Serah Terima PAUD Mawaddah di Mamuju, Direktur Caritas Keuskupan Agung Makassar, Romo Bernard Cakra Arung Raya: Caritas Bekerja Tanpa Mengenal SARA

111
Pelaksanaan Serah Terima PAUD (Foto: Caritas Makassar)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KONSEP Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) awalnya muncul di sebuah desa kecil bernama Blankenburg, di kaki Pegunungan Harz, Jerman. Friedrich Wilhelm August Fröbel, pada tahun 1840 mendirikan taman bermain (Kindergarten) untuk anak-anak di kota itu. Menurutnya, anak-anak pada usia dini itu selayaknya tunas tumbuh-tumbuhan yang perlu dijaga dan dipelihara dengan perhatian yang sungguh, termasuk membiarkan mereka bergembira dan bermain bersama.

Dalam dunia anak-anak, bermain adalah ekspresi perkembangan kejiwaan tertinggi, karena bermain merupakan ekspresi bebas dari apa yang ada dalam jiwa mereka. Sebuah konsep yang kemudian dilanjutkan oleh seorang dokter di Italia bernama Maria Montessori. Pada tahun 1907 ia mendirikan Rumah Anak (Casa dei Bambini) di San Lorenzo, Roma.

Foto bersama Direktur Caritas Makassar, Manajer Program, Kepala Desa, Sekretaris Camat, Kepala UPTD Pendidikan dan tenaga pengajar. (Foto: Karitas Makassar)

Pendidikan pada anak usia dini, juga diperkenalkan oleh para missionaris yang tiba di Indonesia pada abad ke 18 hingga masa kolonial Belanda. Belajar dari pemikiran Fröbel dan Montessori, sepulangnya dari masa pengasingan di Belanda, Ki Hajar Dewantoro mendirikan Taman Lare atau Taman Anak (Kindertuin) dan merumuskan konsep pendidikan anak usia dini dengan memberi kebebasan yang luas selama tidak ada bahaya yang mengancam, mendorong anak untuk berkembang, dan memberikan contoh atau teladan perilaku.

Pembangunan PAUD di Desa Desa Rantedoda, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, tak lepas dari pemikiran-pemikiran seperti di atas dan sekaligus sebagai salah satu wujud dukungan Caritas (Jaringan Nasional Caritas Indonesia dengan dukungan Caritas Australia) pada masyarakat lokal untuk turut mengembangkan potensi anak-anak.

Dalam acara serah terima unit bangunan tersebut, Direktur Caritas Keuskupan Agung Makassar, Romo Bernard Cakra Arung Raya mengatakan, “Caritas bekerja tanpa mengenal SARA. Dana pembangunan ini berasal dari orang-orang yang berkehendak baik dan ingin berbelarasa bersama masyarakat di sini. Kerjasama yang baik dari semua pihak, khususnya pemerintah Desa Rantedoda, sangat berperan di sini.”

Acara tersebut terselenggara pada 6 Januari 2022 yang lalu. Selain staf Program AO2021/007, mereka yang hadir di antaranya adalah Jaharuddin, SIP (Sekretaris Camat, Kec. Tapalang), Yusuf Rahman (Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kec. Tapalang), Asmil (Kepala Desa Rantedoda), Abdullah (Ketua Komite PAUD Mawaddah), para guru, tokoh masyarakat setempat, dan beberapa perwakilan murid.

“Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Caritas.  Kami tidak menyangka akan mendapatkan bantuan berupa gedung PAUD yang baru dan dilengkapi dengan alat-alat peraga yang memadai serta tempat bermain di luar, “ kata Suhara, seorang tenaga pendidik PAUD.

Sebagian dari Alat Bantu Pendidikan (Foto: Caritas Makassar)

Usia dini dapat menjadi masa yang amat berharga untuk mulai mengenal nilai-nilai kearifan sosial-budaya, etika, dan moral. Sebagai kepala desa setempat, Asmil menyatakan, “Awal pendidikan memang berasal dari keluarga, tapi tetap perlu ada kerjasama antara tenaga didik dan orangtua.” Dalam sambutannya, Asmil juga menyampaikan terimakasih untuk pendampingan Caritas pada kelompok tani.

Acara serah terima PAUD ini bukan sekedar kegiatan serah terima bangunan dan perlengkapan semata. Rangkaian nilai, semangat, dan pemikiran akan pendidikan anak usia dini turut menyertai proses pembangunanannya.

Laporan: Caritas Indonesia (KARINA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here