Beato Stainly Francis Rother (1935-1981): Misionaris di Antara Suku Indian, Amerika

73
Beato Stainly Francis Rother membaptis seorang anak pribumi Tz’utujil dari Suku Indian Maya di Santiago Atitlán, Guatemala/www.catholicnewsagency.com
1/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM“JIKA kematian adalah takdirku, maka terjadilah. Aku tidak ingin meninggalkan domba-dombaku. Masih banyak yang harus dilakukan,” kata Pater Stainly suatu hari.

SANTIAGO Atitlán, Guatemala adalah daerah yang mustahil berkembang bagi misi Katolik. Selain karena miskin, daerah ini hanya dihuni masyarakat pribumi Tz’utujil dari Suku Indian Maya. Mereka hidup di lingkungan yang gersang. Semua cenotes ‘sumur’, selalu saja kering. Hasil pertanian seperti jagung, latex (getah kental mirip susu) dan tortilla, tak selalu menjanjikan.

Tantangan lain adalah komunikasi. Masih ada orang Suku Maya yang berkomunikasi dengan corak glyph, ‘gambar dan simbol’. Siapapun yang ingin masuk daerah itu, syarakatnya harus mengusai bahasa Tz’utujil dan berkomunikasi dengan cara glyph. Tak heran, kesulitan berbahasa menjadi titik perpecahan dan perang antarklan di Atitlán. Hampir di setiap wilayah yang dibangun dengan peradaban Mesoamerika, jauh dari pesan damai.

Beato Stainly Francis Rother/www.catholicnewsagency.com

Membuka misi di Atitlán, sama saja bunuh diri. Tak terbayang bagaimana membangun infrastruktur; pun bagaimana menangani kekerasan di sana. Atitlán sungguh terlihat mustahil sebagai sebuah target misi Gereja. Keuskupan Agung Okhlahoma, Amerika Serikat, pernah mencoba membuka misi asing di Atitlán tetapi selalu gagal. Beberapa yang imam ditugaskan ke Guatemala selalu berakhir dengan kematian atau melarikan diri dari misi itu.

Sejarah menoreh, seorang imam yang berhasil menyelesaikan misi di tempat ini sampai wafat adalah Pater Stainly Francis Rother. Imam Keuskupan Okhlohama ini merintis sebuah karya misi asing sekitar tahun 1960.

Keluarga Petani

Stainly lahir dari sebuah keluarga Kristen yang taat di Desa Okarche, Oklahoma. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kemiskinan. Kedua orang tuanya, Franz Rother (1911- 2000) dan Gertrude Smith (1913 – 1987), membesarkan Stainly di sebuah desa yang dihuni para imigran Jerman.

Sebagai sulung dari lima bersaudara, Stainly mewarisi keuletan sang ayah dalam bidang pertanian. Ia bisa mengoperasikan mesin bajak, meracik pupuk, serta membuat pestisida sintetik. Ia juga mahir memperbaiki mesin pertanian yang rusak. Keuletannya membuat pertanian mereka cepat beralih dari corak konvensional ke pertanian kontemporer.

Beranjak remaja, Stainly mulai menunjukkan keunggulan yang lain. Stainly mulai tertarik mempelajari iman Katolik. Sebelum dan sesudah bekerja, ia acap kali mengunjungi Gereja St John Lutheran dan Gereja Holy Trinity. Intesinya hanya satu, ia ingin menjadi imam. Usai lulus dari Sekolah Holy Trinity, ia dikirim ke Seminari St Yohanes XXII. Ia kemudian melanjutkan ke Seminari San Antonio, Texas.

Selama masa studinya, Stainly bukan orang brilian. Ia kesulitan dalam belajar dalam Bahasa Latin dan juga Logika. Deson memberi berapa kali kesempatan untuknya, tetapi ia selalu gagal. Hal ini yang menjadikannya selalu mendapat tugas kasar, seperti menjadi koster atau sebagai penjaga perpustakaan. Tugas menjadi tukang ledeng serta tukang kebun pun silih berganti hinggap di pundaknya. Namun, ia melakukan setiap tugas itu dengan sepenuh hati.

Selama enam tahun menjalani studi di Texas, Stainly tak menunjukkan perubahan yang berarti, ia terpaksa dikeluarkan  dari seminari. Sr Clarsissa Tenbrick, wali kelas saat Stainly kelas V Sekolah Dasar sempat menulis sebuah surat untuk menguatkannya.

Karena keinginan menjadi imam sangat besar, ia memberanikan diri menghadap Kepala Paroki Okarche, Pater Edmund von Elm. Dalam perbincangan itu, Pater Elm merekomendasikan untuk bertemu Uskup Agung Okhlahoma City dan Tulsa, Mgr Victor Joseph Reed (1905-1971).

Kelahiran Okarche, 27 Maret 1935 ini, lalu diminta segera mempersiapkan diri menjalani studi di Seminari St Mary di Emmitsburg, Maryland. Rektor Seminari Maryland, Pater Pater George Mulcahy berkisah, “Stainly adalah seorang calon imam sederhana. Ia tak unggul dalam studi tetapi corak hidupnya sangat berkesan bagi kolegianya.” Tanggal 25 Mei 1963, Diakon Stainly ditahbiskan imam.

