Bangku-bangku Gereja Bertuliskan Kata-kata Mutiara Para Tokoh Dunia

94
Gereja di Wang, Desa Mühldorf, Stadl, Bayern, Jerman. (Foto: Sr. Bene Xavier)
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – “Sei du selbst die Veränderung, die du dir wünschst für diese Welt.” (Jadilah perubahan yang kamu inginkan di dunia ini untuk dirimu sendiri.) – Mahatma Gandhi.

Seringkali begitu mudahnya kita memrotes pemerintah, keadaan atau orang lain yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita menginginkan lingkungan, keadaan atau orang lain berubah, tapi  kita lupa untuk mengubah diri sendiri. Ya, jika kita menginginkan perubahan, sepatutnya dimulai dari diri sendiri. Begitulah sepintas yang bisa dipahami dari apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi seperti tertulis di atas.

“Mutig ist nicht der, der sich nicht fürchtet, sondern der, der diese Furcht überwindet.” (Pemberani bukanlah orang yang tidak takut, tetapi orang yang mengatasi rasa takut.) – Nelson Mandela

Rasa takut merupakan salah satu perasaan yang wajar dan alami untuk dirasakan dan dialami. Orang yang mengalami rasa takut tidak dapat begitu saja dikatakan sebagai penakut. Sebaliknya, seorang pemberani bukan berarti tidak pernah mengalami rasa takut. Karena rasa takut merupakan perasaan yang wajar dialami setiap orang, maka proses dan kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi rasa takut itulah yang penting.

Di Bangku Gereja

Membaca kalimat yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela, sebagaimana tertulis di atas, mungkin kita berpikir bahwa tulisan tersebut bisa ditemukan dalam buku, koran atau media cetak lainnya. Bagaimana jika kita menemukan kalimat tersebut di bangku gereja? Apakah anda merasa ini sebagai sesuatu yang aneh?

Di Bayern, Jerman saya menemukan banyak kata-kata mutiara diletakkan di atas bangku gereja. Tulisan dari Mahatma Gandhi tersebut saya termukan di Gereja Maria Himmelfahrt (Maria Diangkat ke Surga) di Gars, Bayern Jerman. Sedangkan kutipan kalimat dari Nelson Mandela saya termukan di sebuah gereja kecil di desa Mühldorf, Stadl, Bayern Jerman. Hal serupa juga saya temukan di beberapa gereja lain di Provinsi Bayern, Jerman.

Gereja Maria Himmelfahrt (Maria Diangkat ke Surga), Gars, Bayern, Jerman. (Foto: Sr. Bene Xavier, MSsR)

Pada awalnya saya bertanya dalam hati, mengapa bukan ayat Alkitab yang ditempelkan di bangku gereja? Mengapa justru mengutip perkataan dari seorang tokoh, yang bahkan bukan seorang Kristiani. Dalam permenungan saya mendapat jawabannya. Inilah keterbukaan Gereja, bahwa ada “kebaikan” juga di dalam diri manusia. Gereja tidak menutup diri bahwa satu-satunya kebenaran dan kebaikan hanya ada di dalam diri Gereja. Jawaban kedua, Gereja Katolik adalah Gereja yang universal, terbuka bagi semua orang baik yang percaya atau tidak pada Kristus.

Sejauh yang saya alami, seringkali kata-kata mutiara atau kutipan Alkitab yang saya temukan, menyentuh hati dan menjadi bahan permenungan kehidupan. Sesuatu yang tidak dicari, ditemukan secara tidak sengaja, tetapi menjadi jalan bagi kemajuan hidup spiritual.

Apa yang saya temukan lewat kutipan renungan di bangku gereja, telah membawa saya pada suatu ritme hidup “nang-ning-nung”. Nang, artinya tenang. Ning, artinya hening dan nung, artinya renung. Sepucuk kertas putih kecil di bangku gereja mengantar saya untuk tenang, hening dan merenung.

Apakah gereja di Indonesia akan mencontoh hal ini?

Sr. Bene Xavier, MSsR dari Munich, Jerman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here