Hujan Berkat Jatuh di Paroki Lurasik: ‘Altar Sawah’, Berpastoral Kreatif dan Partisipatif

158
Mgr. Dominikus Saku (depan) meninjau sawah Paroki Lurasik diikuti pejabat pemerintah setempat.
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Berpastoral tak lagi berhenti di altar. ‘Altar’ sawah paroki ini menjadi bukti pastoral yang kreatif dan dan partisipatif.

Mengesankan. Satu kata yang patut diucapkan. Sederatan kata sanjung yang layak didengungkan. Mengapa tidak? Kerinduan untuk mendapatkan sesuatu terwujud. Kecemasan dan keraguan seakan lenyap dalam hitungan waktu yang panjang. Ini fakta bukan semata kata hampa. Ada ukiran sejarah indah. Hari dan tanggal penuh warna. Rabu, 6 April 2022 menjadi saat indah untuk selalu dikenang. Tanah Biboki Utara, Paroki Santo Petrus dan Paulus Lurasik, Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) menorehkan satu peristiwa indah. Tak mungkin dilupakan dan sulit untuk dihapus dalam memori kehidupan.

Panen Simbolis

Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku bersama Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Juandi David dan rombongan turut hadir. Bukan semata ingin menyapa umat yang setia menunggu. Namun ada hikmah tersirat yang ingin diwartakan. Ini satu peristiwa sukacita bersulam sejuta inspirasi. Ada panen simbolis padi dengan hamparan luas penuh warna simpatik.

Deretan panjang padi dengan bulir-bulirnya yang bernas dan merunduk seakan menyapa penuh gempita setiap tatapan mata yang menghampiri dengan pujian melangit. Panorama alam yang indah dengan balutan udara sedikit menyengat di siang hari, semakin menambah sukacita penuh persaudaraan. Hasil yang diperoleh penuh perjuangan. Ada tetetan keringat yang mengucur deras. Tenaga dan pikiran menyatu dalam usaha untuk meraih sukses.

Ibadat Pemberkatan

          Panen simbolis padi diawali dengan ibadat singkat yang dipimpin oleh Mgr. Dominikus. Suasana khusuk dan tenang menyelimuti hati yang siap menerima siraman rohani. Dalam nada syukur, Mgr. Dominikus mengundang umat yang hadir untuk selalu menaikkan pujian tiada henti karena Tuhan karena telah menganugerahkan rahmat melimpah bagi umat-Nya. Satu bentuk kebaikan yang diberikan kepada semua orang yang selalu bertekun dalam doa dan kerja.

Mgr. Dominikus Saku memberkati padi sebelum dipanen.

Dalam renungan singkat ia mengulas tentang panenan melimpah. Ini bukti nyata kasih Tuhan bagi kita yang percaya kepada-Nya. “Tuhan memberi panenan berlimpah asal kita juga turut terlibat di dalamnya dan mengolah bumi ini secara baik. Kita diundang untuk bekerja maksimal dengan kemampuan yang dimiliki,” katanya.

Bagi Mgr. Dominikus, anggapan tentang kemiskinan stigmatis hendaknya mulai dihilangkan dengan semangat kerja yang melekat kuat dalam diri kita. Janganlah berpikir minimalis dan bergerak mundur tapi bangkit dan merangkai hidup dengan kerja keras dan cerdas demi hidup yang lebih bermartabat.

“Banyak sekali persoalan yang dihadapi karena orang terlalu berpikir minimalis. Jika mampu bekerja maksimal tentu hasil yang diperoleh akan berguna bagi kehidupan untuk menggapai kesejahteraan yang kita diharapkan,” ujarnya.

Ada Nilai Pastoral

          Apresiasi patut diberikan kepada para imam yang berkarya di Paroki  Lurasik. Ada Romo Urbanus Hala, Romo Dalsi Saunoah, dan Romo Inosensius Nahak Berek. Trio pilihan Tuhan yang telah mendedikasikan hidupnya demi pewartaan Injil dan pelayanan sakramen-sakramen Gerejani. Kerja sama sangat nyata dan terlihat dari hasil yang terpotret. Satu contoh (pilot project) bagi umat untuk belajar bagaimana cara bertani yang benar dengan sistem pengolahan yang maksimal.

