Syukur dan Janji Pak Met

1037
Gereja St Antonius Purbayan, Solo.
[HIDUP/Hermina Wulohering]

HIDUPKATOLIK.com – Dia menjadi Katolik sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Ia dikagumi para gadis karena memiliki banyak keunggulan. Gugur dalam usia amat muda.

Senandung “Malam Kudus” membahana dari dalam Gereja St Petrus Purwosari, Solo, hingga ke muka jalan umum. Di gereja yang dibangun pada 1938 tengah berlangsung Misa Malam Natal. Saat itu, Komandan Brigade V, Letnan Kolonel Slamet Riyadi, yang sedang berpatroli memerintahkan sejumlah anak buahnya untuk berhenti di depan rumah ibadah itu.

Tak ada bahaya atau musuh yang mengancam saat itu. Perintah itu terlontar lantaran Pak Met, mendengar lagu “Malam Kudus”. Menurut Romo Rofinus Neto Wuli, Pak Met terkesan dengan lagu yang begitu syahdu itu. “Dia (Slamet Riyadi) berdiri menghadap gereja dan mendengar lagu itu sampai selesai,” ujar Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri di Keuskupan TNI-Polri, ketika ditemui di Pastoran St Valentino, Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa, 30/10.

Lagu itu terus terngiang di telinga Slamet. Dia lalu mengutarakan kehendaknya untuk menjadi Katolik. “Agama yang lagunya baru saya dengar tadi, amat mempengaruhi dan membekas bagi saya sampai sekarang. Saya mau masuk agama yang lagunya saya dengar tadi,” ujar Romo Ronny, sapaannya. Romo Ronny mendapat informasi tersebut dari Uskup TNI-Polri, Mgr Ignatius Suharyo.

Ungkapan Syukur
Ada kisah lain seputar pembaptisan Slamet Riyadi. Dalam buku Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, diterbitkan oleh Keluarga Besar SA/CSA (Strum Abtaelung/Corps Sukarela), membeberkan satu tahap penting dalam kehidupan Slamet Riyadi, terutama soal imannya sebagai seorang Katolik.

Alkisah, pada suatu sore Slamet Riyadi duduk bersama ajudan sekaligus kawan dekatnya, Letnan Kolonel Djoko Moelyono. Sembari menikmati pemandangan, mereka berdialog. Pak Met berkata kepada Djoko, “Mas Djok, bila kita menang nanti, laat ons danken aan onze Lieve Heer, door ons te laten dopen…(Mas Djok, bila kita menang nanti, marilah kita bersyukur kepada Tuhan, dengan minta dipermandikan secara Katolik).”

Kedua perwira muda itu bertandang ke Gereja Purwosari dan meminta untuk dibaptis. Pak Met memilih nama baptis Ignatius. Setelah itu, Romo bertanya kepada Djoko nama baptis yang dikehendakinya. Dia menjawab singkat, “Ignatius”.

Imam tersebut tersenyum mendengar jawaban pendek salah satu orang muda di hadapannya. “Lho, kok sama dengan Pak Met?” tanya Romo, retoris.

Santo Ignatius Loyola berasal dari keluarga bangsawan di Basque, Spanyol Utara. Sejak kecil, Ignatius sudah bercita-cita menjadi ksatria. Impiannya pun terwujud. Bahkan, dia mendapat penghargaan berkat aksi heroiknya dalam pertempuran di Pamplona. Namun, akibat tembakan meriam yang melukai tubuhnya, Ignatius harus terbaring di atas tempat tidur selama berbulan-bulan.

Selama masa perawatan, dia memanfaatkan waktunya dengan membaca kisah tentang kepahlawanan, namun kala itu yang tersedia di sana hanya kisah Yesus dan para orang kudus. Dia membaca buku-buku tersebut. Perlahan-lahan, pustaka itu menarik hatinya. Hidup prajurit ini pun berubah. Dia adalah pendiri Serikat Yesus.

Slamet dan Djoko menerima Sakramen Baptis di Gereja St Antonius Purbayan, Solo pada Sabtu, 24 Desember 1949. Jarak Gereja Purbayan dengan Gereja Purwosari sekitar empat kilometer.

Dalam buku baptis (Liber Baptizatorum/LB) milik Paroki Purbayan, berkode IV, 1945- 1952, halaman 114, nomor 3525, memuat informasi bahwa Ignatius Slamet Riyadi dibaptis oleh Pastor Theodorus Poespasoeparta SJ. Saksi pembaptisan Pak Met adalah Letnan Ignatius Sastrosudiro.

Di buku serupa, di halaman 115, nomor 3526, juga tercantum nama Ignatius Djoko Moelyono. Slamet dan Djoko ternyata tak hanya baptis bareng, dua kawan karib itu juga menerima Sakramen Krisma bersama-sama pada 20 Juni 1950 di Boyolali.

