-kotak dengan keyakinan, suku, ras,” ujar Wisnu suatu kali.

Bernardus Wisnu Widjaya menikmati masa-masa awalnya di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Sekolah ini memberinya kebebasan berambut gondrong. Sesuatu yang sangat ia idamkan. Namun, ketika pembagian rapor semester pertama, ia mendapatkan dua nilai merah.

Wisnu kaget, sebelumnya tak pernah ada nilai merah dirapotnya. Sejak itu, Wisnu berjanji lebih serius belajar dan berkompetisi dengan teman-temannya. Hanya tiga tahun dihabiskan Wisnu di De Britto. Namun siapa sangka, masa ini selalu ia kenang.

Pekerja Kemanusiaan
Di tahun terakhirnya di De Britto, Wisnu bertemu seorang lulusan geologi dari sebuah universitas di Yogyakarta. Kebetulan, orang itu adalah paman dari salah seorang temannya. Dalam perjumpaan itu, Wisnu mendengar cerita bahwa kuliah geologi tidak banyak matematikanya. Lulusan geologi juga banyak yang makmur, sebab banyak yang bekerja di pertambangan.

Dari cerita itu, Wisnu pun mantap kuliah di jurusan geologi. Namun, ibarat melihat gunung dari kejauhan, untuk mendakinya dibutuhkan perjuangan yang tidak gampang. Lambat laun, ia sadar bahwa kuliah jurusan geologi, ternyata butuh waktu lama. Ia butuh 15 semester untuk lulus. “Tapi tidak diceritakan bahwa kuliah di Teknik Geologi itu lulusnya lama,” ujarnya.

Lulus kuliah, Wisnu diterima sebagai staf bidang perencanaan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Banyak studi kelayakan pembangunan jembatan atau terowongan antarpulau yang ia kerjakan.

Tahun 1992, Wisnu mendapat beasiswa untuk kuliah di Master Teknik Geologi di University of Leeds, Inggris. Tesisnya kala itu berhubungan dengan kekuatan batuan. Kembali ke tanah air, ia didapuk menjadi Kasubdit Pemetaan dan Tata Guna Lahan BPPT. Ia juga tergabung ke dalam Tim Pembangunan Pulau Natuna.

Berganti Haluan
Beberapa tahun berselang, Wisnu berpindah haluan dari pekerjaan konstruksi yang lebih banyak berhubungan dengan benda mati, menjadi pekerja kemanusiaan. Ia bergabung di Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penangan Pengungsi sebagai Kepala Bagian Bencana Alam Biro Mitigasi. Tugas pertamanya adalah membantu menangani banjir Jakarta pada Februari 2002.

Kala tsunami memporak-porandakan Aceh, Desember 2004, Wisnu mengendalikan posko di Jakarta. Pada masa-masa itu, ia mulai menyadari pekerjaan dalam bidang kebencanaan itu sangat kompleks, multidimensi, dan multi-disiplin ilmu. Meski demikian, ia amat bersemangat. “Saya senang dengan suasana kebatinan para pekerja kemanusiaan yang tidak terkotak-kotak dengan keyakinan, suku dan ras. Semua bersatu untuk kepentingan penyelamatan manusia,” ungkapnya.

Berbagai jabatan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana diembankan pada Wisnu. Puncaknya, pada tahun 2014, ia dilantik sebagai Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan. Menurut Wisnu, posisi geografis Indonesia yang dikelilingi cincin api menjadi penyebab sejumlah daerah mengalami bencana gempa tektonik, erupsi gunung api, longsor hingga angin puting beliung.

Wisnu mengakui, Indonesia belum memiliki mitigasi bencana maupun tanggap bencana secara nasional yang mumpuni seperti halnya Jepang, Australia atau Amerika Serikat. “Sistem peringatan dini hingga budaya mitigasi, belum menjangkau seluruh elemen masyarakat, bahkan di lingkungan aparat pemerintahan. Sehingga tidak mengherankan jumlah korban jiwa dan material dalam beberapa bencana masih cukup tinggi,” katanya menjelaskan.

Wisnu menjelaskan pada periode 2015-2018, rata-rata kerugian bencana per tahun mencapai Rp 30 triliun. Selama tahun 2016, misalnya, terdapat 2.342 kejadian bencana. Menurutnya, jika negara tidak siap menghadapi bencana, pertumbuhan ekonomi negara tersebut bisa merosot.

