Berkarya dengan Hati: Dari Latar Belakang yang Berbeda, Mereka Menjadi Satu Keluarga.

38
Para Suster SS.CC yang tinggal di Komunitas Pondok Aymer Bandung.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – SETAHUN setelah Kongregasi Suster Hati Kudus Yesus dan Maria atau Sister of Sacred Hearts (Suster SS.CC) di Indonesia berdiri tahun 1997, seorang Suster SS.CC asal Klaten mengucapkan kaul pertamanya pada 22 Juli 1998. Namanya Suster Puji Hastuti Anastasia, SS.CC yang akrab disapa Sr. Anas. “Saya merupakan angkatan percobaan dan pertama di Indonesia,” tuturnya dari Salamanca, Spanyol saat dihubungi HIDUP via zoom pada Sabtu, 11/6/2022.

Sr. Puji Hastuti Anastasia, SS.CC

Terhitung sejak 1994 ia menjadi aspiran bersama dua orang aspiran di Bandung, Jawa Barat. Tetapi dua rekan seperjalanannya itu mengundurkan diri ketika akan beranjak ke tingkat novis. Perkenalannya dengan SS.CC dimulai saat ia bermukim di kota kembang itu. Di sana tempat tinggalnya dekat dengan Paroki Santo Michael Waringin yang dikelola oleh para imam SS.CC. Namun, ketertarikan pada SS.CC belum muncul kala itu. Hatinya justru terpaut saat mengikuti acara promosi panggilan di Paroki Santo Laurentius Bandung.

Jatuh Hati

Benar adanya, tak kenal maka tak sayang. Antusiasme Anas muda kepada SS.CC muncul saat mendengarkan pemaparan Pastor Rolf Reichenbach, SS.CC. Ia pun mengenang dua hal yang dijelaskan Pastor Rolf, yakni, pertama, identitas SS.CC yang disebutkan bahwa SS.CC adalah kongregasi satu, tunggal, namun terdiri dari tiga bagian yaitu para saudara (bruder dan pastor), para saudari (suster), dan cabang awam. Kedua, SS.CC memiliki spiritualitas misioner berdimensi internasionalitas yang anggotanya siap sedia untuk diutus di mana pun kongregasi hadir. Semangat pelayanan di tempat terpencil dan memprioritaskan mereka yang membutuhkan dan miskin juga menjadi salah satu nafas hidup kongregasi ini.

Manasik haji bagi anak-anak PAUD Hati Kudus yang beragama Islam.

Hati Anas muda kian terbakar saat mendengar kisah Santo Damian, seorang imam SS.CC yang diutus bermisi ke Molokai. Di sana ia memilih untuk melayani bersama orang kusta dan akhirnya terjangkit kusta dan meninggal. “Dari situ hati saya terusik ingin mengenal SS.CC lebih dalam lagi. Apalagi saya terheran-heran saat tahu ada susternya,” kenangnya.

Kelahiran 22 Juli 1967 ini pun mulai rutin mengunjungi Seminari Damian tempat para frater yang sedang studi teologi di Universitas Parahyangan bermukim. Harapannya bisa berjumpa dengan salah satu suster, tetapi mereka belum ada kala itu.

Kunjungan kepada para saudara SS.CC itu begitu berkesan bagi Anas. Ia merasakan betul nuansa kekeluargaan yang kuat dan kesederhanaan hidup. Mereka menyambutnya sebagai saudara bukan sebagai orang asing. “Dari situ saya merasa at home dengan Kongregasi ini,” akunya. Lambat laun hatinya mantap ingin menjadi suster SS.CC.

Sempat Galau

Tantangan menjawab panggilan makin terasa saat dua rekannya memutuskan berhenti. Tinggallah ia sendiri. Diakui hatinya sempat goyah. Tetapi dengan kepercayaan penuh kepada Yesus, ia kembali membenamkan dirinya dalam doa dan diskresi. Melalui doa, ia mendapatkan suatu inspirasi dan dorongan yang kuat untuk terus mengatakan “Ya”. Untuk itu disadari betul olehnya bahwa “Ya” untuk SS.CC adalah inspirasi dari Tuhan sendiri. “Sebagai manusia untuk mengatakan ya kepada diri sendiri saja ragu tapi bersama, dalam, dan untuk Tuhan saya bisa mengatakan ya untuk SS.CC walaupun tidak tahu akan seperti apa masa depan,” sebutnya.

