web page hit counter
Kamis, 8 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Transformasi Pewartaan Iman: Peta Jalan ICFC 2026

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Indonesian Catholic Facilitator Community (ICFC) kembali mempertegas perannya sebagai wadah strategis bagi para fasilitator Katolik—mulai dari pembicara, pelatih, coach, hingga konsultan. Komunitas yang didirikan pada awal tahun 2000 oleh Istoto Suharyoto dan Tony Sardjono ini kini bertransformasi menjadi ekosistem jejaring profesional untuk meningkatkan kompetensi, karier, dan kesejahteraan bersama dalam bingkai pelayanan Gereja.

Sinergi dan Peningkatan Kompetensi

Pada 30 November 2025, bertempat di Rumah Retret Samadi, Klender, ICFC menggelar pertemuan bertema “Cultivate Networks, Gain Expert Insights, Elevate Skills & Expand Church Outreach”. Acara ini dihadiri oleh 80 peserta pria dan wanita dari berbagai paroki dengan tujuan utama:

  • Memperluas Jejaring: Mempererat kebersamaan antara fasilitator profesional dengan aktivis Gereja.
  • Aksesibilitas Narasumber: Membuka jalan bagi pengurus paroki (Seksi PEKAD/Kaderisasi) untuk mendapatkan variasi narasumber yang kompeten.
  • Kolaborasi Strategis: Meningkatkan peluang sinergi antar-fasilitator baik untuk pelayanan pastoral maupun dunia profesional.
Baca Juga:  Paus Leo XIV Menutup Pintu Suci, Mengakhiri Tahun Yubileum Harapan

Pertemuan ini menghadirkan wawasan mendalam dari para pakar, mulai dari Rm. Yustinus Ardianto, Pr tentang spiritualitas fasilitator, Tony Sardjono mengenai sejarah geliat fasilitator, Dr. Anthony Dio Martin tentang prospek karier 2026, hingga Drs. Istoto Suharyoto mengenai arah dasar gerakan ICFC.

Memotret Keprihatinan Gereja Masa Kini

Melalui diskusi kelompok yang intensif, para peserta mengidentifikasi beberapa “titik kritis” dalam sistem pewartaan Katolik saat ini:

  1. Krisis Regenerasi: Sulitnya kaderisasi dan redupnya peran Orang Muda Katolik (OMK) akibat kesenjangan komunikasi antar-generasi.
  2. Kualitas SDM & Ego Sektoral: Rendahnya kompetensi komunikasi di tingkat pengurus/katekis serta relasi dengan hierarki yang cenderung tertutup.
  3. Relevansi Zaman: Pewartaan yang dinilai monoton, belum melek teknologi/AI, sehingga kalah bersaing dengan konten non-Katolik yang lebih menarik di media sosial.
Baca Juga:  Lebih dari 33,5 Juta Penziarah Datang ke Roma Selama Tahun Yubileum

Strategi dan Rencana Aksi 2026

Untuk menjawab tantangan tersebut, ICFC merumuskan empat langkah sistemik:

  • Infiltrasi Struktural: Mendorong anggota aktif dalam struktur Dewan Paroki untuk membawa perubahan dari dalam.
  • Pastoral Entrepreneurship: Membawa keahlian profesional (manajemen, IT, marketing) ke dalam pelayanan Gereja.
  • Database & Talent Pool: Menyediakan daftar trainer terpetakan berdasarkan spesialisasi yang dapat diakses oleh paroki di seluruh Indonesia.
  • Standardisasi Kurikulum: Menyusun modul pembinaan berjenjang untuk OMK, parenting, hingga komunikasi kepengurusan.

Dari Wacana ke Kaji Tindak

Transformasi ini tidak akan berarti tanpa aksi nyata. Gagasan besar ICFC perlu diuji coba secara sistematis melalui lingkup kecil, seperti di satu paroki tertentu melalui metode Action Research (Kaji Tindak). Pendekatan ini dimulai dengan asesmen situasi nyata: bagaimana Dewan Paroki mempersepsikan krisis regenerasi? Sejauh mana aplikasi teknologi dibutuhkan dalam pewartaan di wilayah mereka?

Baca Juga:  Paus Leo XIV Akan Melakukan Konsistori Luar Biasa Pertama pada 7-8 Januari 2026

Tanpa upaya implementasi dan perbaikan bertahap, ide besar ini hanya akan menjadi dokumen yang solid namun sunyi dari perubahan. Langkah nyata berikutnya adalah mengubah kristalisasi pengalaman ini menjadi “mutiara” yang bermanfaat bagi kehidupan meng-Gereja yang lebih modern dan berdaya pikat.

A.M. Hadi Pratomo, Peserta Temu Karya & Guru Besar FKM UI (2001-2022)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles