Dialog Antaragama adalah Panggilan Kita

86
Yohanes Haryono Darudono.
[HIDUP/Stefanus P Elu]

HIDUPKATOLIK.com – Komisi HAAK KAJ membidik model dialog kehidupan dan dialog karya sebagai medan garapan utama dalam pelayanan. Orang muda sangat dituntut berkontribusi lebih dalam mengembangkan dialog ini.

Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta (HAAK-KAJ) adalah salah satu komisi yang memfasilitasi kunjungan dua utusan Takhta Suci, RP Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCI dan RP Markus Solo Kewuta SVD, ke Indonesia. Ketua HAAK KAJ, Yohanes Haryono Darudono, menanggapi positif kunjungan ini dengan membeberkan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan Komisi HAAK KAJ. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Apakah dialog sangat urgen untuk kita?

Menggerakkan umat untuk berdialog dengan umat beragama lain bukan kehendak kami sendiri, melainkan ke hendak Uskup Agung Jakarta. Lebih dari itu, kita tahu bahwa dimensi iman kita se lalu bersifat vertikal dan horizontal. Vertikal artinya kita berhubungan dengan Tuhan, horizontal artinya kita berelasi dengan sesama. Ketika umat menjaga dan mengem bangkan imannya dengan baik, maka ia mampu menjalin persaudaraan dengan semua orang. Dalam jalinan persaudaraan itulah tumbuh belarasa atau kasih-mengasihi. Maka, dialog adalah panggilan bagi semua pengikut Kristus. Paus Fransiskus sudah memulainya. Ia rela turun ke bawah untuk berjumpa secara langsung dengan aneka macam latar belakang budaya dan agama. Dua utusan dari Tahta Suci dalam kunjungan ini menunjukkan bahwa Gereja universal sangat menaruh perhatian besar pada dialog ini.

Model dialog seperti apa yang digalakkan oleh Komisi HAAK KAJ?

Kita mengenal beberapa model atau tingkatan dialog dengan agama lain, yaitu dialog telogis, dialog iman, dialog karya, dan dialog kehidupan. Selama ini, HAAK KAJ memulai dari dialog kehidupan dan dialog karya. Dalam dialog kehidupan kami mendorong umat agar menjalin relasi akrab dengan masyarakat sekitarnya. Sementara dialog karya adalah keterlibatan umat Katolik dalam tindakan dan aksi nyata. Kedua model dialog ini kami pilih sebagai langkah pertama karena kami memandang bahwa untuk melakukannya tidak dibutuhkan pengetahuan akan dasar teologis atau konsep iman yang tinggi. Cukuplah dengan kemauan untuk membuka diri. Namun, bukan berarti bahwa kedua model lain, dialog iman dan dialog telogis, diabaikan. Keduanya tetap bisa dijalankan, dengan syarat kita memiliki pengetahuan dan tingkat pendidikan yang memadai.

Bagaimana caranya agar model dialog itu sampai ke umat?

Kami menerapkan sistem orientasi. Artinya, kami mengundang Seksi-seksi HAAK paroki untuk berkumpul dan bersosialisasi mengenai langkah-langkah konkret dialog yang dapat kita lakukan. Hingga saat ini, setiap kali kami adakan orientasi, yang hadir sekitar 50 orang. Mereka adalah utusan dari paroki-paroki. Selain itu, pada 2013 kemarin, kami mengadakan per temuan para pengurus RT dan RW se-KAJ. Mereka adalah bagian dari kerasulan awam yang harus didukung. Lewat tangan mereka inilah dialog kehidupan dan dialog karya sungguh terjadi.

Apa saja tantangannya?

Tantangan terbesar kami saat ini adalah bagaimana caranya menumbuhkan selera dialog itu di kalangan anak muda. Suatu ketika, kami mengadakan orientasi. Yang datang adalah umat yang sudah berusia 70 tahun ke atas. Ini tentu tidak buruk. Namun alangkah lebih baik bila yang datang adalah orang-orang muda. Karena, kepada merekalah kita percayakan masa depan Gereja KAJ. Selain itu, dalam salah satu program, kami sangat mendorong para pastor paroki sebagai penggerak utama bangunan relasi dengan agama lain ini. Kami sangat mengharapkan agar para pastor paroki datang dan berkenalan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang ada di lingkungan parokinya.

Apa harapan ke depan?

Setiap tiga tahun Seksi HAAK di setiap paroki berganti. Ini tentunya mem butuhkan kerja keras dari kami dan semua umat. Karena itu, kami sangat mengharapkan agar orang-orang muda mau terlibat dalam dialog ini. Dalam beberapa orintasi akhir-akhir ini mulai hadir beberapa orang muda. Tapi itu belum menjadi gerakan bersama.

Stefanus P. Elu

HIDUP NO.30, 27 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here