HIDUPKATOLIK.COM – Paus Leo XIV memimpin “Berjalan Bersama dalam Harapan”, sebuah perayaan 60 tahun “Nostra Aetate”, Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Dialog Antaragama.
“Enam puluh tahun yang lalu”, dengan diterbitkannya Nostra aetate, Deklarasi Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama non-Kristen, “sebuah benih harapan bagi dialog antaragama telah ditanam,” ujar Paus Leo XIV pada Selasa malam (28/10/20225) seperti disiarkan Vatican News.
“Hari ini, kehadiran Anda sekalian menjadi saksi bahwa benih ini telah tumbuh menjadi pohon yang perkasa, cabang-cabangnya menjangkau jauh dan luas, memberikan naungan dan menghasilkan buah-buah yang melimpah berupa pengertian, persahabatan, kerja sama, dan perdamaian,” kata Paus.
Paus menyampaikan sambutannya kepada para perwakilan agama-agama dunia, anggota korps diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, serta para pejabat Vatikan dan Gereja yang berkomitmen pada dialog antaragama, yang telah berkumpul di Aula Paulus VI untuk merayakan peringatan Deklarasi bersejarah Konsili tersebut.
Dialog sebagai Cara Hidup
Nostra Aetate, kata Paus, “membuka mata kita terhadap prinsip yang sederhana namun mendalam: dialog bukanlah taktik atau alat, melainkan cara hidup – sebuah perjalanan hati yang mengubah setiap orang yang terlibat, baik yang mendengarkan maupun yang berbicara.”
Mengacu pada judul perayaan peringatan tersebut, “Berjalan Bersama dalam Harapan”, Paus Leo berkata, “Kita menjalani perjalanan ini” bukan dengan mengkompromikan keyakinan kita, melainkan dengan tetap setia pada keyakinan kita. Dialog yang autentik, lanjutnya, “dimulai bukan dari kompromi melainkan dari keyakinan – dari akar keyakinan kita sendiri yang memberi kita kekuatan untuk menjangkau sesama dalam kasih.”
Kemudian, mengenang Yubileum Harapan dan mencatat bahwa “harapan” dan “ziarah” “adalah realitas yang umum bagi semua tradisi keagamaan kita,” Paus Leo menegaskan, “Inilah perjalanan yang Nostra aetate undang untuk kita lanjutkan – untuk berjalan bersama dalam harapan.”
Hal ini, kata Paus, bukanlah pekerjaan satu agama, bangsa, atau generasi saja, melainkan “tugas suci bagi seluruh umat manusia, untuk menjaga harapan tetap hidup, menjaga dialog tetap hidup, dan menjaga cinta tetap hidup di hati dunia.”
Martir untuk Dialog
Paus memulai pidatonya dengan mengenang banyak orang dari berbagai keyakinan yang telah bekerja selama enam puluh tahun terakhir “untuk menghidupkan Nostra Aetate,” bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri, “para martir untuk dialog, yang menentang kekerasan dan kebencian.”
Kita berada di tempat kita saat ini, katanya, “karena keberanian, keringat, dan pengorbanan mereka.”
Masih Sangat Relevan
Menegaskan bahwa pesan Nostra Aetate tetap “sangat relevan saat ini,” Paus Leo mengenang pelajaran Konsili: bahwa umat manusia semakin dekat, bahwa semua manusia adalah bagian dari satu keluarga manusia dengan satu asal dan satu tujuan; bahwa semua agama berusaha menanggapi “kegelisahan hati manusia”; dan bahwa Gereja Katolik “tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini.”
Paus juga mengenang asal-usul Deklarasi, yang bermula dari keinginan akan sebuah dokumen yang menggambarkan “hubungan baru antara Gereja dan Yudaisme.” Keinginan ini diwujudkan dalam bab keempat Nostra aetate, yang membentuk “inti dan inti generatif dari seluruh deklarasi.”
Bab tersebut, lanjut Paus, mengarah pada bab terakhir, yang mengajarkan bahwa “kita tidak dapat sungguh-sungguh berseru kepada Allah, Bapa semua orang, jika kita menolak memperlakukan setiap pria atau wanita yang diciptakan menurut gambar Allah dengan cara persaudaraan.”
Tanggung Jawab Suci
Di bagian akhir sambutannya, pemimpin Gereja Katolik yang tampak mengingatkan para pemimpin agama bahwa mereka “berbagi tanggung jawab suci: membantu umat kita melepaskan diri dari belenggu prasangka, amarah, dan kebencian; membantu mereka bangkit dari egoisme dan keegoisan; membantu mereka mengatasi keserakahan yang menghancurkan jiwa manusia dan bumi.
“Dengan cara ini,” katanya, “kita dapat memimpin umat kita untuk menjadi nabi di zaman kita — suara yang mengecam kekerasan dan ketidakadilan, menyembuhkan perpecahan, dan mewartakan perdamaian bagi semua saudara dan saudari kita.”
Ia mengingatkan mereka tentang “misi agung” yang telah dipercayakan kepada mereka: “untuk membangkitkan kembali dalam diri semua pria dan wanita rasa kemanusiaan dan kesakralan mereka.”
Membawa Harapan bagi Umat Manusia
“Inilah, sahabat-sahabatku, justru mengapa kita berkumpul di tempat ini,” ujar Paus, “dengan mengemban tanggung jawab besar, sebagai pemimpin agama, untuk membawa harapan bagi umat manusia yang seringkali tergoda oleh keputusasaan.”
Paus mengakhiri sambutannya dengan kata-kata Paus Santo Yohanes Paulus II, yang, di Assisi pada tahun 1986, berkata, “Jika dunia akan terus berlanjut, dan pria dan wanita harus bertahan hidup di dalamnya, dunia tidak dapat hidup tanpa doa.”
Karena itu, Paus mengajak mereka semua untuk berhenti sejenak bersama dalam doa hening, dengan seruan, “Semoga damai turun atas kita dan memenuhi hati kita.” (fhs)