Seputar cara pengairan dan pemupukan yang memadai. Segala cara dipakai jika tersandung sedikit kendala dalam perawatan. Komunikasi dengan para petugas pertanian. Juga autodidak dengan pengolahan berbasis pemupukan anorganik. Semua cara dipakai demi perawatan di awal pertumbuhan. Sanjungan selalu mengalir dalam setiap mata yang menatap saat melewati jalur umum di pinggiran sawah.

Gaya berpastoral pertanian dengan memberi contoh. Mengajari umat dengan perbuatan bukan semata dengan merangkai kata. Uskup Dominikus bangga karena kehadiran ketiga imam ini di tengah umat telah memberi satu warna baru. Ia senang karena apa yang disabdakan dalam ekaristi telah nyata dalam medan pastoral.

“Satu contoh yang nyata bagi umat. Para romo sungguh memberikan satu kesaksian hidup yang nyata bagi umat. Mimbar tidak saja ada di Gereja tapi dibawa ke sawah demi karya pastoral. Satu langkah yang luar biasa dan ini menjadi kebanggaan Gereja,” imbuhnya dalam khotbah.

Curahan Hati

          Pengalaman berpastoral telah hadirkan segudang inspirasi. Ibarat hujan dari langit jatuh ke tanah dan memberi kehidupan. Juga cerita yang sama terjadi di Paroki Lurasik. Bertani dengan gaya pewartaan. Menanam sambil menunjukkan kinerja. Rasanya ini pengalaman baru bagi Pastor Paroki Lurasik, Romo Urbanus.

Pemberkatan kolam ikan

Ketika membuka hatinya saat menyampaikan sambutan, ia mengatakan ada kisah unik di balik perjuangan bersama kedua rekan imam untuk mengolah sawah Paroki yang luasnya empat hektar. Ia menuturkan betapa upaya untuk mendatangkan hasil yang maksimal dibutuhkan kerja sama. Ternyata hasil tidak pernah sia-sia jika ditekuni dengan serius. Tidak semata bekerja sendiri tapi juga melibatkan umat. Satu bentuk pemberdayaan yang berbuah manis.

“Pekerjaaan mengolah sawah ini tidak dilakukan sendiri. Justru umat dilibatkan secara nyata. Pembagian pengerjaan dari awal pengolahan hingga akhir. Semua yang dilakukan sebagai model kerja sama dan ini memberi nilai plus. Umat merasa memiliki tempat ini,” kata Romo Urbanus.

Sontak ungkapan ini menuai pujian hadirin. Satu gaya dan model berpastoral partisipatif. Tidak lagi bekerja hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Ada langkah maju dan tentu menuai apresiasi.

Memberi Contoh

          Untuk mendapatkan hasil terbaik tidak terlepas dari daya juang tinggi. Segala cara dipakai. Harus banyak berguru pada orang yang berpengalaman. Salah satu kunci sukses hanya satu. Banyak belajar dari pengalaman hidup orang-orang sukses. Masukan ide dan ingin mencoba ternyata sangat ideal dan berbuah manis. Sistem jarak tanam jajar legowo (jarak tanam dua satu) sangat ampuh. Memang tidak semua orang mengakui jika cara ini berdampak besar pada hasil.

Banyak protes mulai bermunculan di awal tanam. Katanya hanya membuang lahan tanam karena jarak yang sedikit melebar. Dalam ilmu memang demikian. Namun ternyata hasil yang didapat sangat luar biasa.

Di sinilah pembelajaran bagi umat mulai dibangun. Mencoba untuk memulai. Berhasil karena berani mencoba. Butuh kesabaran dan tak mudah untuk menyerah. Benar apa yang dikatakan orang bijak. Hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tetapi belajar menari di tengah badai.

