HIDUPKATOLIK.COM – Siang itu angin bertiup kencang di pesisir Kampung Muara Bungin, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Membuat tenda di pinggir pantai bergoyang. Di bawah tenda, sebanyak 45 Relawan Tangguh Kampung Bungin (RTKB) berkumpul penuh semangat, bersiap melangkah menjaga kampung mereka dari ancaman abrasi yang telah lama mengintai.
Sabtu, 16 Agustus 2025, menjadi hari bersejarah saat Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo, resmi melantik sejumlah relawan. Pelantikan ini merupakan bentuk komitmen warga terhadap keselamatan dan ketahanan lingkungan sekitar. “Siapa lagi yang akan melindungi kampung kita kalau bukan kita sendiri?” ucap seorang warga, Basir.
RTKB adalah kumpulan warga yang berinisiatif membentuk diri sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman bencana di pesisir utara Bekasi. Kepala Desa Pantai Bakti, Wahyudi, resmi mengesahkan keberadaan mereka melalui surat keputusan.
Keterlibatan Aktif
Pangarso menegaskan bahwa peran relawan tangguh di Kampung Bungin tidak hanya sebatas menghadapi bencana ketika sudah terjadi, melainkan lebih dari itu, yaitu berfokus pada pengelolaan risiko secara menyeluruh dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. “Relawan Tangguh Kampung Bungin itu tidak cuma menghadapi bencana saja tapi melihat setiap saat kondisi lingkungan supaya nanti tidak terancam dari bahaya abrasi,” tegasnya. Dengan kata lain, mereka diajak untuk selalu waspada terhadap perubahan dan potensi ancaman yang bisa muncul kapan saja, sehingga bisa melakukan langkah-langkah pencegahan sebelum bencana melanda.

Ia juga mengapresiasi kesediaan dan semangat warga yang secara sukarela menyumbangkan waktu dan tenaga mereka demi kebaikan bersama. “Cukup sulit mengajak masyarakat, apalagi dengan kondisi perekonomian sekarang. Namun di Kampung Bungin ini masyarakat mau berbagi waktu dan tenaga untuk kampungnya,” ujarnya penuh rasa bangga. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif warga bukan hanya karena kewajiban tapi juga didasari oleh rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas tempat mereka tinggal.
Dukungan Berbagai Pihak
Mengenai penanganan abrasi yang sudah berlangsung lama dan menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal di pesisir, Pangarso menjelaskan bahwa solusi yang tengah dijalankan melalui mitigasi struktural dan lingkungan.

Suryotomo, melantik Relawan Tangguh Kampung Bungin. (Dok. Bernadeth Amorita Manulyu)
Selain pembangunan pemecah ombak, mereka melakukan penanaman mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi. Berbagai pihak, mulai dari Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD KAJ), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Kabupaten Bekasi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bekasi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Bekasi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) DKI Jakarta, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Muara Gembong, Forum Komunikasi Relawan Kebencanaan Kabupaten Bekasi (FKRK-KB), dan Perkumpulan Lingkar hadir untuk memperkuat upaya ini. Adanya dukungan dari berbagai pihak akan mendorong keberlanjutan.
LDD KAJ telah mendampingi warga Kampung Bungin dengan membekali mereka pengetahuan tentang mitigasi risiko bencana berbasis komunitas sejak tahun 2023. Warga belajar mengenali tanda-tanda bahaya abrasi dan mengambil berbagai langkah antisipasi bersama.
Inisiatif Warga
Direktur LDD KAJ, Pastor Adrianus Suyadi, SJ mengapresiasi semangat dan inisiatif warga Kampung Bungin dalam upaya Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK). “Mereka sangat aktif dan kolaboratif dan mereka berinisiatif untuk melakukan semuanya. Kehadiran kami sebenarnya hanya sebagai teman fasilitator,” ujarnya.
Semangat kebersamaan dan kemandirian menjadi fondasi utama yang menguatkan warga setempat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Mereka tidak menunggu bantuan dari luar, melainkan secara sadar dan aktif membentuk diri sendiri untuk menjadi garda terdepan saat bencana datang. Dengan kesadaran penuh bahwa perlindungan terhadap kampung adalah tanggung jawab bersama mendorong warga untuk terus belajar, saling mendukung, dan berlatih bersama agar bisa merespons cepat dan tepat ketika ancaman bencana datang menghampiri. “Mereka bukan dibentuk tetapi membentuk diri untuk menjadi yang terdepan saat situasi krisis mengancam kampung mereka, mulai dari abrasi hingga banjir dan kekeringan,” imbuhnya.
Inisiatif warga menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlangsungan Kampung Bungin yang rentan terhadap berbagai bencana alam. Kekuatan gotong royong membuat komunitas menjadi lebih tangguh dan siap menjaga lingkungan serta keselamatan bersama.
Pelantikan berlanjut dengan penanaman pohon cemara dan mangrove yang menjadi suatu tanda komitmen. Penanaman tersebut menjadi bagian dari rehabilitasi pantai sekaligus upaya mitigasi abrasi yang mengancam.
Potensi Pariwisata
Kesadaran dan partisipasi warga merupakan kunci utama agar kampung tersebut tidak hanya menjadi kampung yang tangguh menghadapi bencana, tetapi juga menjadi tempat yang indah dan ramah bagi wisatawan, membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Pemerintah desa juga tengah berupaya memperbaiki akses jalan agar ke depan lebih banyak orang tertarik untuk berkunjung.
Bernadeth Amorita Manulyu






