Ketua Lembaga Biblika Indonesia Romo Albertus Purnomo, OFM: Seperti Angin dan Api Roh Kudus

284
Romo Albertus Purnomo, OFM
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 28 Mei 2023 Hari Raya Pentakosta Kis.2:1-11; Mzm.104:1ab, 24ac, 29c-30, 31, 34; 1Kor.12:3b-7, 12-13; Yoh.20:19-23

DALAM sebuah homili pada hari Raya Pentakosta (2006), Paus Benediktus XVI berkata, “Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun dengan penuh kuasa ke atas para Rasul. Dengan demikian dimulailah misi Gereja di dunia. Yesus sendiri telah mempersiapkan kesebelas Rasul untuk misi ini, dengan menampakkan diri kepada mereka dalam beberapa kesempatan setelah kebangkitan-Nya. Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Ia memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan Yerusalem, tetapi menantikan janji Bapa. Ia meminta mereka agar tetap tinggal bersama untuk mempersiapkan diri mereka menerima karunia Roh Kudus.” Turunnya Roh Kudus menandai permulaan era baru kehadiran Allah di dunia melalui gereja-Nya.

Tidak salah jika Pentakosta sering dianggap sebagai hari lahirnya gereja. Sebab, sejak itu, gereja awal di Yerusalem akhirnya berani bergerak keluar mewartakan Injil keselamatan Allah. Tanpa ‘Pentakosta’, makna ‘Paskah’ terasa kurang lengkap. Jika kebangkitan Kristus telah mengalahkan rasa takut dan putus asa para murid, turunnya Roh Kudus telah menghidupkan dan mengobarkan jiwa dan semangat mereka. Jadi, Pentakosta ibarat ‘Big Bang’ (ledakan dahsyhat) gereja perdana.

Sekarang marilah kita sejenak melihat peristiwa yang disebut Pentakosta itu. Pentakosta sejatinya adalah salah satu hari raya orang Yahudi (Kis. 2:1), yang juga disebut Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot). Hari raya ini mengenangkan masa di mana bangsa Israel tinggal di padang gurun Sinai setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Lebih daripada itu, Pentakosta Yahudi adalah kenangan akan turunnya Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa. Ini penting lantaran Taurat adalah sabda sekaligus perintah Allah yang mengarahkan bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya.

Seperti halnya bangsa Israel, pada hari Pentakosta, gereja perdana menerima karunia luar biasa, yaitu Roh Kudus yang dijanjikan Bapa. Roh Kudus ini sejatinya adalah Roh Allah sendiri yang menuntun, mengarahkan, dan mendampingi gereja dalam menjalankan tugas dan misinya, yaitu mewartakan Injil keselamatan di seluruh dunia. Apakah ini sebuah kebetulan bahwa karunia Roh Kudus bagi gereja perdana terjadi pada saat bangsa Yahudi merayakan karunia Taurat dari surga?

Fenomena alam yang dialami gereja perdana ternyata mirip dengan apa yang dialami bangsa Israel di Sinai. Di Gunung Sinai, ketika Taurat diberikan kepada umat Israel, kehadiran Allah ditandai dengan asap dan api (Kel. 19:18). Di Yerusalen, ketika Roh Kudus turun, ‘lidah-lidah seperti nyala api’ bertebaran dan hinggap di atas mereka masing-masing (Kis.2:3-4). Lebih daripada fenomena di Sinai, di Yerusalem, kehadiran Roh Kudus ditandai dengan bunyi seperti tiupan angin keras.

Kehadiran Roh Kudus pada hari Pentakosta ini dinyatakan jelas sekali dalam wujud angin dan api. Tentu saja, fenomena ini tidak perlu harus ditafsirkan secara harafiah. Seolah-olah angin besar dan api menyelinap masuk di tengah-tengah mereka dan lantas merasuki mereka. Ini bisa juga dipahami sebagai simbol yang memiliki pesan khusus. Bisa jadi, itu adalah perasaan atau sensasi kehadiran daya kekuatan Ilahi seperti angin yang keras dan nyala api yang terang. Yang jelas, turunnya Roh Kudus adalah sebuah pengalaman spiritual Gereja perdana.

Kedua simbol Roh Kudus, angin dan api ini, secara tidak langsung mengandung pesan tersembunyi bagi gereja dari zaman ke zaman. Maksudnya, gereja diharapkan untuk berperan seperti angin dan api bagi dunia. Seperti angin (Ibrani: ruah/roh), gereja kiranya terus bergerak dan bergerak secara dinamis tanpa henti dalam mewartakan Injil keselamatan dalam perkataan dan perbuatan seperti gereja perdana dahulu. Seperti api, gereja hendaknya bertransformasi sebagai ‘obor’ yang membakar semangat orang lain untuk terus berjuang menengakkan kedamaian dan keadilan di dunia.

Inilah arti penting Pentakosta bagi Gereja sekarang ini. Jika Gereja tidak terus bergerak dan membangkitkan semangat, Gereja seperti telah kehilangan Roh (Kudus)nya. Merayakan Pentakosta pertama-tama bertujuan agar Gereja semakin sadar untuk tidak takut dan pasif, berani untuk bergerak dan bermanfaat bagi dunia. Dari hari ke hari, Gereja selalu ditantang untuk menjadi seperti angin dan api Roh Kudus.

“Pentakosta sejatinya adalah salah satu hari raya orang Yahudi (Kis. 2:1), yang juga disebut Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot).”

HIDUP, Tahun ke-77, Edisi No. 22, Minggu, 28 Mei 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here