Pastor Rofinus Neto Wuli : Hidupilah Nilai-Nilai Kepahlawanan

356
Pastor Rofinus Neto Wuli.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.com – Intoleransi dan radikalisme menjadi salah satu tantangan bangsa kita saat ini. Berbaur dan berelasi dengan sesama lain merupakan syarat mutlak untuk menangkal ancaman tersebut.

Slamet Riyadi telah menunjukkan keberaniannya sebagai patriot. Indonesia masih dapat terus menggali nilai-nilai cinta tanah air yang dari pahlawan kelahiran Solo ini. Apa saja keutamaan yang dapat dikembangkan dari sosok pejuang ini, berikut petikan wawancara dengan Pastor Rofinus Neto Wuli.

Bila dulu Slamet Riyadi berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa, apa perjuangan kita saat ini?

Terlebih dulu, saya harus mengapresiasi tema ini. Dengan mengangkat kembali figur pahlawan beriman Katolik merupakan bagian upaya kita merawat berbagai kenangan dan fakta sejarah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita patut bangga kepada para pendahulu, dengan jiwa kepahlawanan telah menunjukkan eksistensi umat Katolik di Indonesia sebagai bagian integral bangsa ini. Bila sekarang kita berkunjung ke Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, akan muncul decak kagum melihat gedung-gedung utama di sana ada nama Agustinus Adi Sucipto (Pahlawan beragama Katolik di Angkatan Udara), Yosaphat Sudarso (Pahlawan beragama Katolik di Angkatan Udara), Ignatius Slamet Riyadi (Pahlawan beragama Katolik di Angkatan Darat).

Jadi ada Pahlawan Nasional yang beriman Katolik di dalam tiga matra TNI. Selain itu, masih ada satu yang terlupakan oleh sejarah, dan kita mesti melawan lupa tersebut, yakni Tjilik Riwut. Beliau dari matra Angkatan Udara.

Selain itu, bisa saya katakan, Pahlawan Nasional yang beriman Katolik amat lengkap, mulai dari kalangan hierarki hingga awam, yakni Mgr Albertus Soegijapranata SJ, di lingkungan militer seperti saya sebutkan sebelumnya, dan ada satu lagi dari kalangan awam yakni Bapak Ignatius Joseph Kasimo. Jadi, umat zaman sekarang harus bersyukur bahwa kita punya Pahlawan Nasional yang lengkap.

Kita patut bersyukur bahwa Negara mengakui dan menghargai kontribusi umat Katolik bagi Tanah Air. Kita juga berharap, Negara tetap hadir dan memberi pengakuan kepada segenap elemen anak bangsa yang berkontribusi untuk bangsa ini.

Kembali pada pertanyaan, apa perjuangan kita saat ini? Kita bisa berkaca kepada perjuangan para pahlawan dulu. Bila dulu mereka mengangkat senjata, merebut dan mempertahankan kemerdekaan seperti Slamet Riyadi, kemudian mengisi dan merawat kemerdekaan ini, maka giliran kita, yang hidup pada zaman ini adalah meneruskan dan menghidupi spirit serta nilai-nilai kepahlawanan, seperti: cinta Tanah Air, rela berkorban, membela dan menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, kedamaian pada setiap lini medan bakti kita dalam bermasyarakat maupun bernegara.

Apa tantangan kita saat ini?

Kita berhadapan dengan gerakan intoleran dan radikalisme. Ada upaya-upaya dari kelompok atau elemen-elemen masyarakat tertentu, yang ingin mencederai realitas kemajemukan bangsa ini. Itu berbahaya, akan tercipta disintegrasi bangsa. Padahal Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai konsensus bangsa ini sudah final. Maka munculnya gerakan untuk mengganti empat konsensus itu dengan sistem atau negara lain merupakan tantangan terbesar bangsa ini sekarang.

Kedua, ketidakadilan dalam pembangunan dan pemerataan. Kita bersyukur bahwa kepemimpinan sekarang sudah memakai paradigma Indonesia sentris. Artinya, melihat Indonesia sebagai satu kesatuan.

Kita lihat, Presiden sekarang sudah ke Papua, Nusa Tenggara Timur, beberapa kali dalam setahun. Presiden juga memberikan perhatian sungguh-sungguh pada pembangunan. Meski demikian, masih saja terdapat teriakan-teriakan ketidakadilan dan kekurangmerataan perhatian dan pembangunan.

Teriakan-teriakan itu juga yang memicu gerakan-gerakan pada tantangan pertama. Mereka selalu mengatakan alasan ini sebagai dalil gerakan. Ini penting. Bagi saya, kalau kita menghendaki perdamaian maka berlakulah adil atau wujudkanlah keadilan. Sebab, ini merupakan salah satu asas negara kita: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu, ada juga pepatah yang berbunyi, sivis pacem, cole iustitiam. Maksudnya, jika ingin damai maka siapkanlah atau wujudkanlah keadilan. Maka keadilan merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan perdamaian.

Ketiga, belum terkelolanya kekayaan alam secara baik dan adil dalam pemanfaatan dan pendistribusian hasil kekayaan alam. Jika itu tak terkelola dengan baik, bisa juga mengancam disintegrasi bangsa.

