Setiap Orang Punya Solusi Yang Berbeda Untuk Masalah Yang Sama

294
Yohanes Fanny Danang Kurniawan.
[Edward Wirawan]

HIDUPKATOLIK.com – Bermula dari keterlibatan di Komisi Kepemudaan, Danang lantas menggeluti dunia kaderisasi orang muda via jalur hypnoterapy.

Yohanes Fanny Danang Kurniawan baru usai mengikuti rapat di Sekolah High Scope Alfa Indah Jakarta. “Itu rapat persiapan tim pembentukan character building siswa,” kata Danang, sapaannya. Sebagai seorang hypnoterapis, Danang wara-wiri dalam
kaderisasi orang muda melalui pelatihan karakter, kepemimpinan, dan terapi.

Sejak 2008, dalam satu tahun, Danang memberi pelatihan kepada setidaknya 3000-an anak muda di pelbagai tingkatan usia. Ia kerap diminta menjadi pembicara, trainer, dan motivator, dalam pelatihan kepemimpinan untuk beberapa kategori usia, oleh sekolah maupun perusahaan. “Untuk pelatihan di sekolah atau instansi ada patokan tarif. Sedang untuk terapi personal, saya tak menentukan harga, mengutamakan pentingnya membantu seseorang.”

Dari Gereja
Kala muda, Danang aktif di Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta. Di pikiran dan hatinya, ia merasa ada yang belum terpuaskan. Kegiatan orang muda, kata penggemar olahraga bola basket ini, itu-itu saja; daya juangnya lemah. Ia pun tergerak berpartisipasi dan menyelami kegiatan kaum muda itu.

Gayung pun bersambut. Ia menemukan pintu masuk ke dunia kaderisasi orang muda. Mendiang Romo J. Adi Wardaya SJ, yang kala itu bergerak di bidang Active Non Violence, mengajak Danang menjadi volunteer untuk orang muda. Proyek pertama adalah kegiatan Yubelium orang muda di tahun milenium silam.

Sejak itulah, Danang menyelam dalam dunia kaderisasi orang muda. Tapi saat itu, orangtua meminta Danang mencari kerjaan kantoran. Danang patuh, ia lalu bekerja di sebuah perusahaan Multi Level Marketing (MLM). Nasihat orangtuanya seolah-olah menjauhkan Danang dari dunia kaderisasi.

Hidup selalu menyajikan versi lain. Justru di kantor MLM, Danang mengenal Neuro Linguistik Programming (NLP) dari bosnya. Ini merupakan program dalam bentuk komunikasi untuk mengatasi traumatik.

Pada 2008, ia memutuskan resign dan kembali terjun ke dunia orang muda Katolik lagi. Lantas, Danang menekuni NLP. Pada 2011, ia menuntaskan level pertama NLP. Dua tahun berselang, ia meraih Lisensi Master Profesional. “Ada level ketiga, lisensi trainer, belum saya ambil. Tetapi, ilmu dan praktiknya telah saya pahami.”

Danang menyadari, ia berangkat dari Gereja. Karena itu, ia mau terlibat dalam karya Gereja dengan segala kemampuan yang ia miliki. Tak hanya kaum muda, Danang juga masuk dalam pembinaan parenting. Misalkan saja, Danang menjadi pembicara di Kursus Orangtua Katolik atau biasa dikenal Kontak. Kegiatan yang diinisiasi Komisi Kerasulan Keluarga KAJ ini diadakan di Slipi, Jakarta Barat, 29/7.

Masalah pada anak-anak dan orang muda, jelas Danang, berkait karib dengan pola asuh orangtua. “Maka mau tidak mau, saya mencoba masuk ke dunia parenting,” ungkap Prodiakon Paroki Kristus Salvator Slipi, Keuskupan Agung Jakarta ini.

Danang juga aktif alam kaderisasi anak-anak di sekolah negeri. Anak-anak sekolah ini dan beberapa kategorinya, dikelompokkan dalam beberapa wadah. Wadah bagi mereka ada yang disebut dengan Barisan Anak Didikan Kristus (Badik), Satuan Anak Muda Darah Gereja (Samudera) untuk tingkat SMP, dan Pandu Gereja Berani dan Kritis (Pagar Betis) untuk tingkat SMA.

