Festival Permainan Tradisional

203
Beberapa kelompok anak bermain bakiak dalam Festival Permainan Tradisional. [HIDUP/ Elisabeth Chrisandra J.T.D.]
Rate this post

HIDUPKATOLIK.com Festival ini tak hanya memperkenalkan beragam permainan tradisional. Ada nilai kehidupan yang ditanamkan.

ADA yang berbeda dengan Car Free Day di Alam Sutera, Tangerang, Minggu, 7/10. Sebuah panggung berdiri disertai spanduk berisi ajakan kepada anak-anak untuk mengenal aneka permainan tradisional yang begitu populer pada masa lalu.

Acara bertajuk “Festival Mainan Tradisional Indonesia” itu diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Sosial Dekenat Tangerang dan Gudang Dolanan. Festival ini merupakan salah satu bentuk perwujudan Tahun Persatuan yang digaungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Kegiatan yang diikuti oleh beragam kalangan, secara khusus anak-anak, dengan beragam latar-belakang menjadi satu bentuk representasi keberagaman Indonesia. Festival ini juga menjadi cara alternatif bagi para orang tua memperkenalkan ragam permainan di Indonesia, di tengah gempuran gawai yang kerap mendera anak-anak mereka.

Ketua Acara Festival, Bambang Gunadi, mengatakan, banyak orang tua prihatin dengan anak-anak yang ketergantungan dengan gawai. Namun menurutnya bukan berarti orang tua lantas melarang anak bersentuhan dengan gawai, “Kita intropeksi diri apakah kita juga memperkenalkan permainan (tradisional) itu kepada anak-anak?,” tanyanya, retoris.

Demi memeriahkan acara, Endi Aras, salah satu pendiri Gudang Dolanan memboyong sepuluh mainan tradisional, antara lain: taplak atau sudamanda, congklak, sepakbola pantul, engsreng, egrang bambu, egrang batok, bakiak, telepon kaleng, dan mobil laker.

Seorang anak bermain taplak atau sudamanda. [HIDUP/ Elisabeth Chrisandra J.T.D.]
Saat acara terlihat para orang tua menemani anak-anak mereka bermain, bahkan tak sedikit yang terlihat mengajarkan permainan tersebut kepada buah hati masing-masing. Misal, Sylvie, ibu rumah tangga yang terlihat membimbing kedua anaknya bermain congklak.

Ada juga Elzie yang menuntun buah hatinya, penyandang tuna netra, melangkahkan kakinya di atas egrang batok kelapa. “Tapi sakit,” ucap Lizbeth seraya tersenyum. Sylvie amat mengapresiasi kegiatan ini. “Dengan diadakan acara ini, mereka (anak-anak) bisa kenal permainan dulu sebelum ada gadget,” katanya.

Bagi Endi, inti dari bermain permainan tradisional itu adalah mencari kesenangan. “Jadi ngga bener kalau main (permainan) tradisional tapi tiba-tiba nangis atau sedih karena ngga tercapai (tujuannya).” Menurut Endi, permainan tradisional memiliki kelebihan yakni tidak memandang agama, suku, ataupun strata sosial.

 

Elisabeth Chrisandra J.T.D.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here