Keempat, terjadi degradasi penghayatan spirit kebangsaan dan menguatnya politik identitas. Salah satu yang bisa kita buat saat ini adalah merajut keindonesiaan yang majemuk.

Kelima, krisis keteladanan. Hari ini kita memiliki banyak politisi, tapi minus negarawan. Politisi berkoar-koar bukan untuk menentramkan, mendamaikan, dan mempersatukan bangsa ini. Tapi, karena kepentingan politiknya bisa membahayakan keutuhan atau kedaulatan bangsa. Kita saat ini membutuhkan negarawan: mereka yang sudah selesai dengan dirinya dan memikirkan negara ini.

Sebagai kelompok kecil, apa yang bisa umat Katolik lakukan untuk menangkal tantangan itu?

Kalau Slamet Riyadi atau Kasimo bisa hidup membaur dan bergaul lintas etnik dan agama, semangat itu kiranya mesti kita hidupi kembali dalam menghadapi tantangan tadi, terutama munculnya kelompok intoleran dan radikal. Salah satu cara yang mesti kita lakukan adalah hidup membaur dengan saudara lain (agama dan suku) di dalam masyarakat. Itu akan merobohkan benteng praduga dan curiga yang tumbuh di antara kita.

Ada kesan, Bulan November bagi orang Indonesia yang beriman Katolik cukup spesial: ada Hari Raya Semua Orang Kudus, Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, dan Hari Pahlawan. Tak hanya itu, ternyata Ignatius Slamet
Riyadi, gugur mempertahankan kedaulatan Negara pada bulan ini juga. Bagaimana tanggapan Romo?

Bagi saya itu bukan kebetulan. Berdasarkan refleksi saya pribadi, semua rentetan peristiwa itu terjadi karena Penyelenggaraan Ilahi. Lagipula, kita semua, sebagai umat beriman juga mempercayai bahwa hidup-mati kita berada di tangan Tuhan. Jadi, sekali lagi, semua peristiwa ini merupakan kehendak Allah.

Sebagai informasi, kami umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri, punya tradisi merayakan Misa bersama setiap Hari Pahlawan. Tahun ini, Misa Syukur Hari Pahlawan se-Garnisum Satu Jakarta berlangsung pada 16 November di Gereja St Yohanes Maria Vianney, kompleks Markas Besar TNI Cilangkap.

Apa Pesan Hari Pahlawan tahun ini, dan bagaimana Gereja bisa menggugah umat agar perayaan ini bukan seremonial belaka?

Menghidupi nilai-nilai kepahlawanan seperti yang sudah saya sebutkan dengan bersama-sama hidup berdampingan dengan sesama dari agama dan suku lain dalam bingkai kemajemukan. Selain itu, kita bisa menjadi garda terdepan dalam pengamalan Pancasila. Sebab, Pancasila adalah perekat dan pemersatu kita sebagai sebuah bangsa.

Saat saya berkunjung ke luar negeri, tak sedikit yang bertanya, kapan negara saya bubar? Saya katakan, selama kami masih setia kepada Pancasila, sebagai dasar Negara, bangsa saya akan tetap eksis. KAJ pun menjadikan Pancasila sebagai arah dasar evangelisasi atau pastoralnya selama periode 2016-2020.

Apakah kita bisa menyebut Ignatius Slamet Riyadi atau mereka yang gugur karena mempertahankan kedaulatan negara sebagai martir bangsa?

Uskup TNI-Polri, Mgr Ignatius Suharyo, dalam kunjungan ke kodam-kodam, polda-polda, pangkalan udara, dan pangkalan laut, selalu mengatakan, salah satu penghayatan iman dan kemartiran bagi orang Katolik adalah cinta Tanah Air. Terakhir, beliau mengatakan hal tersebut saat di STIK-PTIK Lemdiklat Polri pada September lalu.

Sementara menurut saya, konsep kemartiran adalah ketika orang bisa memberikan diri secara total, penuh cinta, dan pengabdian tulus bagi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara tercinta ini sesuai medan bakti atau perutusan kita masing-masing.Singkat kata, kita mesti semakin memantapkan spirit keimanan Katolik dan spirit kebangsaan dalam NKRI untuk menjadi semakin 100% Katolik, 100% Indonesia.

Ada doa yang saya buat untuk mengenang jasa mereka yang gugur untuk bangsa ini: Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau mengutus putra-putri Indonesia untuk berjuang mengusir penjajah dan membangun Indonesia. Banyak dari antara mereka gugur. Semoga kini mereka serupa dengan Allah Putra, bangkit dan bahagia di Surga. Bimbinglah kami untuk hidup bersatu dengan Dikau dan meneruskan perjuangan para pahlawan kami di tengah realitas bangsa zaman ini. Kami bersyukur pula karena Engkau telah menciptakan aneka ragam budaya, suku, agama, dan pelbagai perbedaan lainnya di dalam kehidupan berbangsa kami. Jauhkanlah bangsa kami dari sikap intoleran, radikal sempit, mau menang sendiri, dan berpikiran kerdil yang mengarah ke perpecahan dan disintegrasi bangsa. Curahkanlah Roh-Mu agar bangsa kami menjadi bangsa yang selalu menegakkan nilai-nilai Pancasila dan menghargai kebhinekaan dalam NKRI. Santa Maria Bunda Segala Suku, doakanlah kami. Amin

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.45 2018, 11 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here