Misi Tersulit

Tugas perdana setelah ditahbiskan adalah menjadi pastor paroki. Ia mengawali karyanya sebagai Kepala Paroki St William Durant, kemudian di Paroki St Fransiskus  Xaverius Durant, Katedral Keluarga Kudus Tulsa, dan Gereja Corpus Christi Okhlahoma City. Banyak umat mengenalnya sebagai imam yang saleh. Ia adalah bapak pengakuan bagi para penjahat di Okhlahoma. Ia rela menunggu berjam-jam di ruang pengakuan, agar umat mengaku dosa. Ia menjadi gembala yang hebat karena pelayanannya.

Tahun 1968 sebuah proposal misi asing diterimanya. Tanpa banyak pikir, ia menyatakan kesanggupan untuk menerima misi asing Keuskupan Agung Oklohama di Santiago Atitlán, Barat Daya Guatemala. Ia sadar menerima misi ini berarti siap untuk mati.

Atas bantuan Pater Ramón Carlín-imam yang pernah bertugas di Tz’utuhil, ia belajar sedikit bahasa Suku Maya. Ia juga belajar membaca dan menulis serta menghafal percakapan sehari-hari Suku Maya. Ia tiba di Atitlán tahun 1970 dan disambut dengan berbagai penolakan. Tetapi misionaris pencinta kuda ini terus bertahan. Lewat kotbahnya dalam bahasa Tz’utuhil, banyak orang mulai percaya kepadanya. Ia juga mulai memberanikan diri menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Baru dalam bahasa lokal. Lambat laun banyak orang mencintainya. Mereka menyapanya, A’Plas,“Bapak berjenggot Francisco.”

Pater Steinly Francis Rother dan masyarakat Suku Indian/www.catholicnewsagency.com

Karya berikutnya adalah membangun infrastruktur. Ia mendirikan Rumah kesehatan untuk masyarakat Suku Maya. Ia melatih keterampilan bertani kontemporer, seperti cara menggunakan buldoser dalam membajak, membersihkan tanah, membuat pengairan, irigasi, cara menggunakan pupuk, dan mesin pemotong padi. Dalam sekejap Atitlán berubah menjadi “Kota Tortilla” dengan penghasil jagung terbanyak di Guatemala.

Menolak Pergi

Status pertanian yang berubah di Atitlán menjadi incaran banyak penguasa. Namun, sistem kekerabatan yang kental dalam masyarakat Maya membuat para penguasa sulit merebut Atitlá. Mereka lebih mendengarkan “si jenggot” ketimbang penguasa. Hal ini membuat banyak orang ingin membunuh Pater Stainly.

Tahun 1980, Pater Stainly dikagetkan dengan pembunuhan pegawai radionya. Tak tahan dengan situasi ini, Pater Stainly lalu mulai mengkritik pemerintah. Pada Mei 1981, ia menulis kritiknya dan disebarkan lewat radio. Banyak umat mulai was-was karena isu yang beredar, Pater Stainly akan dibunuh. “Jika kematian adalah takdir saya, maka terjadilah,” ungkapnya menanggapi isu tersebut.

Lewat Francisco Bocel, seorang anak kecil polos, tiga Ladinos (tentara Guatemala) mengetahui tempat istirahat Pater Stainly. Di hadapan Francisco, tiga ladinos itu membunuh Pater Stainly dengan dua kali tembakan persis di kepala dan dadanya.  Ia meninggal pada 28 Juli 1981 dalam usia 46 tahun.

Kematiannya ini meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat Suku Maya. Mereka mengenang kematiannya dalam acara selama tujuh hari. Jenazahnya lalu dimakamkan Gereja Holy Trinity, Okarche tanggal 3 Agustus 1982 tetapi hatinya ditahtakan di Gereja kecil di Atitlá. “Kematian Stainly bukan karena perampokan, tetapi dendam pemerintah,” tulis Maria Scaperlanda, penulis otobiorgafi Pater Stainly.

Proses beatifikasi untuk Martir Suku Maya ini dibuka oleh Keuskupan Agung Oklahoma City. Setelah itu, Dokter Andrea Ambrosi ditunjuk sebagai postulatornya. Paus Emeritus Benediktus XVI resmi membuka proses beatifikasinya pada 5 Oktober 2007 dan berakhir 20 Juli 2010. Validitas kemartiran Pater Stainly diakui Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan pada 16 Maret 2012. Pada 1 Desember 2016, Paus Fransiskus mengeluarkan dekrit kemartirannya.

Rencanaya Misa beatifikasinya akan dilaksanakan pada 23 September 2017 mendatang di Center Ohlahoma City. Misa akan dipimpin Kardinal Angelo Amato SDB, Prefek Penggelaran Kudus Vatikan. “Kita perlu kesaksian orang-orang suci seperti Pater Steinly untuk mengingatkan kita bahwa semua orang dipanggil untuk kekudusan,” ungkap Uskup Agung Aklohama, Mgr Paul Coakley seperti dilansir CNA (8/07/2017).

 Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here