Bangkit dari “Kematian” Lewat Perantaraan St. Arnoldus Janssen

238
Pamela Avellanosa (tengah, baju putih bermotif) dan Pastor Benediktus Bere Mali, SVD (mengenakan kemeja berkolar) bersama anggota Paguyuban Soverdia (HIDUP/Katharina Reny Lestari)
5/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Pamela Avellanosa masih berumur 14 tahun ketika kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawanya terjadi. Kala itu awal tahun 1995, tepatnya sehari setelah perayaan tahun baru. 

Siang hari itu, sekitar pukul 14:00 waktu setempat, ia bermain sepeda bersama beberapa saudara sepupunya di sebuah bukit curam di Kota Baguio, Filipina. Ia mengayuh sepeda dengan begitu bersemangat hingga akhirnya kehilangan kendali dan keseimbangan. Saking paniknya ia menginjak rem. Namun ia justru terpelanting. Dan kepala bagian kiri terbentur jalan beraspal cukup keras. Darah pun mulai mengucur.

Ia segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun fasilitas di rumah sakit ini tidak lengkap. Computed Tomography Scan (CT Scan), misalnya, belum tersedia. Belum lagi para dokter magang, yang setelah melakukan diagnosa, mengatakan bahwa ia mengalami cedera ringan dan hanya perlu mendapat beberapa jahitan. Meski demikian, ia terus menangis dan berteriak kesakitan.

Beberapa jam kemudian ia muntah. Saat itulah bibinya mulai menyadari bahwa ia mengalami sesuatu yang serius. 

Ia hendak dibawa ke rumah sakit lain tapi para dokter magang melarangnya. Alasannya, mereka tidak mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padanya selama dalam perjalanan. Namun akhirnya ia berhasil dibawa ke rumah sakit lain, sekitar 20 menit perjalanan, setelah terjadi argumentasi hebat antara para dokter magang dan bibinya dan juga penandatanganan surat perjanjian.

Memburuk

Pamela Avellanosa (kiri) saat meceritakan kisahnya di hadapan anggota Paguyuban Soverdia (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Dalam perjalanan, ia kehilangan kesadaran. Kedua pupilnya melebar, kuku-kukunya mulai membiru, Setiba di rumah sakit tersebut, kondisinya semakin memburuk. Tubuhnya dingin, jantungnya berhenti berdenyut. 

Neneknya, yang kala itu sudah mengetahui tentang mukjizat terakhir yang dibutuhkan untuk kanonisasi Beato Arnoldus Janssen, berdoa kepada Tuhan melalui perantaraannya. Neneknya juga berusaha mencari seorang dokter yang dapat menyembuhkannya. 

Usahanya berhasil. Dokter tersebut, meski awalnya tidak berniat melakukan tindakan medis apa pun, akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi setelah merasakan suatu dorongan. Dokter ini menemukan gumpalan darah sebesar tiga inci dengan volume 350 ml. Ini yang menyebabkan ia mengalami kematian otak selama berjam-jam.

Mukjizat

Keluarganya tak pantang menyerah. Mereka, bersama para biarawati Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi (SSpSAP), berdoa novena penyembuhan orang sakit melalui perantaraan Beato Arnoldus Janssen. 

“Saya bangun setelah hampir dua minggu koma pada tanggal 15 Januari (1995), tepat pada Hari Raya St. Arnoldus Janssen,” kenang Pamela.

Akhirnya, setelah melalui penyelidikan panjang, mukjizat kesembuhannya membuka jalan bagi proses kanonisasi Beato Arnoldus Janssen, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2003, oleh Paus Yohanes Paulus II.

Sharing   

Pamela menceritakan kisahnya kepada puluhan anggota Paguyuban Soverdia dari Paroki Matraman dan Paroki Pademangan pada Selasa (7/5/2024) malam di kompleks Gereja Santo Yoseph, Matraman, Jakarta Timur.

Hadir pula pada pertemuan “Sharing of Faith” tersebut Kepala Paroki Matraman, Pastor Benediktus Bere Mali, SVD.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan selama ia mengunjungi Jakarta dan beberapa kota lain sejak awal bulan ini.   

Katharina Reny Lestari

   

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here