Suster Iris Jean Abella Bermiso, MAST: Panggilan yang Membebaskan

359
Suster Iris Jean Abella Bermiso, MAST
4.7/5 - (4 votes)

HIDUPKATOLIK.COMSikapnya itu bak Nabi Yunus yang tidak taat dan lari dari misi yang diberikan Tuhan. Namun segera ia tahu bahwa “obat” bagi dahaga dan laparnya hanya bisa diperoleh dari misi itu.

KISAH iman suster berparas manis asal Filipina, Sr. Iris Jean Abella Bermiso, MAST sempat viral beberapa bulan lalu di Facebook. Pada 29 November 2022, ia mengunggah kisah panggilannya itu di laman Facebooknya dalam rangka Promosi Bulan Panggilan di Keuskupan Tagbilaran, Filipina. Cukup banyak akun Katolik yang mensharekan kisah panggilannya itu. Kisah yang dibagikan sebanyak 345 kali dan memperoleh likes sebanyak 898 itu ia sebut sebagai “Kisah Cintanya”.

Keluarga dan Sekolah Katolik

Dengan rendah hati biarawati dari Kongregasi Minores Ancillae Sanctissimae Trinitatis (Pelayan Kecil Tritunggal Mahakudus) atau yang dikenal sebagai Suster MAST itu mengisahkan latar belakang keluarganya. Ia lahir sebagai seorang Katolik dan merupakan anak bungsu dari enam bersaudara.

“Saya adalah produk dari keluarga yang berantakan,” akunya. Meskipun demikian, ia bersyukur dan merasa diberkati dengan memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah Katolik sepanjang masa kecilnya. Tahun-tahun yang dihabiskan di sekolah itu tidak hanya membentuk pikiran dan kecerdasannya tetapi juga membentuk moral dan nilai hidupnya.

Selain itu, ia menyebutkan sang nenek, Flora Bermiso membantunya menanam benih cinta padanya kepada doa. “Nenek sayalah yang memperkenalkan saya dan saudara-saudara saya berdoa Rosario, novena, dan menghadiri Misa setiap hari Minggu,”ungkapnya.

Suster Iris Jean Abella Bermiso, MAST sedang memberi susu kepada bayi.

Tumbuh dewasa, ia banyak mengenal biarawati dari bibinya yang merupakan saudara perempuan ayahnya. Saat itu bibinya yang berusia 29 tahun mendirikian tarekat tempatnya berada sekarang. Dekat dan kenal dengan para suster serta kehidupan biara, ia dapat menyaksikan sebuah sukacita dalam melayani sesama. Mulai dari makan, berolahraga, bekerja, dan berdoa semuanya dilakukan bersama-sama.

“Kenangan terbaik yang saya miliki bersama mereka adalah ketika saya dan saudara saya berpartisipasi dalam kegiatan pujian dan penyembahan mereka setiap Jumat malam,” tuturnya.

Menyanyi dan menari bersama suster membawa sukacita tersendiri baginya. Ia begitu tertarik dengan cara hidup para biarawati sampai-sampai membayangkan dirinya sendiri mengenakan jubah biru dan putih mereka. Padahal ia masih duduk di bangku SD kala itu.

Seiring berjalannya waktu, ia tidak hanya menyaksikan sukacita para biarawati tetapi juga perjuangan, kekurangan, dan kelemahan mereka yang sebelumnya ia tak sadari. Dari situ, ia mulai memahami beban dan tanggung jawab menjadi seorang biarawati.

“Ini adalah panggilan radikal untuk hidup bagi Tuhan,” ujarnya. Bagaimana tidak? Menjadi seorang biarawati berarti harus menyangkal diri, melepaskan diri dari hal-hal duniawi, dan menjalani kehidupan yang didedikasikan hanya untuk Tuhan. Dari situ ia mulai memikirkan ulang untuk menjalani kehidupan religius.

“Karena saya datang dari keluarga berantakan, saya ingin sekali membangun keluarga yang lengkap dan bahagia ketika saya besar nanti,” ungkapnya jujur.

Ia begitu memiliki keinginan besar untuk menjadi seorang ibu, menikah, dan memiliki banyak anak. Meskipun tertarik pada kehidupan religius, ia memutuskan tidak ingin menjadi biarawati karena itu menghalangi keinginannya untuk membangun keluarga sendiri kelak.

Bak Nabi Yunus

Karena bertujun untuk masuk dalam kehidupan pernikahan maka Iris menjalin hubungan ganda selama masa ia duduk dibangku kuliah. Ia mencari sosok laki-laki yang dapat memenuhi keinginannya untuk membangun sebuah keluarga. Dalam benaknya, untuk memenuhi tujuann tersebut yakni, membangun keluarga yang lengkap dan bahagia, ia perlu menemukan sosok laki-laki yang dapat menawarkan cinta yang benar dan sempurna. Namun sayang, dalam kekecewaan, Iris tidak dapat menemukan sosok itu dalam diri semua laki-laki yang pernah ia kencani.