Membangun Kesadaran
Mengingat pentingnya kesadaran bencana, maka setiap lapisan masyarakat perlu memahami apa saja potensi bencana yang ada di sekitar. Untuk itu, Wisnu bersama timnya mengupayakan desa tangguh bencana. Maksud program ini agar masyarakat dapat lebih memahami dan mengelola ancaman serta risiko bencana.

Pada tahun ini, Wisnu menargetkan ada 5000 desa tangguh bencana. Bencana, menurut Wisnu, tidak pernah datang secara tiba-tiba. Selalu ada tanda-tanda yang menyertai sebelumnya. Meski demikian, ia sadar, desa tangguh bencana tidak bisa dibuat secara instan. Butuh setidaknya tiga tahun untuk mempersiapkan desa tangguh bencana.

Tak berhenti sampai di situ, Wisnu juga menerapkan analisis risiko bencana dalam setiap pembangunan gedung. Sebab, rata-rata korban dalam bencana disebabkan oleh reruntuhan bangunan. “Artinya tata pembangunan memperhatikan risiko pembangunan terhadap bencana. Saya harap di daerah juga begitu,” tambahnya.

Wisnu mengungkapkan, tahun 2017, kegiatan ini ditargetkan diikuti oleh satu juta orang. Nyatanya, peserta mencapai 10,5 juta orang. Tahun lalu peserta melonjak menjadi 30,6 juta orang. Pencapaian ini tidak terlepas dari semangat dan militanisme para pejuang kemanusian di bidang kebencanaan. Mereka bekerja dengan tidak mengenal sekat-sekat. Dalam program ini, Wisnu menggandeng Muhamadiyah Disaster Management Center, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama, PMI, sekolah-sekolah, aparat pemerintahan, serta LSM.

Sadar Bencana
Wisnu juga berinovasi dengan membuat data bencana dan peta risiko bencana yang dapat diakses melalui web dan aplikasi. Program tersebut adalah informasi berbasis web Geographic Information System. Aplikasi yang dinamai “inaRisk” ini mampu menunjukkan jenis bencana, risiko, peta bahaya untuk setiap titik di Indonesia. Informasinya tidak hanya menunjukkan bahayanya tetapi juga apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan pasca bencana.

Siapa sangka, terobosan ini menuai apresiasi di tingkat internasional. Oleh United Nations Development Programs, Wisnu diminta mengajarkan pembuatan sistem ini di 40 negara.

Saat sudah malang melintang dalam dunia kebencanaan, kini Wisnu malah mensyukuri semua yang pernah ia lalui. Aktivitas di BNPB selalu padat dan seolah tanpa henti. Dengan total pegawai negeri hanya 500 orang mereka melayani kebencanaan seluruh negeri. “Saya sebenarnya bertugas untuk menangani fase sebelum bencana terjadi (preventif ) dalam bentuk kegiatan mitigasi, pencegahan dan mempersiapkan kesiapsiagaan masyarakat.”

Wisnu selalu menekankan kepada stafnya untuk tidak mengharapkan kekayaan dari kerja dalam bidang kebencanaan. “Kepuasannya bukan di harta, tetapi di hati karena berhasil membantu sesama yang sedang menderita,” ujar Wisnu. Ia sedih tatkala ada pihak-pihak yang masih menganggap bencana adalah panggung untuk tampil. Bantuan yang diberikan hanya sekadar untuk menunjukkan kedermawanan. “Persis seperti kaum Farisi yang digambarkan dalam Injil,” tegas umat Paroki Kalvari Lubang Buaya ini.

Bernardus Wisnu Widjaja

Lahir : Denpasar, 11 Desember 1961
Isteri : Dorothea Rookmini
Anak : Reinardus Surya Pradhitya dan Maria Britta Widyadhari

Pendidikan :
SMP Pius Tegal (1977)
SMA Kolese De Britto Yogyakarta (1981)
Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1988)
Engineering Geology MSc, University of Leeds, Inggris (1992-1994)

Karier:
• Kabag Bencana Alam, Biro Mitigasi, Sekretariat Bakornas PBP (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi) 2002-2007
• Kasubdit Teknik Mitigasi-Bakornas PB 2007-2008
• Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB 2008-2010
• Direktur Kesiapsiagaan BNPB 2010-2012
• Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB 2012-2013
• Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB 2013-2014
• Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB 2014-sekarang
• Dosen Manajemen Bencana, Magister Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan

Fr. Benediktus Yogie Wandono SCJ

HIDUP NO.09 2019, 3 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here