Peringati HUT Ke-217, KAJ Gelar Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama

266
Kardinal Ignatius Suharyo (tengah, mengenakan kemeja hitam) berfoto bersama para pejabat pemerintah dan tokoh agama (HIDUP/Katharina Reny Lestari)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) merayakan hari jadi ke-217 dengan menggelar “Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama” pada Sabtu (11/5/2024), atau tiga hari setelah KAJ berdiri secara resmi, yakni pada tanggal 8 Mei 1807. 

Peserta dari Paroki Kampung Sawah (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Sekitar 3.000 orang, baik umat Katolik dari paroki-paroki di wilayah KAJ maupun umat beragama lain serta penganut aliran kepercayaan, terlibat dalam program bertema “Membangun Solidaritas dan Subsidiaritas Bersama Dalam Suasana Rukun dan Damai” yang berlangsung selama empat jam, mulai pukul 06:00-10:00 WIB, tersebut. Sebagian besar mengenakan atribut pakaian adat. 

Hadir pula Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo; Vikaris Jenderal KAJ, Pastor Samuel Pangestu; Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki; Kepala Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Asep Saepudin; Wakil Walikota Jakarta Pusat, Chaidir; dan Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan KAJ, Pastor Antonius Suyadi.

“Sebetulnya ulang tahun Keuskupan Agung Jakarta boleh tinggal di latar belakang. Yang ada di depan adalah kebersamaan kita yang kita syukuri sehingga pada hari ini kalau boleh mari kita rayakan kebersamaan kita itu. Dan Keuskupan Agung Jakarta adalah kesempatan di latar belakang yang memberi kesempatan kepada kita,” ujar Kardinal Suharyo dalam sambutannya.

Peserta mengenakan atribut palawan adat Batak (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Menyinggung soal tema program tersebut, ia menegaskan bahwa umat Katolik di wilayah KAJ, sebagai bagian dari masyarakat, mempunyai anugerah Tuhan yang sangat besar kepada bangsa Indonesia. 

“Bangsa kita ini adalah bangsa yang peduli. Ceritanya bisa panjang, tetapi saya tidak mau menceritakan itu semua. Itulah sebabnya umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta ingin mengembangkan watak itu dengan semangat semakin mengasihi, semakin peduli, dan semakin bersaksi. Moga-moga dengan demikian, hidup Keuskupan Agung Jakarta tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Tuhan dan untuk Tanah Air,” imbuhnya.

Sementara itu, Dasuki mengatakan KAJ telah menggelar program tersebut sebanyak empat kali sebagai wujud toleransi.

“Indonesia terlahir dari sebuah keberagaman, dari sebuah keanekaragaman. Tapi keberagaman ini bukan menjadi pemisah, justru menjadi penguat di antara kita semua,” ujarnya.

Reog Ponorogo (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Ia berharap program tersebut semakin memperteguh semangat toleransi dan moderasi beragama agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga dan Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.

“Olah raga ini adalah untuk kesehatan. Tetapi yang terpenting adalah kita bangun kebersamaan, kita bangun solidaritas di antara kita untuk terus menjaga negara kita,” tegasnya.

Solidaritas dan Subsidiaritas

Pastor Suyadi mengatakan kepada HIDUPKATOLIK.COM di sela-sela kegiatan bahwa KAJ, melalui kegiatan tersebut, ingin menciptakan suasana rukun dan damai sebagai tanda kehadiran Gereja yang membawa kesejukan dalam kehidupan bersama.

“Harapan kami adalah wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta semakin ramah dengan sesama, dengan seluruh umat beragama, dengan masyarakat yang berkeyakinan, dengan siapa pun juga sehingga keramahan wajah Keuskupan Agung Jakarta ditampilkan dalam kebersamaan dalam rasa syukur 2017 Tahun Keuskupan Agung Jakarta,” ujarnya.

Pastor Antonius Suyadi, Pr menaiki reog Ponorogo (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Melalui kegiatan tersebut, lanjutnya, peserta dari berbagai latar belakang agama ingin berbagi pengalaman dengan diiringi berbagai macam budaya. 

“Meskipun jumlahnya terbatas tetapi ini menunjukkan bahwa olah pikir kita bersama yang menghasilkan kreasi-kreasi ini sebagai tanda kebersamaan bagi kita semuanya. Dan mudah-mudahan memberikan warna keragaman ini untuk kehidupan bersama. Rasa solidaritas untuk membangun kebersamaan ini, dan satu sama lain ambil bagian, pertanda subsidiaritas tumbuh berkembang di dalam kebersamaan sebagai umat Keuskupan Agung Jakarta,” ungkapnya.

Jarak Tempuh

Barongsai (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Menurut Ketua Panitia, Fransiskus Dwikoco, jalan santai tersebut menempuh jarak sekitar empat kilometer, berawal dari dan berakhir di kompleks Gereja Katedral Jakarta. Selain itu, peserta terbagi dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok diawali oleh kelompok seni seperti ondel-ondel, barongsai, dan reog Ponorogo.

“Tujuan kegiatan ini adalah menjalin dan mempererat silaturahmi, persaudaraan serta keakraban lintas agama sehingga dapat hidup rukun dan damai; semakin cinta tanah air dan bangsa – bangga mencintai budaya Indonesia sebagai budaya kita sendiri; dan semakin rukun dan bersatu lintas suku,” ujarnya.

Ignatius Bambang Setiawan, umat Paroki Cililitan, Jakarta Utara, yang mengenakan atribut pakaian adat Jawa Tengah, mengaku senang dapat terlibat dalam program tersebut. 

Ignatius Bambang Setiawan (mengenakan lurik) berfoto bersama peserta dari Paroki Cililitan (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

“Ini kedua kalinya saya ikut program ini, yang pertama tahun lalu. Mudah-mudahan Keuskupan Agung Jakarta semakin membina umat Katolik di wilayahnya. Dan semoga kegiatan ini semakin mempererat persatuan antarumat beragama,” ujarnya.

Senada, Fitria, seorang perempuan Muslim asal Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat, berharap  program tersebut semakin menumbuhkan semangat solidaritas dan subsidiaritas di tengah masyarakat. 

“Saya baru sekali ikut acara ini. Semoga ke depan solidaritas dibangun terus biar semua ikut merasakan keberagaman,” ungkapnya.

Katharina Reny Lestari 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here