Jawaban itu pun berbuah. Sr. Anas yang lahir dalam keluarga Muslim dan memutuskan dengan kesadaran penuh untuk dibaptis menjadi seorang Katolik saat duduk di kelas dua SMP dan dalam iman menjawab panggilan hidup membiara ini pun semakin mengenal siapakah Yesus itu. Dahulu setelah dibaptis, ia memandang Yesus sebagai sosok yang senantiasa selalu bersama dengan orang lain tidak pernah sendiri. Ketika di novisiat hingga kini ia tahu dan yakin bahwa Yesus adalah Tuhan. Melalui Perayaan Ekaristi dan adorasi imannya akan Kristus ini semakin mengakar kuat.

Untuk itu, suster yang sedang berkarya di Komunitas Novisiat Internasional Manila, Filipina sebagai pendamping novis ini berpesan khususnya kepada orang muda agar berani menjadi saksi iman dan mau meluangkan waktu tiap hari, bersedia untuk dijumpai oleh Yesus melalui doa dan Ekaristi sebab Tuhan senantiasa ingin selalu berjumpa. “Pada dasarnya semua panggilan itu indah. Saya berdoa semoga kaum muda juga berani mengatakan ya pada panggilan hidup membiara,” tegas biarawati yang sudah mencecap 24 tahun hidup membiara ini dengan riang.

Pendidikan Hati

Selain Sr. Anas, sosok Pastor Rolf Reichenbach, SS.CC juga berarti bagi Sr. Kristina Lipat Samon, SS.CC dalam masa panggilannya. Berasal dari Pulau Adonara, Flores Timur, Kristina nekat merantau ke Batam karena keluarga tidak mengizinkanya memilih hidup membiara. Sampai di Batam, ia bekerja di sebuah perusahaan elektronik, berkat ketekunan dalam bekerja ia dapat menyekolahkan adik-adiknya dan serius merencanakan untuk memilih hidup berkeluarga.

Manusia bisa berencana tapi Tuhan yang berkehendak. Kristina bertemu Pastor Rolf di Stasi Maria Pembantu Abadi, Tembesi (sekarang sudah menjadi paroki). Bukan pertemuan pertama, Kristina ingat pernah bertemu dengan Pastor Rolf semasa sekolah dulu. Dalam pertemuan di Batam, kelahiran Sandosi, Flores Timur, 15 Desember 1969 ini menceritakan segala liku-liku perjalanan hidupnya kepada Pastor Rolf.

“Beliau mengatakan bahwa ia melihat panggilan dalam diri saya itu kuat sekali. Dan, saya jodohnya SS.CC. Awalnya saya tidak mengerti dan tidak tahu kalau SS.CC mempunyai cabang putri. Sejak itu, beliau menjadi pembimbing rohani saya,” tutur Sr. Kristina.

Sr. Kristina Lipat Samon, SS.CC

Tahun 1999, Kristina sudah mantap dengan keputusannya hidup membiara,  meninggalkan pasangannya dan bertolak ke Bandung untuk bergabung dengan Suster SS.CC.  Ia mengikrarkan kaul pertama pada tanggal 10 Mei 2003 di Filipina. Panggilan Tuhan menumbuhkan sukacita bagi Sr. Kristina, keluarganya pun akhirnya menerima ketika melihat Kristina gembira dan sehat setelah bergabung di SS.CC.

Hidup membiara selama 15 tahun ini, Sr. Kristina mencoba menghidupi spiritualitas SS.CC dalam keseharian dan melatih kepekaan terhadap gerak roh. Selain itu, ia belajar untuk mengasihi dan mengampuni satu sama lain.

“Saya menemukan bahwa  rupayanya Tuhan tahu, dengan kerapuhan dan keterbatasan saya ini, Tuhan memasukan saya dalam pendidikan hati supaya saya bisa belajar terus menerus,” terangnya.

Penumpangan Patung Maria Ratu Damai untuk para suster yang diutus ke misi baru.

Ia juga belajar bahwa cinta itu menghidupkan. Sr. Kristina gemar menanam Anggrek. Suatu kali ada Anggrek yang sudah tidak berbunga lagi. Tapi Sr. Kristina tetap menyiraminya. Alhasil, Anggreknya berbunga kembali. Maka dari situ, Sr. Kristina belajar melayani dengan kasih.

Menjawab Kebutuhan

Setelah kaul pertama, Sr. Kristina berkarya di Kawasan Blok Beas, Bandung, membantu warga sekitar yang berkekurangan. Baginya, hal ini juga yang menjadikan keunikan Suster SS.CC selain para susternya tidak memakain jubah, karya mereka menjawab kebutuhan yang ada. Melihat kondisi kemiskinan di sekitar, mereka ingin mengubah pola pikir  dan masuk dari ranah pendidikan. Sehingga didirikanlah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sr. Kristina yang menjadi Pengelola Paud Hati Kudus.

