Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San: Marilah Bercermin pada Yesus

72
Mgr. Silvester San/Dok HIDUP
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 03 April 2022 Minggu Prapaskah V, Yes. 43:16-21; Mzm 126:1-2b, 2c-3, 4-5, 6; Flp. 3:8-14; Yoh 8:1-11

AHLI-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menyeret perempuan yang kedapatan berzinah ke hadapan Yesus. Mereka menggambarkan bahwa perempuan itu telah mendurhakai kesetiaan perkawinan. Menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22), orang yang kedapatan melakukan zinah harus dirajam dengan batu sampai mati. Itulah tuntutan mereka. Lalu, bagaimana jawaban Yesus? Tentu saja Yesus mengalami situasi dilematis: apakah mengikuti hukum Taurat atau mengikuti hukum cinta kasih? Jika ya membiarkannya hidup, Dia akan kehilangan reputasi sebagai sahabat orang berdosa dan melawan hukum Taurat

Dalam situasi dilematis ini Yesus tidak segera memberi jawaban. Dia membungkuk dan menulis di tanah. Perbuatan Yesus ini mengundang banyak interpretasi. Dengan membungkuk dan menulis di tanah, mungkin Yesus memikirkan jalan keluar bagi perempuan itu dan membawanya kembali kepada Allah. Mungkin juga Yesus mau memberi kesempatan kepada ahli Taurat dan orang Farisi bersikap tenang dan merenungkan betapa bengis dan sadisnya sikap mereka itu. Bisa jadi Yesus tidak sampai hati melihat rasa malu yang ada pada wajah perempuan itu, sekaligus tidak mau memandang kemunafikan ahli Taurat dan orang Farisi itu. Boleh jadi Yesus membayangkan bahwa peristiwa semacam itu akan terjadi pula atas diri-Nya, ketika Dia ditangkap di Getsemani dan diadili di muka umum oleh Pilatus dengan hukuman mati ’disalibkan’.

Yesus menulis di tanah, mungkin saja yang ditulis adalah dosa ahli Taurat dan orang Farisi, sambil bertanya apakah mereka yang sadis dan ganas terhadap perempuan ini, tidak pernah berbuat dosa.

Jadi, Yesus bersikap kepala dingin. Ia tidak mau menjadi hakim atas orang lain. Namun, karena terus didesak, akhirnya Yesus memberi jawaban yang bijaksana: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Jawaban ini menempatkan orang orang yang menyeret perempuan itu di dalam posisi yang sulit, karena ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka yang merasa diri tidak berdosa. Saat itu ”pergilah mereka satu persatu mulai dari yang tertua”. Rupanya semakin lama manusia hidup di dunia ini, manusia semakin banyak berbuat dosa.

Dalam peristiwa ini tentu saja Yesus tidak membenarkan perempuan itu, tetapi juga tidak membenarkan ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus tampil sebagai pemberi arah. Kepada perempuan selaku si tertuduh memang harus diberi kesempatan memperbaiki diri. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, ”Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang”. Kepada ahli Taurat dan orang Farisi sebagai si penuduh yang merasa diri suci, Yesus mengingatkan dan menyadarkan mereka bahwa mereka tidak luput dari dosa, dan bisa jadi ada di antara mereka yang lebih jahat dari perempuan itu. Dengan demikian Yesus tampil bukan sebagai tokoh yang menghakimi orang lain, melainkan sebagai tokoh yang penuh pengertian dan suka mengampuni. Dia memang membenci dosa, tetapi mencintai pendosa dengan penuh belaskasihan agar bertobat.

Inilah hal yang mengherankan dan menjadi ironi bagi kita. Yesus yang tidak berdosa, tidak cepat menghakimi manusia. Tetapi sebaliknya kita manusia yang berdosa, mudah menghakimi satu sama lain. Karena itu pantas kalau kita diajak untuk bersikap jujur. Kalau kita tidak jujur, kita selalu menganggap diri kita baik dan orang lain selalu tidak baik. Namun, kalau kita bersikap jujur, kita sadar bahwa kita adalah orang-orang berdosa, dan karena itu kita tidak sewenang-wenang menghakimi sesama yang berdosa. Marilah kita bercermin dan belajar dari Yesus yang mahapengampun, agar kita pun mampu memahami sesama yang berdosa dan memiliki semangat mengampuni seperti Yesus.

Selanjutnya, jika kita sadar bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan, maka ruang pengakuan di gereja tidak pernah kosong dan sepi. Kita perlu ingat bahwa ruang pengakuan bukanlah ruang pengadilan, melainkan ruang pertemuan kita dengan Kristus. Karena itu, pada akhir masa Prapaskah ini, sambil mengampuni sesama yang berdosa, kita juga mau memanfaatkan Sakramen Pengakuan (Tobat) untuk menerima rahmat pengampunan dari Tuhan Yang Mahabelaskasih.

Yesus membenci dosa, tetapi mencintai pendosa dengan penuh belaskasihan agar bertobat.”

HIDUP, Edisi No. 14, Tahun ke-76, Minggu, 3 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here