Pastor Yulius Sukardi: Syukur Tiada Akhir, 50 Tahun Imamat

94
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – SUKACITA mewarnai Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Mlati Sleman, Minggu, 29/8/2021. Salah satu romo yang melayani umat di sini,  Romo Yulius Sukardi merayakan ulang tahun ke-50 tahbisan imamat (tepatnya tanggal 25 Agustus). Walau perayaannya memang tidak persis pada tanggal yang sama, tapi hal itu tak mengurangi makna perayaan di tengah pandemi ini. Romo Laurentius Tata Priyana bertindak sebagai konselebran.

Romo Kardi, sapaan akrab Romo Yulius Sukardi, menyampaikan ungkapan syukur yang tiada akhir atas kasih Tuhan yang tanpa batas bahwa Misa syukur 50 tahun imamat ini dapat terlaksana dengan baik dengan segala keterbatasannya.

Rama Kardi menceritakan pengalamannya setelah ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang saat itu, Justinus Kardinal Darmojuwono pada 25 Agustus 1971 di Gereja Kristus Raja, Paroki Baciro, Yogyakarta. Setelah ditahbiskan, ia diutus melayani umat Paroki Wates than1971-1974. Persinggahan karya pastoral kedua adalah di Paroki Sedayu tahun 1975-1978. Ketiadaan listrik di Desa Gubuk, desa tempat pastoran berada, bukan menjadi halangan bagi Romo Kardi dalam melayani umat kala itu. “Sekali lagi, berkat Ekaristi harus tetap disampaikan,” ujarnya.

Ketika berkarya di Paroki Wedi, Klaten pada 1979-1983, ia mendapat pengalaman menjadi pastor kepala. “Meskipun di tengah perjalanan banyak anggota Dewan Paroki mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, namun melayani umat tetap dijalani dengan baik,” ujar putra  dari pasangan Yusup Bardi Karsawirono dan Yosepha Karsiyem Karsowirono ini.

Tahun 1984-1990, Romo Kardi beserta satu imam, mendapat tugas perutusan dari Uskup Agung Semarang untuk berkarya sebagai misionaris domestik di Paroki Maria, Bunda Pertolongan Abadi, Binjai, Keuskupan Agung Medan, Sumatera Utara. Di sana ia harus beradaptasi dengan budaya setempat, umumnya Batak Karo. Sebagian besar pelayanan harus menggunakan bahasa setempat. Namun Romo Kardi menjalaninya dengan sepenuh hati.

Pulang dari Sumatera, Romo Kardi meneruskan karya pastoralnya di Paroki Kalasan tahun 1991-1993. Di paroki ini, ia juga harus belajar kembali. Bukan belajar bahasa dan adat seperti di Sumatera, namun belajar Misa dengan iringan gamelan.  “Belajar Exultet atau Pujian Paskah dengan iringan gending adalah hal paling menguras energi. Nada tinggi tidak dapat saya capai. Jadinya saat pemberian berkat, jadi agak tersendat-sendat karena saya harus tarik nafas,” imbuhnya tersenyum

Tahun 1994-1997, RomoKardi menjadi Vikaris Episkopal di Paroki Magelang. Di paroki inilah, ia merayakan 25 tahun imamatnya. Dari Magelang, ia diangkat menjadi Pastor Paroki Katedral Semarang pada 1998-2007 dan 2008-2011 menjadi Pastor Paroki di Paroki Kebon Dalem, Semarang. Maka, kalau dihitung, Paroki Mlati menjadi paroki kesembilan dalam karya penggembalaannya dalam rentang 50 tahun in. Dari tahun 2012 hingga sekarang, ia masih aktif dalam kegiatan pastoral sebagai Vikaris Parokial dan rutin mempersembahkan Misa mingguan dan harian.

Lima puluh tahun imamat, bukanlah rentang waktu yang singkat untuk dijalani. Namun penyelenggaraan Ilahi yang membuat semua hal baik menjadi mungkin dan terjadi pada diri Romo Kardi.

Agustinus Hario Prabowo

HIDUP, Edisi No. 38, Tahun ke-75, Minggu, 19 September 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here