Patrisius Marvin Dalimartha: Mendesain Bangunan Diam Cardoner

259
Patrisius Marvin Dalimartha.
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Rate this post

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kanak-kanak, ia gemar menggambar. Talenta ini kemudian mengantar dia bertekun dalam profesi arsitek. Ia mendesain bangunan Pertapaan Cardoner di kawasan Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah.

Awal September lalu, Pertapaan Cardoner yang berada di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah, resmi dibuka. Pertapaan yang dibangun di atas lahan seluas satu hektar ini diprakarsai Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ. Lokasi pertapaan ini berada di lereng Gunung Slamet. Nama Cardoner diambil dari nama sebuah sungai yang mengalir di Spanyol. Di tepian sungai inilah, St Ignatius dari Loyola menjalani hidup kontemplatif selama berbulan- bulan sebelum menjadi misionaris.

Adalah Patrisius Marvin Dalimartha, arsitek yang mendapat kepercayaan untuk mendesain bangunan Pertapaan Cardoner yang berada di bawah yuridiksi Keuskupan Purwokerto ini. Marvin yang baru pertama kali mendesain sebuah bangunan “suci”, harus bolak-balik tiga kali mendesain pertapaan ini. Dalam mendesain bangunan, Marvin mengusung konsep bangunan yang bisa menggetarkan hati. “Bangunan yang mencerminkan hamba yang kecil, terutama saat berdoa kepada Yang Maha Kuasa.”

Marvin tampak sangat antusias ketika mengerjakan rancang bangun per tapaan ini. Ia pun berburu beragam bahan referensi guna memperkaya pengetahuan rancang bangun yang berciri Katolik. Mula-mula, ia bingung ketika melihat lokasi yang dipenuhi tumbuhan. “Saya memutuskan, bangunan ini harus menjadi bangunan diam, bukan bangunan berteriak. Bangunan yang terlihat sederhana menunjukkan sikap rendah hati dan menyatu dengan alam,” jelas Marvin.

Marvin mengurai harap, bangunan pertapaan yang telah usai ia rancang dapat mendukung segala proses kegiatan para petapa; bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang agar terus ingin dekat dan terus berdoa kepada Tuhan.

Bimbang
Sejak kanak-kanak, talenta menggambar Marvin telah kelihatan. Talenta inilah yang kemudian mengantar Marvin memilih jalan hidup sebagai arsitek. Ibundanya selalu mengarahkan Marvin menjadi arsitek, hingga cita-cita menjadi arsitek tertanam dalam benak Marvin. Tapi, usai menuntaskan pendidikan di bangku sekolah menengah atas, Marvin mengalami kebimbangan. Ia memang tidak pernah melupakan mimpi menjadi arsitek. Namun, ia juga menemukan kesenangan baru, yakni mendaki gunung.

Pria yang kini telah dikaruniai satu anak ini sempat ragu memutuskan tempat kuliah. Kala itu, ada satu anggota keluarga Marvin yang menuntut ilmu pada Jurusan Geologi, West Valley College, Saratoga, California, Amerika Serikat. Setelah berdiskusi panjang dengan keluarga, Marvin memutuskan hijrah ke California. Ia melanjutkan pendidikan geologi. Namun, ia tak menyukai mata kuliah kimia. Tantangan ini membuat nilai kuliah Marvin merosot.

Pada semester kedua, Marvin mengambil mata kuliah menggambar. Di sinilah, ia merasa menemukan dunianya kembali. Dua tahun kemudian, Marvin mengambil mata kuliah arsitektur. “Mulai semester ketiga, nilai saya bagus,” kisah pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1982 ini. Hal ini melecut kepercayaan dirinya.

Sembari kuliah, Marvin bekerja menganalisis bangunan. Ia mengisi waktu luang dengan menjadi tenaga kerja paruh waktu di kantor milik seorang dosen yang berprofesi sebagai arsitek. Pada 2007, karena masalah visa, Marvin harus kembali ke tanah air.

Studio Lawang
Di tanah air, Marvin bekerja sebagai kontraktor di Total Bangun Persada. Ia pun mulai belajar tentang bangunan khas Indonesia. “Saya banyak belajar teknis dan proses pembangunan,” ujar umat Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat ini. Tak lama kemudian, Marvin sadar, ia tidak memiliki jiwa sebagai seorang kontraktor. Marvin pun memutuskan pindah bekerja di sebuah biro konsultan arsitektur.

Setelah empat tahun menyerap berbagai ilmu, Marvin memutuskan mendiri kan biro konsultan arsitektur sendiri. Biro konsultan ini diberi nama “Studio Lawang”. Di tempat ini, Marvin bebas mengekspresikan kreativitas mendesain bangunan. “Saat mendesain rumah, saya harus dekat dengan yang punya rumah. Karena dari situ, saya mendapatkan inspirasi untuk mendesain,” ujar suami Babtista Varani Kosasih ini.

Ketika mendesain sebuah bangunan, hal pertama yang dilakukan Marvin adalah mempelajari letak dan kondisi bangunan sekitar. Marvin juga akan memperhitungkan arah sinar matahari. Arah sinar matahari, menurut Marvin, amat penting untuk menentukan tempat membuka jendela dan pintu. Usai itu, Marvin mempelajari peta lokasi, dan mulai membuat sketsa. “Gambar sketsa itu bisa dibuat berkali-kali. Jika kebetulan ada ide yang pas, tapi tidak cocok dengan bangunan, ya saya harus legowo meninggalkan ide itu. Tapi, ide itu tidak hilang dan dapat berguna untuk bangunan yang lain,” tutur Marvin.

Patrisius Marvin Dalimartha
TTL : Jakarta, 26 Maret 1982
Isteri : Babtista Varani Kosasih
Anak : Sabio Lemuel Dalimartha

Pendidikan:
• SMP-SMA Kolese Kanisius Jakarta
• West Valley College, Saratoga, California
• Illinois Institute of Technology Chicago, Illinois

Karya:
• Hotel dan Apartemen Semarang Beverly Hills
• Apartemen Kencono Wungu Semarang
• Taman Ratu Residence Jakarta
• Lubuklinggau Shop Houses, Sumatra Selatan
• Mangga Dua Residence Interior Jakarta
• Casa Goya Residence Interior Jakarta
• Regina Pacis Solo Sporthall
• Surabaya Hotel
• Pertapaan Cardoner

Penghargaan:
• IIT Dean’s List: Fall (200-3-2004)
• IIT Schiff Foundation Fellowship Candidate (2006)
• Jerrold Loebl Travelling Felowship Recipient (2006)

Aprianita Ganadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here