Dari Konvensi Nasional PUKAT 2022: Tantangan Bagaimana Berprofesi dan Berbisnis yang Bermartabat

59
Saat perarakan persembahan pada Misa Pemukaan Konvensi Nasional PUKAT di Makassar, 27-28 Mei 2022. (Foto: HIDUP)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – KONVENSI Nasional Profesional dan Usahawan Katolik (Konvenas Pukat) di Makassar, Sabtu-Minggu, 28-29 Mei 2022  diwarnai dengan sebuah pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan dan eksistensi komunitas kategorial yang sejarah awalnya bermula dari Keuskupan Surabaya itu.

Apalagi jika keberadaan itu dihubungkan dalam konteks zaman ini yang didominasi oleh arus raksasa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi alias era digital.

Era yang secara mendasar mengubah struktur dan pola kehidupan manusia, termasuk di dalamnya bagaimana mengelola dan mengembangkan profesi dan bisnis. Dan, dalam dua tahun teraknir ini, dunia dihantam oleh badai pandemi.

Pandemi yang memorak-morandakan dunia profesi dan bisnis. Jutaan orang yang terkena dampak langsung dari pademi ini. Mereka kehilangan pekerjaan karena perusahaan-perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja karena perusahaan-perusahaan tersebut terpaksa harus tutup atau gulung tikar.

Kita besyukur bahwa pada saat Konvenas berlangsung, suasana sosial sudah mulai pulih dari tekanan dahsyat karena pandemi. Konvenas sendiri terpaksa ditunda dari bulan Februari ke Mei karena menyebarnya virus omikron yang sempat menambah kekuatiran secara global.

Dalam waktu yang relatif singkat, terpaan gelombang virus ini dapat segera terkendali sehingga kehidupan umat manusia mulai menggeliat lagi. Dunia kerja dan dunia bisnis berderap, berdenyut, dan bergerak kembali secara perlahan-lahan.

Sebagai sebuah komunitas para profesional dan pebisnis, Pukat ditantang untuk menjadi salah satu sarana atau tanda kehadiran kerajaan Allah di dunia. Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Tantangannya justru di titik krusial ini.

Suasana Pleno pertama Konvenas. (Foto: HIDUP)

Bagaimana misalnya menjalankan bisnis secara bermoral atau beretika, bermartabat, peduli pada semama dan lingkungan di tengah kondisi perbisnisan yang sarat dengan korupsi, kolusi, dan nepostisme.

Para pengusaha kerapkali harus menempuh cara-cara yang secara moral tidak dapat dipertanggungjawabkan karena rumitnya tali-temali bagaimana mengurus secarik surat izin misalnya. Patgulipat!

Dalam Konvensi keempat ini, pertanyaan tentang keberaadan komunitas ini kembali menguat. Bagaimana Pukat dapat menghadirkan wajah atau bahasa lebih luas lagi, kerajaan Allah di tengah situasi seperti ini.

Mengingat pula orang-orang yang terlibat dalam organisasi ini adalah para profesional dan usahawan berlabel Katolik. Sebuah predikat yang tidak ringan tentunya. Tugas perutusan yang mereka emban dalam situasi carut-marut dunia profesi dan usaha yang masih jauh dari kondisi yang ideal sebagaimana diharapkan oleh semua pemangku kepentingan.

Tema yang diusung dalam Konvenas ini amatlah mulia, Membangun Ekonomi Inklusif yang Berkeadilan Sosial, Bersaudara dan berkelanjutan, dengan sub tema, Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah.

Kini (pasca Konvenas) saatnya, para profesional dan usahawan Katolik ditantang, bagaimana mengimplementasikan tema besar ini dalam praktik berprofesi dan berbisnis. Mereka tak hanya didorong untuk menciptakan kemaslahatan umat Katolik saja tetapi juga berbakti untuk bangsa dan negara yang terus berupaya untuk keluar dari krisis ekonomi global ini.

Peserta Konvensi Nasional PUKAT di rumah dinas, Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Foto: Panitia)

HIDUP, Edisi No. 23, Tahun ke-76, Minggu, 5 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here