Murid-murid di Paus Hati Kudus sangat beragam. Sr. Kristina menuturkan bahwa murid-murid diajarkan menghargai orang lain. “Ketika berdoa bersama, kami ajak mereka doa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan disebutkan, misal yang Katolik membuat tanda salib, yang Islam membuka dengan Bismillah. Kami membiarkan mereka melihat temannya agar ternanam toleransi. Di Paus Hati Kudus, semangat kebhinekaan sangat tinggi,” ungkapnya.

Masuk usia ke-25 tahun bagi Kongregasi Suster SS.CC Indonesia, Sr. Kristina sungguh berharap  adanya tumbuh tunas-tunas baru, sehingga menghasilkan buah yang melimpah serta semoga banyak orang bisa merasakan kasih.

Jadi Diri Sendiri

Sr. Anastasia Imaniar Rusani, SS.CC akrab disapa Sr. Ima, turut mengisahkan panggilannya sampai akhirnya menjadi anggota Suster SS.CC yang paling muda. Ketika masih kecil dulu, Ima melihat tetangga yang hidup membiara di Kongregasi CB. “Beliau terlihat happy terus dan berkarya kesana kemari. Menjadi biarawati adalah cita-cita masa kecil saya. Tapi keinginan itu saya simpan saja,” jelas Sr. Ima.

Sr. Anastasia Imaniar Rusani, SS.CC

Suatu hari di tahun 2010,  ketika Minggu Panggilan, Ima tertarik dengan sosok Suster SS.CC yang tidak berjubah. Kok ada ya? Ima pun mengunjungi komunitas mereka di Yogyakarta. Setelah ia berkunjung, ia mengira ini cara Tuhan untuk membangkitkan kembali keinginannya yang sudah terpendam itu.

“Akhir 2013 saya memutuskan untuk masuk dan menjadi aspiran. Kemudian Kaul Pertama pada tanggal 18 Mei 2018. Yang saya rasakan selama menjadi Suster SS.CC adalah saya bisa menjadi diri saya sendiri. Teman-teman saya bilang setelah jadi suster kok enggak ada perubahan. Tetap bisa menjadi diri sendiri dan saya merasa menjadi pribadi yang semakin bersyukur ” ungkapnya.

Suster SS.CC fokus pada pelayanan masyarkat sehingga mereka blend in dengan yang dilayani. Menurut Sr. Ima, tidak menunjukan diri dengan jubah tapi dengan hati. Inilah cara kami melayani masyarakat. Selain itu, Sr. Ima merasakan spiritualitas kekerluargaan yang sangat erat di SS.CC. Tidak heran, ia merasa tidak di biara tapi di tengah-tengah keluarga.
Mendampingi

Kelahiran Karanganyar, 14 Mei 1987 ini bertugas studi di Yogyakarta, tepatnya di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” mengambil jurusan pembangunan Sosial dan sekarang sudah rampung.   Menurutnya, karya Suster SS.CC adalah pendampingan masyarakat sehingga harus mengerti keadaan sosialnya.

“Saya membantu karya sosial kami di Desa Gantang. Kami mendampingi misdinar dan pendidikan informal. Kami mempunyai anak-anak asuh, mengajarkan mereka, jadi ada semacam kegiatan tutor untuk SD- SMP, serta mendampingi OMK juga. Enggak hanya di Desa Gantang tetapi juga di Kawasan Baciro,” tuturnya.

Para relawan memberikan pengajaran kepada anak-anak di Dusun Gantang, Jawa Tengah.

Baginya, pendidikan itu jembatan bagi anak-anak untuk mempunyai masa depan yang lebih baik.  Maka dalam kegiatan tutor, anak-anak tidak hanya mendapatkan tambhan ilmu tapi mengedukasi tentang kesehatan dan kebersihan.

“Kami bekerja sama dengan Lembaga Realino, Keuskupan Agung Semarang dan KPTT Salatiga, serta donatur lainnya. Untuk mengajar, ada relawan dan OMK yang membantu. Selama ini, kami sebagai jembatan. Jadi kami membantu mereka untuk mendapatkan beasiswa. Mereka yang harus berusaha untuk mendapatkan itu. Sebagai yang membimbing, kami juga mengubah pola pikir mereka agar bisa melihat peluang-peluang,” terangnya.

Sr. Ima sangatlah  bersyukur, dari kegiatan tutor, banyak yang sudah lulus dari SMA/SMK bahkan dari perguruan tinggi.

Setelah 25 tahun Suster SS.CC Indonesia, Sr. Ima ikut mendoakan agar semakin banyak orang muda yang terpanggil menjadi anggota. Walaupun masih sedikit anggotanya, ia berharap agar semakin kompak dan terbuka dalam perkembangan zaman.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No. 25, Tahun ke-76, Minggu, 19 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here