web page hit counter
Senin, 19 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

IA TELAH BANYAK BERBUAT BAIK (In Memoriam Saudaraku Romo Mudji)

5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Sedih sekali, saya tidak bisa memberi penghormatan terakhir untuk sahabat saya Romo Mudji Sutrisno. Pas berita meninggalnya saya terima dari Romo Jelantik, saya sedang dalam perjalanan ke Praha. Ketika Romo Mudji dimakamkan hari ini, saya lagi di Krakow Polandia. Kepergian Romo Mudji membawa kesedihan yang sangat dalam bagi kami. Kehilangan ini besar. Sangat besar. “ Very sad. No more Romo Mudji in the family ”, kata Samantha anak saya.

Hari-hari ini, semua media mengabarkan kematian Romo Mudji. WA-WA grup kita dipenuhi kabar tentang Romo Mudji. TV-One bahkan menyebut, dengan meninggalnya Romo Mudji, Indonesia kehilangan sosok pemikir dan intelektual terbesarnya. Tak bisa diingkari, FX.Mudji Sutrisno memang tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Ia seorang professor, dosen, filsuf, teolog, budayawan, seniman, pelukis, penulis, penyair, essays, sastrawan, dan narasumber cerdas untuk segala macam masalah aktual bangsa ini. Lebih dari semua itu, ia adalah seorang Romo, seorang seorang imam, seorang pastor, seorang Jesuit, seorang rohaniwan.

Mudji Sutrisno dianggap tokoh terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini, karena ia sosok intelektual dan rohaniwan dalam kombinasi yang sangat jempolan. Ketokohan Mudji yang demikian, sudah bisa disejajarkan dengan Romo Mangun yang ia kagumi. Bahkan dalam kurun 26 tahun terakhir sejak wafatnya Romo Mangun, tidak ada imam di Indonesia ini yang ketenaran dan sosoknya melebihi Romo Mudji. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, teman-temannya di NU mensejajarkan “kenabian” Romo Mudji sudah seperti Gus Dur. Sebagai Jesuit, bersama Romo Magnis, ia pembawa bendera kehadiran pelayanan ordo Santo Ignatius ini yang sangat berkibar di Indonesia. “ The world will never be the same again without him ”.

Banyak yang sudah tahu, Romo Mudji menyelesaikan doktoratnya dalam bidang filsafat di Universitas Gregoriana Roma. Salah satu universitas paling bergengsi di Italia. Tapi banyak yang tidak tahu, ia membuat skripsi doktoratnya itu dengan mengangkat tema Romo YB Mangunwijaya. Dalam nasehatnya kepada para seminaris, para calon imam di Yogya, Romo Mangun pernah berkata demikian : “Sebelum mempelajari surga dan malaikat, mbok ya belajar dulu jadi manusia biasa”. Mudji Sutrisno menghidupi sekali kata-kata Romo Mangun ini. Ia menjadi seorang intelek, filsuf, budayawan sekaligus teolog yang cakap berbicara mengenai keilahian, karena pertama-tama ia adalah seorang humanis yang handal. Semua ucapan dan tindakannya sungguh mengalir dari praktek dan penghayatan kemanusiaannya yang dalam. Tidak pertama-tama dari pemahaman teori filsafat ketuhanan, sebagus dan semulia apapun itu.

Baca Juga:  Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM Mengundurkan Diri

Tentang Romo Mudji, saya sependapat dengan Todung Mulya Lubis dalam Facebooknya : “Romo Mudji adalah kawan yang penuh dengan kesetiakawanan humanis. Selalu enak diajak berdiskusi. Ia membuka sekat-sekat agama dan bersatu dalam semangat kemanusiaan yang hakiki. Dalam pergaulan sering saya lebih melihat dirinya sebagai manusia biasa, bukan seorang Romo meski dia memang seorang Romo”. Sayapun mengalami apa yang dirasakan pak Todung. Selama 45 tahun lebih saya mengenal Romo Mudji, saya lebih sering menyebutnya sebagai : pakde, bro, fratello mio, fratello carissimo daripada memanggilnya Romo. Bahkan kepada Romo Mudji yang hebat dan mestinya sangat terhormat, saya lebih sering memanggilnya “kono” dibanding panggilan dalam bahasa Jawa tinggi : penjenengan atau penjenenganipun Romo Mudji.

