Sudah Pantaskah Kita Sebagai Anak Bangsa?

98
Pdt Henriette Tabita Hutabarat-Lebang, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
[NN/Dok.HIDUP]

HIDUPKATOLIK.com – Kebhinnekaan adalah realitas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kesadaran ini muncul sejak lama karena adanya sikap menerima keragaman. Sangat bijak ketika negara ini hendak dibangun menggunakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai penghargaan terhadap perbedaan suku, bahasa, budaya, dan agama. “Ini adalah komitmen nasional semua warga negara. Ketika seseorang menolak komitmen ini, ia bukan anak bangsa ini,” tegas Pendeta Henriette Tabita Hutabarat-Lebang.

Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia ini melanjutkan, dalam masyarakat tradisional banyak ungkapan yang menjelaskan betapa persatuan itu penting. Di Maluku muncul ungkapan katong samua basodara atau di Sulawesi dengan Torang samua basudara (kita semua bersaudara). Hal ini menjelaskan bahwa apapun latar belakangnya, kita bersaudara. Persaudaraan menembus sekat-sekat perbedaan.

Namun lanjutnya, arus globalisasi membuat masyarakat Indonesia mengalami perubahan cepat. Nilai-nilai persatuan kian terkikis. Semangat gotong-royong, saling membantu semakin menipis. Sikap individualisme, konsumerisme, dan profit oriented semakin menguat. “Akibatnya, solidaritas, rasa persatuan sebagai anak bangsa makin berkurang.”

Sebab itu, Pendeta Henriette menganjurkan agar kearifan lokal terus diutamakan. Hal ini sebagai perwujudan perdamaian di tengah masyarakat. “Kearifan lokal adalah kekayaan yang kita miliki. Ini sesuatu hal yang sangat nyata bagaimana di tingkat lokal masih ada kasih persaudaraan,” tandasnya.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here