“Dalam lubuk hati yang terdalam saya tahu bahwa ada sesuatu yang kurang dan bahwa saya dipanggil untuk sesuatu yang lebih,” ungkapnya.

Tetapi kekerasan hati Iris membuatnya tidak ingin mengakuinya. “Saya tahu bahwa Tuhan memanggil dan mengundang saya ke jalan yang berbeda, tapi saya yang keras kepala ini mengabaikan panggilan itu dan menolak ajakan menjadi suster,” imbuhnya lagi.

Hatinya kian keras hingga ia membujuk dirinya sendiri untuk ikut berpesta, minum minumam beralkohol, bahkan terjun ke area gelap narkoba. Semuanya itu ia lakukan agar Tuhan kecewa padanya. “Klo saya nakal pasti Tuhan akan mencabut panggilan ini dariku,” ujarnya lirih.

Sikapnya itu bak nabi Yunus yang tidak taat dan lari dari misi yang diberikan Tuhan. Bak Nabi Yunus yang tidak taat dan lari, ia juga seperti Yunus yang jatuh di laut gelap yang mengamuk.

“Saya juga jatuh dalam kegelapan dan keputuasaan saat saya melarikan diri dari Tuhan,” akunya pedih.

Hari demi hari, kerinduan pada Tuhan terus menumpuk di dalam relungnya hingga tak tertahankan. Ia menyebut dirinya begitu haus. Kehausan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan minum air atau mencari kebahagiaan lahiriah.

“Dahagaku begitu tak tertahankan. Hatiku gelisah. Jiwaku begitu haus akan Tuhan,” ungkapnya.

Di titik itu, ia menyadari sepenuhnya bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat sepenuhnya memuaskan dahaga dan lapar spiritualnya akan cinta yang sempurna. Akhirnya menyadari semuanya itu, ia pun mengatakan “Fiat”nya sendiri. Ia memutuskan untuk memperhatikan panggilannya untuk hidup religius. Meskipun ketika itu hatinya masih diliputi keraguan.

Obat Dahaga dan Lapar

“Saya mengambil risiko dengan mengatakan Ya kepada Yesus!,” ujarnya mantap. Dengan langkah itu, ia pun mengikuti tahun-tahun pembinaannya di Manila. Di tahap itu, ia terus menerus bertanya kepada Tuhan mengapa Dia menaruh keinginan di hatinya untuk menjadi seorang ibu jika tidak dipanggil untuk hidup berumah tangga.

Iris pun larut dalam permenungannya. Ia terus merenungkannya hingga sampai pada satu kesimpulan.

“Tuhan memberi keinginan di hati saya untuk menjadi seorang ibu untuk mencintai melebihi keluarga duniawi saya sendiri dan mencintai setiap anak-Nya seolah-olah mereka adalah anak saya sendiri,” ungkapnya dengan senyum cerah.

Ia juga menyadari bahwa hatinya terlalu besar untuk mencintai hanya satu laki-laki. “Saya merasa sangat diberkati sekaligus bersyukur karena dicintai oleh Cinta yang sempurna,” ujarnya lirih.

Suster Iris Jean Abella Bermiso, MAST dengan sukacita menjaga dan merawat anak-anak.

Tambahnya lagi, “Saya menyadari bahwa cinta semacam itu dimaksudkan untuk dibagikan kepada orang lain. Hati saya dibuat untuk Tuhan dan untuk mencintai semua anak yang akan datang dalam hidup saya dan semua orang yang akan saya temui.”

Penemuan panggilan cintanya itu membawa ia pada tugas baru. Kini Suster Iris ditugaskan sebagai saudari yang bertanggung jawab di kantor pusat MAST untuk merawat anak-anak terlantar dan yatim piatu.

“Memberi lebih banyak dari diri saya kepada mereka adalah kasih Kristus yang bekerja dalam diri saya sebagai panggilan sebagai seorang suster,” sebutnya.

Hingga hari ini, ia begitu terkagum dan terpesona bagaimana Tuhan menggunakan masa laluny ayang hancur serta kelemahannya demi kemuliaan kerajaan-Nya. Sebelumnya ia selalu bertanya dalam hati mengapa Tuhan mengizinkan dia merasakan sakitnya memiliki keluarga yang hancur. Namun sekarang ia mengerti dan berterima kasih kepada Tuhan karena membiarkan pengalaman pahit itu terjadi.

“Mudah bagi saya untuk berempati dengan anak-anak yang kami asuh karena saya tahu benar dan mengerti perasaan sakit dan lemah itu,” tukasnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No.07, Tahun ke-77, Minggu, 6 Februari 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here