Revolusi Industri Media: Antara “Mesias dan Firaun”

73
Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (depan paling kanan) bersama para pembicara dalam Seminar Nasional PKSN-Dok. Pribadi
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM-KONFERENSI Waligereja Indonesia (KWI) bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Memperkokoh NKRI melalui Media Digital”, pada Senin, 27/5.

Seminar yang diselenggarakan di Aula Paroki Santo Fransiskus Assisi Makassar, Sulawesi Selatan ini sebenarnya ingin menjawab tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia belakangan ini. Maraknya penggunaan media sosial dan menjamurnya informasi palsu maupun berita bohong (hoaks) merupakan fenomena yang sangat serius.

Menanggapi gejala sosial itu, upaya pencegahan terus digalakkan, salah satunya lewat Seminar Nasional ini. Seminar ini merupakan kelanjutan dari kerjasama Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI dengan Kemenkominfo yang sudah berjalan tiga tahun terakhir ini. Seminar serupa juga pernah dihelat di Sorong, Papua Barat dan Palangkara, Kalimantan Tengah.

Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC bersama Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Camilus Pantus menyalami umat-Dok. Pribadi

Revolusi Industri

Seminar Nasional yang digelar dalam rangkai peringatan 111 tahun Kebangkitan Nasional (Boedi Oetomo) ini sedianya diikuti oleh 700-an peserta dari seluruh pelosok Makassar. Pembicara utama dalam acara ini adalah Sekretaris Jenderal Kemenkominfo NikenWidiastuti mewakili Menkominfo, Rudiantara, membawakan materi berjudul “Transformasi Digital: Tingkatkan Ekonomi Masyarakat”.

Niken mengatakan perkembangan teknologi informasi seperti pisau bermata dua, bisa menjadi baik atau buruk, tergantung bagaimana setiap orang menggunakannya. “Namun, saya berharap media sosial tak hanya meningkatkan persahabatan sosial tetapi juga persaudaraan sosial dalam kesatuan NKRI,” himbaunya.

“Kita harus bersama-sama menangkal hoaks, ujaran kebencian dan konten yang bertentangan dengan Pancasila. Pembatasan sementara media sosial kemarin adalah salah satu cara kita untuk menghindari bangsa ini dari bahaya yang lebih besar, demi keutuhan NKRI,” pungkas Niken.

Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC bersama para narasumber di Seminar Nasional PKSN-Dok. Pribadi

Selain itu, hadir juga sebagai pembicara pakar teknologi dan komunikasi, Richardus Eko Indrajit; Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Selamatta Sembiring; Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Eusabius Binsasi; dan mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Trias Kuncahyono.

Masing-masing pembicara menyampaikan materi terkait dengan tema Revolusi Industri 4.0, baik dari aspek pembangunan sumber daya manusia dan komunitas insani, peluang dan tantangan bagi generasi milenial, pengaruhnya bagi keutuhan bangsa, dan bagaimana media Gereja beradaptasi dengan perkembangan era transformasi digital.

Para pejabat pemerintahan Sulawesi Selatan yang hadir dalam seminar nasional PKSN-Dok. Pribadi

Seminar sehari ini dibuka oleh Sekjen KWI, Mgr Anton Subianto Bunjamin OSC.Uskup Bandung ini sekaligus membuka rangkaian Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN), Minggu, 26 Mei-Minggu 2 Juni dengan Misa kudus di Gereja Katedral Keuskupan Agung Makassar. Semenatra itu, tema PKSN tahun ini mengambil inspirasi dari Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus 4: 25, “Kita Adalah Sesama Anggota: Berawal dari Komunitas Jejaring Sosial menuju Komunitas Insani”.

Mgr Subianto diakhir pesannya mengatakan,jika media sosial di tangan orang yang salah akan dapat membahayakan dan mengancam NKRI. Namun sebaliknya jika media sosial di tangan orang yang benar maka ia akan memperkokoh NKRI,” ujar Mgr Antonius.

Para peserta PKSN berswafoto-Dok. Pribadi

Ia menambahkan, untuk menghadapi industri 4.0, kita diundang untuk melakukan perubahan heartset, yakini menyiapkan hati sesuai dengan panggilan kita sebagai orang Kristiani. “Tanpa perubahan mentalitas, jangan sampai Industri 4.0 yang dianggap menjadi ‘mesias’ justru berbalik menjadi boomerang bagaikan ‘firaun’ yang memperbudak manusia hingga orang memperlakukan sesamanya seperti barang atau binatang,” tambah Uskup Bandung itu mantap.

Yusti H. Wuarmanuk

Laporan: Hasiholan Siagian (Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here