Kata Romo Urbanus bahwa lokasi sawah Paroki Lurasik bukan semata untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ini bukanlah target yang harus dicapai. Namun akan menjadi lahan pembelajaran bagi umat. Justru tujuan utama untuk pemberdayaan ekonomi kreatif bagi umat.

“Lokasi sawah Paroki Lurasik bukan untuk mendapatkan keuntungan tapi sebagai tempat belajar bagi umat dan memberi contoh. Silahkan datang dan belajar di sini,” katanya.

Agrowisata

Ingin sukses memang menjadi impian banyak orang. Keinginan yang sama mulai muncul di buku agenda Paroki Lurasik. Salah satu mimpi ingin menjadikan lokasi sawah menjadi agrowisata. Ini pun bukan pekerjaan gampang. Namun jika dilakukan dengan niat yang tulus dan tanpa harus mengeluh akan menjadikan segalanya indah. Segala bentuk rencana dalam benak akan terwujud.

Penataan lokasi sawah mulai dibenah. Ada rumah untuk tempat berlindung. Semuanya dirancang dari besi. Telihat polos dan eksotik. Jarak pandang tanpa batas dipoles dengan rapi. Seolah ada ‘Cafe Mini’ mangkal di tengah sawah. Untuk menghilangkan penat dan menimbah kekuatan baru.  Di sinilah ditemukan jawabannya.

Ada juga dua kolam ikan nila. Dibalut dengan tanaman hias bunga teratai. Jika fajar merekah, kepakan kelopaknya sangat memanjakan mata. Lokasi pemancingan dengan sedikit polesan dari kayu, dijadikan tempat duduk untuk memandang ikan dari jarak pandang yang begitu dekat. Rasanya tempat ini sederhana. Namun biasnya mendalam untuk merayu suasana hati para pengunjung yang datang. Ternyata hidup itu indah jika kita selalu bersyukur atas semua yang ada.

Sulaman untuk menambah keindahan sawah Paroki Lurasik belum ada ujungnya. Masih ada upaya untuk mempercantik dengan menata lopo-lopo di tengah sawah. Tentu ada kucuran biaya yang harus dikeluarkan. Banyak kendala dihadapi. Apakah dengan ini harus mengalah untuk kalah? Bukan demikian. Upaya penataan memang membutuhkan proses. Biar lambat asal semangat untuk membangun tetap bernyala. Walau baru satu lopo yang dibangun di tengah hamparan sawah. Namun nuansa keindahan untuk dipandang dan dinikmati tak pernah surut apalagi redup.

Lebih Partisipatif

Tak sebatas bangga di akhir kisah ini. Namun sederet tanggung jawab masih meronta dalam hati. Apa yang harus dilakukan lagi? Panen simbolis sebagai cemeti untuk bergegas berbenah. Bersatu hati menyambung rasa. Mengikat harapan merangkai cita-cita demi tujuan hidup yang bernilai. Kehadiran Mgr. Dominikus dan para pejabat pemerintahan setempat memberi spirit untuk bangkit. Saat yang tepat untuk menulis cerita baru di hati.

Paroki Lurasik kini hadir membawa nuansa baru. Merangkai sejuta mimpi untuk kehidupan Gereja yang lebih partipasitif dan kreatif. Tidak ada pilihan lain. Kita merawat bumi ini untuk masa depan yang lebih baik. Berjuang untuk tetap menjadi yang terbaik dalam berpastoral.

Untuk berhasil tak mungkin tanpa usaha. Tentu benar ungkapan klasik. Keberhasilan bukanlah milik orang pintar. Keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha. Hujan berkat selalu ada asal tanganmu tak bosan mengolah bumi tempat kita berpijak. Salam dari Lurasik.

Romo Ino Nahak (Atambua, NTT)

HIDUP, Edisi No. 18, Tahun ke-76, Minggu, 1 Mei 2022       

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here