Mantan ajudan lain Pak Met, Kolonel (Purn) Aloysius Sugiyanto, memaklumi bila mantan pemimpinnya itu menjadi Katolik. Menurut Sugiyanto, situasi Solo saat itu agak “kemerah-merahan”. Slamet pun tak luput dari tudingan bahwa dirinya terpengaruh kelompok sosialis dan atau komunis. Keputusan Pak Met dibaptis, sambungnya, ingin membuktikan kepada banyak orang bahwa dia tak terlibat dalam golongan tersebut.

Pak Met juga mengenal kekatolikan sejak belia, kata Sugianto. Dia sempat mengenyam pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setaraf SMP) Katolik atau Bruderan. Selain itu, saat HIDUP ke Solo, letak rumah Pak Met hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Gereja Purbayan. “Jadi, Pak Met sudah lama mengenal Katolik,” ujar Sugiyanto, saat bertemu di kediamannya, di daerah Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 29/10.

Jadi Idola
Badannya kekar. Pandangan matanya tajam. Kulitnya hitam manis. Suaranya kecil dan termasuk orang yang irit bicara. Itulah gambaran lahiriah Pak Met. Pria kelahiran Tipes, Solo, 26 Mei 1926 gemar membaca dan bermain musik. Dia juga mampu berbahasa Belanda.

Slamet menulis pedoman perang gerilya. Uniknya, semua teori tersebut bukan didapatkannya selama pendidikan ketentaraan tapi pengalamannya di medan tempur. Ide dan gagasan Pak Met itu kemudian hari dikembangkan oleh Letnan Kolonel Alex Kawilarang dengan membentuk unit khusus menjadi cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dalam usia yang masih amat muda, Slamet dipercaya sebagai Komandan Batalyon. Tak pelak, keunggulan yang dimiliki oleh Pak Met, membuat dirinya menjadi idola banyak gadis. Di antara sekian banyak gadis yang dia kenal, salah satu yang ditaksir Pak Met adalah Soerachni.

Lulusan MULO ini adalah anak guru besar di Sekolah Tinggi Kedokteran Ikka Dai Gakkoo. Soemedi. Soerachni awalnya belum mau menjadi kekasih Slamet lantaran usia. Usia Soerachni dua tahun di atasnya. Ayahnya juga kurang senang bila memiliki menantu dari kalangan militer. Slamet mampu meluluhkan hati Soerachni.

Kesempatan dua sejoli itu berpacaran amat terbatas. Slamet kerap mendapat tugas untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan negara di sejumlah daerah. Meski demikian, tiap ada kesempatan, Pak Met berusaha bertemu dengan kekasihnya itu.

Pada 10 Juli 1950, Pak Met bertunangan dengan Soerachni di Surabaya. Djoko, ajudan sekaligus teman dekat Slamet, dalam ceritanya kepada Soejono Hardjomartono mengatakan, dirinya datang ke acara pertunangan Slamet-Soerachni.

Menurut Djoko, meski wajah kawannya itu mesem melihat kehadiran perempuan itu, Pak Met tetap tenang. “Dia mendekati saya, memberi salam dan bilang, ‘terima kasih Mas atas kadonya,” ujar Djoko, mengutip perkataan komandan, teman, sekaligus adiknya itu.

Dua hari setelah pertunangan, Pak Met bertolak ke Maluku untuk menumpas gerakan separatis Republik Maluku Selatan. Sebelum berpisah, Pak Met berpesan kepada calon istrinya, “Lieq (sapaan Pak Met untuk Soerachni), wij gaan binnenkort trouwen en ik kom terug met de RMS vlag (Lieq, kita kawin dalam waktu dekat dan aku akan membawa bendera RMS).”

Tanpa Bulan Madu
Sebulan kemudian, Pak Met kembali ke Jakarta. Ada panggilan mendadak dari Markas Besar Angkatan Darat. Usai menuntaskan tugas utamanya, Pak Met sekaligus menyelesaikan misi lain tapi penting terkait janji dengan kekasihnya. Sebab, ada ungkapan berbunyi demikian, yang dipegang dari seorang pria adalah omongannya.

Pak Met membuktikan omongannya kepada Soerachni. Dia menikahinya. Mas kawin yang Pak Met berikan untuk sang istri adalah bendera RMS rampasan. Sehari setelah pernikahan, Pak Met kembali ke medan tempur. Mereka tak sempat mencecapi bulan madu seperti pasangan zaman now.

Selang beberapa bulan, Soerachni mendapat kabar suaminya gugur. Awalnya dia tak percaya meski beberapa anak buah Pak Met, termasuk Sugiyanto, mengunjungi dan memberikan ikat pinggang Pak Met. Gesper itulah yang dikenakan Pak Met saat timah panas mengenai perut bagian kanan dan merenggut nyawanya beberapa waktu kemudian. Usai Pak Met saat itu belum genap 24 tahun.

Yanuari Marwanto
Laporan: Hermina Wulohering (Solo),
Elisabeth Chrisandra J. T. D (Jakarta)

HIDUP NO.45 2018, 11 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here