KORBAN BANJIR BANDANG KELUHKAN KETERSEDIAAN AIR BERSIH

50
Situasi rumah-rumah warga yang dihantam banjir bandang di Malaka.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Para korban bencana banjir bandang yang melanda Nusa Tenggar Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu 4/4/2021 mulai mengeluh dengan ketersediaan kebutuhan air bersih seperti dialami korban di Malaka, Atambua. Sumur yang ada di rumah-rumah tidak bisa diminum airnya karena aromanya bau. Hal ini ini disampaikan oleh Yasintus Manek, saat ditemui di rumah kediamannya Wederok, Paroki Betun, Jumat, 9/4/2021.

Ia mengeluhkan jika air di sumur dekat rumahnya tidak bisa digunakan. Kondisi air keruh dan berbau tidak sedap. Harus beli beras untuk makan dan minuman aqua di kios terdekat dan air tangki yang disiapkan pemerintah belum maksimal karena banyak permintaan.

Yansintus melanjutkan bahwa setelah pulang dari pengungsian mereka hanya bisa meratapi kondisi rumah yang terbengkalai dan hancur karena banjir yang melanda bagian dalam rumah dan sekitarnya. Ketianggian air saat terkena banjir hampir mendekati satu meter atau setinggi pinggang.

 

Air sumur berbau

“Sekarang memang kami kesulitan air bersih. Sumur gali kami tidak bisa dipakai karena airnya kotor dan berbau. Untuk makan dan minum memang kami sangat kesulitan,” ucapnya.

Pasca Bencana

Kondisi rumah memang sangat memprihatinkan. Selain hamparan lumpur di sekeling rumah, juga tumpukan-tumpulan kayu yang terbawa arus air. Warga sangat sibuk membersihkan bagian dalam rumah dan menjemur perabot rumah tangga yang terkena banjir.

Sekali lagi Yasintus menggambarkan bahwa setelah pulang ke rumah, semua yang ada ludes. Pakaian anak dan orang dewasa tak bisa diselamatkan. Sofa dan perangkat rumah lainnya terbawa arus.

“Setelah pulang dari tempat pengungsian kami mulai dari nol karena perabot di dalam rumah terbawa arus sungai,” katanya penuh iba.

Bantuan Wujud Empati Mengalir

Bantuan kemanusiaan mengalir untuk para korban bencana banjir. Ada pasokan sembako dan air minum serta pakaian layak pakai bagi anak-anak dan orang dewasa.

 

Kontributor (kanan) menemui warga yang sudah mulai kembali ke rumah yang masih bisa ditingali.

Aliran peduli kemanusiaan mengalir dari Dandim Belu, simpatisan dari Komunitas Sahabat Mgr. Gabriel Manek (SMGM) Atambua, dari para donatur yang disumbang melalui Komsos Keuskupan Atambua.

Salah satu korban bencana dan ibu rumah tangga, Petronela Luruk Klau juga mengisahkan tentang derita yang sama karena rumanya terkena banjir. Ia bangga karena banyak orang menaruh perhatian untuk para korban.

“Inilah beban hidup yang kami pikul dan memang sangat berat. Setelah kami pulang dan masuk ke dalam rumah ini kami harus mulai dari nol. Tapi saya senang karena banyak orang peduli dengan kami yang sekarang lagi menderita ini,” katanya.

Banyak pengungsi masih bertahan di tempat penginapan karena rumah yang ditinggalkan masih harus dibersihkan dan butuh waktu yang lama. Juga ada kerusakan-kerusakan yang harus di diperbaiki.

Laporan Romo Ino Nahak, Kontributor (Atambur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here