Saya beruntung, dua pertiga hidup saya ini diberi kesempatan oleh Tuhan bisa dekat dan bersahabat dengan Romo Mudji. Saya hadir dalam saat-saat penting hidupnya. Bersama muda-mudi paroki Bonaventura Pulomas, saya hadir pada tahbisan imamatnya di Kridosono pada tahun 1980. Ketika mempertahankan dissertasi doktoralnya, saya datang menunggui bersama teman-teman Irrika (Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma) dan bersama bapak-ibu Suhardiman Dubes Vatikan waktu itu. Ketika menjadi Professor, tentu saja saya tidak hadir. Lha Mudji menolak wisuda pengukuhan professoratnya. Ia menggantinya dengan membuat buku. Tentang ini, Romo Purbo Tamtomo, sahabat saya yang juga dosen STF Driyarkara itu bercanda dengan bilang begini : “ Mas Kun, kancamu kaė ora gelem diwisuda Professor, padunė ora gelem njajakkė kita-kita ini” (Mas Kun, teman kamu itu tidak mau diwisuda Professor, kayaknya karena tidak mau nraktir kita-kita ini).

Seperti Romo Purbo, untuk banyak orang, Romo Mudji memang sering disebut sebagai “kancamu kuwi”. Banyak yang tahu, saya memang sering “runtang-runtung” dengan Romo Mudji. Romo Mudji sering sekali ke rumah kami di Muntilan, menengok bapak-ibu saya. Sering ia tiba-tiba nongol begitu saja ketemu bapak-ibu meski tidak ada saya atau adik-adik saya di rumah. Pada peringatan penting keluarga kami 40, 50 dan 60 tahun perkawinan bapak-ibu, tahbisan adik saya, meninggalnya bapak-ibu, peringatan-peringatan meninggalnya, Romo Mudji hampir selalu hadir untuk kami. Pada perkawinan, doa tujuh bulanan, kelahiran dan ulang-tahun kami serta anak-anak kami, Romo Mudji selalu hadir menyapa.

Baca Juga:  Seorang Ilmuan Jesuit Indonesia Diabadikan dalam Asteroid

Saking seringnya kami menjemput Romo Mudji di Kanisius, pak Satpam di depan selalu menyambut hangat : “mau njemput Romo Mudji ya pak. Parkir sini saja” kata pak Satpam itu dengan ramah. Saking terkenalnya Mudji, kalau lagi saya ajak makan di mal, dia selalu disapa dan disalami bak selebritis. Berapa kali saja tiba-tiba sudah ada yang membayar makanan yang kami pesan. Mudji begitu terkenal dan dikenal bukan hanya karena ia sering nongol di TV. Memang anak saya saja sejak kecil mengenalnya sebagai “teman papa yang sering nongol di TV”.

Mudji menjadi “pastor gaul” karena memang ia punya kehangatan dan kemampuan luar biasa dalam bersahabat. Tak terhitung lagi teman-teman dan sahabatnya yang meratapi kepergiannya, karena para sahabat lintas kelompok itu merasakan sekali kehangatan dan kehadiran Mudji. Dalam hal “gaul” ini, Mudji sudah mengalahkan Romo Mangun gurunya. Romo Mangun dalam tulisannya pada novel Romo Rohadi, pernah mengatakan : “saya tidak takut pada persahabatan. Tetapi takut pada kelanjutannya”

