Ketua Umum LP3KN, Adrianus Eliasta Meliala: Kreasi Virtual Katolik Indonesia Ajang Mengasah Nasionalisme Kita

110
Adrianus Eliasta Meliala (depan, paling kiri) menjelang pembukaan Pesparani I di Ambon, Maluku, 2018. (Foto: Dok. LP3KN)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COMKREASI Virtual Katolik Indonesia (KVKI) akan digelar dari tanggal 2 Oktober hingga 28 Oktober 20021. Event yang akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo ini diadakan oleh Lembaga Pembinaan dan Permberdayaan PESPARANI Katolik Nasional (LP3KN) merupakan ajang pemanasan menuju Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Tingkat Nasional yang ke-2 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tahun 2022 mendatang.  Sehubungan dengan event KVKI ini, hidupkatolik.com mewawancarai Ketua Umum LP3KN, Adrianus Meliala. Petikannya:

Apa message utama yang ingin diartikulasikan melalui KVKI ini?

Begini, kita orang Katolik butuh milestone, puncak-puncak kegiatan kita. Mengapa? Semisal saja, analoginya, kalau kita olahragawan, kita butuh event seperti Olimpiade, PON, Asian Games sebagai tempat kita menguji apa yang sudah kita latih.  Kita sebagai komunitas, masyarakat Katolik Indonesia, mau melihat hal itu.

Nah, untuk mewujudkan hal itu memang mahal, berat, capek, dan ada unsur  terwakili oleh provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Cuman modalnya atau sarananya, kalau di PON adalah olahraga, maka di kita melalui PESPARANI, Virtual Choir Festival, atau KVKI ini. Tapi sebetulnya spiritnya sama, yakni kita tidak boleh, sebagai masyarakat, hanya diam-diam saja di bawah tangan, tenang-tenang terus. Sunyi senyap. Seakan-akan tidak ada apa-apa. Orang tidak tahu apa yang kita lakukan. Orang tidak tahu apa yang  kita kontribusikan bagi bangsa dan negara.

Kita harus ikut dalam satu semangat bahwa kita perlu memperlihatkan kepada orang lain, bahwa Katolik ada dan membuktikan bahwa kita cinta kepada Indonesia. Kita juga bisa memakai acara itu (semisal KVKI ini) untuk menjadikan nasionalisme kita sebagai orang Katolik semakin merasa kuat.

Kenapa lomba-lomba yang diadakan pada KVKI ini non paduan suara?

KVKI ini adalah bagian dari PESPARANI. Di PESPARANI ada lomba paduan suara dan non paduan suara.  Nah, pada waktu Virtual Choir Festival tahun 2020, kami sudah melakukan lomba paduan suara virtual. Maka pada KVKI ini,  supaya adil dan semuanya mendapatkan porsinya, kami pilih lomba-lomba non paduan suara. Dengan satu maksud agar pada saat PESPARANI 2022, yang rencananya di Kupang, teman-teman paduan suara terasah keahlian dan kehebatannya. Demikian juga yang non paduan suara, juga tetap diberikan panggung.

Delegasi LP3KD Provinsi Papua pada Pesparani I di Ambon, Maluku, 2018 (Foto: Dok LP3KN)

Jadi, berbeda dengan PESPARANI I di Ambon, itu memang belum ideal, belum terdapat proses seleksi dari bawah. Pada waktu sekarang ini, misalnya lewat Virtual Choir Festival  dan KVKI, sudah ada proses seleksi dari bawah itu. Contoh, Jawa Tengah bikin KVKI tingkat daerah. Demikian juga sejumlah provinsi lain. Jadi memang tugas kami di LP3KN adalah memancing dan mendorong orang untuk bergerak.

Apa harapan Anda dengan event KVKI ini?

Tentu saja, saya sebagai penyelenggara kegiatan ini mengharapkan agar kami tidak berhenti di output. Kami ingin mencapai level outcome, artinya menyelenggarakan secara baik, secara sempurna. Makanya kami betul-betul berusaha agar yang hadir itu 34 provinsi. Tadinya ada juga yang enggak mau ikut, tapi kami lobby akhirnya semua mau ikut. Itu salah satu cara kami mencapai outcome.

Dengan kata lain, jangan sekadar KVKI selesai, udah. Harus sampai tingkat KVKI selesai dengan baik sesuai dengan tujuan yang sudah disampaikan. Kelihatannya, untuk mencapai outcome ini pun tidak gampang. Contoh, karena kita melalui media online, ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, dari segi kekuatan sinyal misalnya. Banyak hal yang kemudian membuat kita terkendala untuk sampai pada suatu outcome yang baik.

Delegasi NTT pada devile peserta pada Pesparani I di Ambon, Maluku, 2018. (Foto: Dok LP3KN)

Karina Chrisyantia/FHS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here