HIDUPKATOLIK.COM – Mendung tipis menyelimuti langit kota Sungailiat, Bangka, pada pagi 25 Januari 2025. Udara sejuk menyambut langkah-langkah penuh harap menuju Taman Bintang Samudra (TBS). Hari itu, kawasan wisata religi ini tidak hanya merayakan ulang tahunnya yang pertama, tetapi juga melangkah ke babak baru dengan melaksanakan pembangunan gedung kapel dan rumah retret.

(Foto : Fennie)
Sejak diresmikan setahun lalu oleh Ignatius Kardinal Suharyo bersama bersama Monsinyur Antonius Subianto Bunjamin, Monsinyur Adrianus Sunarko dan setidaknya sepuluh uskup lainnya, TBS telah menjadi oase rohani bagi umat Katolik di kota Sungailiat, Pangkalpinang dan sekitarnya. Keberadaan TBS diharapkan dapat menjadi tempat doa dan devosi bagi umat nasrani serta menjadi tempat wisata alam yang menentramkan bagi masyarakat.
Istimewanya, hari ini TBS melanjutkan kembali pembangunan kawasan wisata religinya dengan niat membangun sebuah kapel dan rumah retret yang ditandai dengan acara peletakan batu pertama. Prosesi peletakan batu pertama bukan sekedar acara seremonial dan formalitas semata, tetapi sungguh dihayati sebagai sebuah peristiwa iman yang disertai dengan harapan dan semangat pelayanan yang besar. Ada napas baru yang dihembuskan melalui pembangunan gedung dan fasilitas baru yang hendaknya menjadi pondasi kokoh untuk karya pelayanan yang lebih luas.
Perjalanan menuju lokasi peletakan batu pertama tidaklah mudah. Dimulai dari titik kumpul di gedung penerimaan atau lobi TBS, uskup bersama para imam, para suster dan umat mesti melewati sebagian jalan tanah berbatu yang cukup terjal. Cukup menantang dan sedikit melelahkan. Namun, semangat dan harapan tak surut sedikitpun. Tantangan dan kesulitan berhasil dikalahkan.
Ritus Doa di Tanah Berbatu
Prosesi peletakan batu pertama diawali dengan ritus ibadat sabda yang dipimpin oleh Mgr. Adrianus Sunarko, didampingi oleh Pastor Antonius, MSF, Pastor Rekan Sungailiat. Ibadat sabda ini merupakan momen penting bagi seluruh umat dan panitia pembangunan untuk menghayati firman Tuhan dan sekaligus menyerahkan seluruh karya akal dan budi manusia pada penyertaan dan penyelenggaraan Ilahi. “Semoga sabda Tuhan juga senantiasa menjadi batu kokoh dan pondasi awal dibangunnya kapel dan rumah retret di kawasan Taman Bintang Samudra ini,” demikian disampaikan Mgr. Adrianus dalam khotbahnya.

(Foto : Fennie)
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Monsinyur Adrianus Sunarko, dilanjutkan oleh Ketua Badan Pembina Yayasan TBS; Eddijanto, Ketua Yayasan; Thomas Jusman yang diwakili oleh Ardijanto, Ketua bidang pembangunan; Bunardy, Pastor Paroki; Pastor Antonius, Pastor Paroki Katedral Pangkalpinang; Pastor Yustin, Pastor Polce, Pastor Stanis, konsultan arsitek; Supie dan Ibu Maria, konsultan manajemen konstruksi; P. Lekso Wibowo, projek manajer; Andi Prayitno, dan para donatur; beberapa diantaranya yaitu Corri Tanopo dan Magda. Masing-masing dari mereka membawa doa dan harapan yang sama untuk kelancaran keberlanjutan pembangunan yang rencananya akan rampung pada tahun 2026.
Betapa Baiknya Tuhan
Tuhan sungguh amat baik. Sepanjang ibadat sabda dan prosesi peletakan batu pertama, Tuhan memberi cuaca yang menyejukkan umatnya. Mendung tipis dengan tanah yang basah, semakin menyejukkan udara sekitar. Di bawah pohon-pohon rindang yang ramah menyapa, cuaca menjadi saksi kebesaran Tuhan, memanjakan umat dengan angin dan udara yang segar serta sinar matahari yang hangat setelah girimis tipis sempat sejenak hadir.
Sukacita di Tengah Syukur
Selepas ibadat, sekitar dua ratusan umat yang hadir kembali ke titik awal pemberangkatan di gedung penerimaan. Hidangan makan siang telah tersaji, lengkap dengan suasana yang penuh keakraban dan suasana alam yang segar. Aroma hujan yang baru turun setelah prosesi selesai turut menambah rasa syukur atas penyertaan Tuhan.

Di tengah suasana santai, kelompok Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) Pesparani Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalunkan lagu-lagu yang menyejukkan hati. Tak hanya itu, ungkap syukur TBS atas penyertaan Tuhan selama satu tahun berjalan diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan lomba yang telah diadakan 1 minggu sebelumnya. Ada lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD kelas 1, 2 dan 3, serta lomba melukis untuk anak SD kelas 4, 5, 6 dan anak SMP kelas 1,2 dan 3.
Anak-anak yang hadir tampak ceria, apalagi bagi para pemenang lomba yang menerima piala, piagam, dan hadiah dengan wajah sumringah. Sukacita anak-anak menjadi simbol harapan yang terus hidup di TBS.
TBS: Cahaya Harapan di Bumi Laskar Pelangi
Peletakan batu pertama ini bukan sekadar dimulainya pembangunan fisik, tetapi juga penegasan bahwa TBS adalah tempat di mana iman berjumpa dengan semangat pelayanan yang nyata. Tempat ini bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga menyatukan umat manusia dalam mengejawantahkan sikap welas asih, kedamaian dan mencinta alam semesta.

Tak terasa, matahari mulai meredup, meninggalkan jejak keemasan di langit Bangka, doa dan harapan mengiringi hari yang penuh berkah ini. Semoga TBS senantiasa menjadi tanda kehadiran Tuhan yang membawa berkat, sukacita, dan wajah-wajah sumringah bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Willy Suluh (Pangkalpinang)/Foto: Fennie