Kehangatan Romo Mudji dalam bergaul dan bersahabat diakui banyak kalangan. Banyak testimoni di Medsos yang saya baca, mengakui itu. Berapa kali saja Romo Mudji saya ajak semobil ke Bandung atau ke Yogya. Saya juga pernah nyopiri dia ketika kami diundang pada haul Kiai Bisri Syamsuri orang tua Gus Dur di Jombang. Isteri saya di belakang, sering komentar : “Kamu kok bisa sih meladeni macam-macam perkara yang diomongin Romo Mudji dengan bahasa dewa begitu. Saya aja capek mendengarnya”. Romo Mudji memang kadang memakai bahasa dewa dan logika berfikir yang panjang. Rumit dan mungkin ruwet. Tapi sebenarnya, yang dianggap rumit dan ruwt oleh isteri say aitu Adalah perkara yang kecil-kecil, sederhana dan banyak nilai seninya.

Ini misalnya. Pas ada saya, setiap kali ia cerita tentang dissertasi doktoralnya, yang selalu diomongkan adalah foto-foto yang saya buat. Bukan materi doktoralnya. Setiap anak saya tampil di sekolahnya, Romo Mudji pasti cerita : “anakmu mau ternyata fotographer kaya bapake”. Romo tidak tahu, saya dulu cuma fotographer asal jepret. Kebetulan pakai kamera jadul dengan masih memakai film yang pas. Beda sekali dengan anak saya yang portofolio foto-fotonya memang professional dan follower IG-nya begitu banyak.

Baca Juga:  Berjalan Bersama Orang Muda dan Keluarga Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan

Romo Mudji menjadi sosok terkenal, karena ia sangat intens mengahayati kemanusiaannya. Seandainya ia masih hidup dia pasti orang pertama yang saya beri cerita kalau saya lagi ada di negaranya Václav Havel. Sosok Havel Adalah juga penulis, budayawan dan seniman besar Ceko yang dikagumi Mudji. Ketika jadi presiden, Gus Dur sesudah mengunjungi komunitas San Egidio di Roma, langsung terbang ke Praha ketemu presiden Václav Havel yang baru saja dilantik. Seandainya masih hidup, Mudji pasti akan komentar panjang lebar tentang Havel dan budaya bohemian yang mirip dengan gaya dan kiprah Mudji : budaya yang unik, kadang nyleneh tapi penuh seni dan improvisasi.

Ketika jenasah Romo Mudji terbaring di kapel Kanisius, kami sedang mengunjungi gereja tengkorak di Kutná Hora. Di salah satu sudut ruangan gereja itu, ada tulisan besar “memento mori”. Saya lalu ingat kata-kata Romo Mudji tentang kematian : “Di depan kematian, kita diajak berhenti sejenak menekuri hidup yang diselesaikan, mengingati jalanan musafir kita”.

Romo Mudji, sahabat dan saudaraku. Selamat jalan. Jalanan musafirmu sudah kau selesaikan dengan baik. Sudah paripurna. Terima kasih, Romo sudah menjadi kawan seperjalanan yang luar biasa untuk saya sekeluarga dan untuk keluarga besar bapak-ibu. Ketika kita pernah berziarah bersama ke Lourdes dan Tanah Suci, ada perikop dalam Injil Lukas yang kita cintai. Yang selalu kita ulang setiap kali kita misa dan berdoa di hadapan Sang Ibu Kenya Dewi Maria : “dosanya yang banyak itu telah diampuni karena ia telah banyak berbuat kasih”. Penjenengan sudah banyak berbuat kasih. Terlalu banyak bahkan. Dan karenanya, saya yakin semua dosa dan kekurangan kita juga akan diampuni Tuhan. Saya sangat sedih kehilangan kamu. Kalau lagi kangen, pasti akan saya putar lagi video dan foto-foto kamu yang begitu banyak di file computer saya. Matur nuwun Gusti, kami sudah kaparingan sahabat Romo Mudji yang luar biasa. Dia anugerahMu yang besar untuk kami. Requiescat in pace caro Fratello mio.

Dalam doa, terima kasih dan kenangan
A.Kunarwoko
Krakow, 31 Desember 2025
Jam 4.46 waktu Polandia pas pemakamanmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles