HIDUPKATOLIK.COM – Persoalan lingkungan hidup menjadi salah satu fokus utama Gerakan Nurani Bangsa dalam pesan kebangsaan gerakan ini awal tahun 2026. Penurunan daya dukung lingkungan dan eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab dinilai telah memicu bencana ekologis di berbagai wilayah.
Pesan tersebut disampaikan oleh gerakan yang diinisasi oleh sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang dalam acara Konferensi Pers Gerakan Nurani Bangsa (GNB) di Grha Pemuda, Kompleks Katedral Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Hadir dalam penyampaian pesan ini mantan Ibu Negara Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, Romo Franz Magniz Suseno SJ, Alissa Q Wahid, Omi Komaria Nurcholish Madjid, Pendeta Jacky Manuputty, Erry Riyana Hardjapamekas, Pendeta Gomar Gultom, Romo A. Setyo Wibowo SJ, Ery Seda, dan Lukman Hakim Saifuddin.
Alissa Q Wahid yang membacakan pesan Gerakan Nurani Bangsa (GNB) secara bergantian dengan tokoh lainnya mengemukakan bahwa data FAO disebutkan menunjukkan penyusutan kawasan hutan nasional secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
HIDUP memperoleh data lain yang lebih spesifik, yakni laporan Global Forest Watch (GFW) yang dirilis pada 12 Juni 2025 yang merujuk pada hilangnya 32,2 juta hektar (Mha) tutupan pohon di Indonesia. Data tersebut merupakan pemutakhiran data terbaru hingga Juni 2025.
Data yang merupakan hasil kolaborasi antara World Resources Institute (WRI) dan Google DeepMind ini menyajikan analisis komprehensif ihwal kehilangan tutupan pohon yang terjadi selama periode 2001 – 2024.
Sebelumnya pada 21 Mei 2025, GFW merilis penjelasan teknis tentang metodologi data kehilangan tutupan pohon 2024 secara global. Organisasi masyarakat sipil seperti WALHI juga menggunakan data ini dalam deklarasi Hari Keadilan Ekologis pada September dan Oktober 2025 untuk menyoroti skala kerusakan hutan tersebut.
GFW secara eksplisit menggunakan istilah “tree cover loss” (kehilangan tutupan pohon), bukan hanya “deforestation” (deforestasi). Ini mencakup hilangnya vegetasi kayu setinggi minimal 5 meter, baik di hutan alam maupun di hutan tanaman/perkebunan.
Angka 32,2 juta hektar itu dinilai setara dengan penurunan sebesar 20 persen dari total tutupan pohon pada 2000. Laporan tersebut merinci, sekitar 76 persen dari total kehilangan tutupan pohon sekitar 23,4 juta hektar diakibatkan faktor-faktor yang berujung pada deforestasi permanen, terutama ekspansi pertanian komoditas.
Menurut GFW kehilangan sebesar 32,2 juta hektar ini telah melepaskan emisi sekitar 23 Gigaton (Gt) setara CO₂ ke atmosfer selama periode 23 tahun tersebut.
“Dampaknya, bencana banjir dan longsor terjadi di sejumlah wilayah, termasuk di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa, dengan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi,” demikian pesan GNB.
Oleh karena itu GNB mendesak pemerintah untuk menjalankan kebijakan yang berorientasi pada kelestarian lingkungan serta menindak tegas pelaku perusakan alam. Perlindungan lingkungan dinilai tidak terpisahkan dari upaya menjaga keselamatan dan kesejahteraan warga.
Dalam catatan HIDUP pesan GNB ini gayut dengan isi Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2026 yang menetapkan Pertobatan Ekologis sebagai fokus pastoral utama dengan tema besar “Keutuhan Alam Ciptaan”.
Tahun 2026 merupakan puncak rangkaian Ardas lima tahunan (2022–2026) di KAJ dengan poin-poin utama berdasarkan pesan Uskup Agung Jakarta, Ignatius cardinal Suharyo yang kemarin juga hadir dalam acara GNB tersebut.
Di KAJ umat Katolik diajak menyembuhkan “luka-luka” alam yang disebabkan oleh perilaku manusia dan menjaga bumi agar tetap layak bagi generasi mendatang melalui aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
J.B. Pramudya (Kontributor Jakarta)