Dalam kaderisasi itu, Danang menyiapkan modul-modul khusus dan juga permainan penyegar suasana. Pelatihan atau retret bagi para siswa, berkisar antara dua hingga tiga hari. Ia pernah memberi pelatihan kaderisasi leadership di SMA Ursula Jakarta Pusat dan SMA Laurensia Alam Sutera. Tak hanya di Jakarta, Danang juga memberikan retret dan pelatihan di daerah lain, seperti SMA St Aloysius Bandung, Bina Nusantara High School Indonesia, serta beberapa sekolah di Yogyakarta dan Solo. “Untuk di KAJ sendiri, sudah 50 persen Paroki pernah saya beri pelatihan atau kaderisasi semacam ini,” ungkap penggiat tablo Kisah Sengsara Yesus di Paroki Slipi.

Keahlian Danang dalam dunia hypnotherapy berbuah. Ia kerap menerima telepon dari mantan orang muda yang pernah Danang terapi. “Ada satu anak, sekarang kuliah S2 di Hongkong mengucapkan terima kasih via telepon,” kata Penggerak Tim Kaderisasi Komisi Pendidikan KAJ ini.

Belajar Mandiri
Apa yang dilakukan Danang saat ini didapat melalui belajar mandiri. Ia tidak berlatar belakang pendidikan konseling dan psikologi. Danang menilai, kebiasaan sejak kecil yang suka mengamati orang menjadi fondasi profesinya saat ini. Danang juga senantiasa mempelajari buku-buku dan metode yang dipakai Richard Bandler dan Jhon Grinder (penemu metode NLP). Danang menjelaskan, trauma dan mental block berkaitan erat dengan masa lalu. “Tetapi kecemasan terhadap masa lalu, bahwa ia akan terulang di masa depan, menjadi mental blok yang menghambat perkembangan seseorang.”

Sebagai terapis, Danang menolak fanatik pada konsep atau cara terapi tertentu. Baginya, setiap orang mesti beda cara dalam pendekatan terapi mental. Seorang terapis, lanjut Danang, harus fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi pasien.
Mindtherapy yang dikembangkan Danang itu pun biasanya dibuka dengan konsultasi dalam keadaan sadar. “Biasanya kesan orang, mindtherapy atau hypnotherapy itu dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Padahal itu dilakukan dengan sadar,” ungkapnya.

Prinsip terapi, kata Danang, setiap orang memiliki peta pikiran yang berbeda satu dengan yang lain. Meski masalah sama namun solusi berbeda. Suatu ketika, dalam sebuah pelatihan, ada seorang anak yang mengalami kambuhan asma. Danang kemudian memberi pilihan kata dalam satu kalimat. Dalam hitungan tak lebih dari dua menit, si anak dapat bernapas lega dan leluasa lagi.

Danang menangkap, apa yang dialami anak tersebut, bukanlah asma dari sisi medis, melainkan mental psikologinya yang perlu diolah. Hingga akhirnya, anak tersebut kembali dapat mengikuti outbound dan kegiatan lainnya hingga tuntas tanpa mengalami masalah serupa. “Dua orang yang sama-sama mengalami fobia ketinggian bisa berbeda dalam pendekatan terapinya. Di sini butuh sense seorang terapis.”

Saat proses terapi mental, Danang pertama-tama memantik kepercayaan pasien terhadapnya. Danang menganalogikan kepercayaan itu seperti kisah Alkitab, di mana orang percaya pada kuasa penyembuhan Yesus, iman-mu telah menyelamatkanmu. Danang tak melupakan masa pendidikan di seminari. Meski hanya setahun, itu meninggalkan jejak berharga baginya. Itu pulalah, meski panggilan menjadi imam akhirnya beralih haluan, ia tetap berkarya bagi Gereja.

Danang mengaku beruntung, status istrinya Isti Yunani sebagai guru agama amat membantunya menyiapkan materi retret dan pelatihan bagi anak muda. “Ada simbiosis mutualisme antara kami. Saya bisa mempelajari materi retret dari dia dan sebaliknya, ia bisa memahami dunia mental para siswa.”

Yohanes Fanny Danang Kurniawan
TTL : Jakarta, 18 Juni 1976
Istri : Isti Yunani

Pendidikan:
• SMP Regina Pacis Jakarta
• SMA Wacana Bhakti Jakarta
• SMA Gonzaga Jakarta
• STF Driyarkara Jakarta

Pekerjaan:
• Pendiri Bright Life Indonesia (lembaga untuk training dan mindtherapy).
• Motivator dan trainer Lisensi Kepelatihan
• Licensed Master Practitioner NLP (Neuro Linguistic Programming) Society, USA
• Certifi ed Instructor and Hypnotherapist, IBH (Indonesian Board of Hypnotherapy
• Certifi ed Master Commnunication Skill Practitioner, Sinergi Lintas Batas

Fr Nicolaus Heru Andrianto/Edward Wirawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here