BERBUAH DAN MENJADI SEMPURNA KARENA DIA BAIK

138

HIDUPKATOLIK.COM – PAGI hari ini, saya berencana untuk membersihkan kebun kecil yang terletak di depan rumah.  Yang sudah mulai terlihat tak terurus alias berantakan. Ya… karena kesibukan di sana sini saya melupakan kebun kecil itu. Lalu saya mengambil gunting dan gergaji kecil untuk mempermudah pemangkasan dan pemotongan pohon.

Saya mulai dengan mencabut rumput liar dan memotong daun yang sudah layu. Kemudian saya tertarik dengan pohon jambu biji yang tumbuh tepat di depan pekarangan ini. Pohon jambu biji ini belum pernah berbuah sejak saya tanam dari benih yang ditaburkan.

Hmmm…. sudah hampir 3 tahun pohon ini tidak memberikan tanda-tanda akan berbuah. Tangan saya sudah mulai gatal dan pikiran saya sudah mulai berniat jahat. Mungkin sudah sebaiknya pohon ini saya pangkas habis dan menggantikannya dengan pohon buah yang lain. Sebenarnya pohon ini sudah beberapa kali saya rapikan dan diberi pupuk pula, sembari menunggu dia untuk berbuah. Tapi kali ini mungkin sudah tidak boleh ditunggu lagi…..

Saya pun mengambil gergaji dan mulai memotong ranting-rantingnya. Dari bawah saya potong rantingnya lalu naik ke atas dan dipotong kembali. Ketika sampai di tingkat yang agak tinggi saya tetap berusaha untuk bisa memotong ranting-ranting itu. Tetapi tiba-tiba sesuatu terjadi. Mata sebelah kiri saya tak sengaja kemasukan serbuk kayu pohon itu. Saya pun langsung berhenti memotong ranting itu. Membereskan semua peralatan berkebun. Mata saya sakit dan harus segera untuk diobati.

Saya berusaha dengan segala cara untuk mengeluarkan serbuk kayu yang sangat kecil itu. Terasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam kulit pelindung mata saya dan itu terasa sakit. Saya mencoba untuk  mencuci mata dengan air mengalir. Meneteskan mata dengan obat tetes mata tetapi tetap saja tidak berhasil mengeluarkan serbuk kayu itu dan menghilangkan rasa sakitnya. Akhirnya untuk sementara waktu saya menyerah saja. Saya membiarkan mata ini sakit dan memasrahkan keadaan ini sambil berdoa semoga mata saya bisa lekas disembuhkan. Semoga serbuk kayu itu mau cepat keluar dan tidak menyakiti mata saya lagi.

Dari pengalaman kecil ini saya terbawa dalam dua buah permenungan.

Satu, benih biji yang telah ditaburkan dan ditanam itu, tidak selalu bertumbuh dengan baik. Belum tentu ia akan berbuah dengan cepat dan tumbuh sesuai dengan kehendak si penabur. Benih ini membutuhkan ekstra kepedulian dan perawatan rutin supaya bisa berbuah. Bersabar dan bersabar menunggu untuk berbuah. Mungkin itu salah satu kunci pemikiran dari seorang penabur. Tetapi sampai kapankah penabur ini akan bersabar menunggu pohon itu akan berbuah? Karena saya sendiri saat ini sudah mulai tidak mau bersabar lagi untuk menunggu pohon itu berbuah.

Peristiwa kecil ini mengingatkan saya bahwa semua orang yang telah diciptakan adalah baik adanya dan sangat dicintai oleh Tuhan. Saya ataupun anda merupakan sebuah benih yang telah ditaburkan dan dibekali dengan talenta serta karakter yang berbeda-beda oleh Sang Pemberi Kehidupan. Sebagai benih yang baik saya atau anda harus berusaha untuk belajar bagaimana bisa bertumbuh dengan baik sesuai dengan kehendak-Nya. Menjadi benih yang bisa berbuah, bukan hanya satu tetapi bisa banyak dan berguna serta menjadi berkat bagi sesama.

Walaupun tumbuh menjadi benih yang baik itu menurut saya tidaklah mudah. Karena siap ataupun tidak siap waktunya ketika Tuhan memanggil untuk bertumbuh dan berkarya, sebagai benih saya harus mau berusaha untuk tumbuh dengan baik. Tuhan mungkin sudah memberi pupuk dengan sabda kasih-Nya yang tertulis didalam kitab suci. Lalu menyiraminya dengan air kehidupan dan merawat hidup saya dengan belas kasih-Nya yang berlimpah. Semua usaha yang telah saya atau anda lakukan untuk menjadi benih yang baik ini, percayakanlah hanya kepada Sang Pemberi Kehidupan. Biarkanlah Dia yang akan menyempurnakan semuanya. Karena Dia sangat baik.

Dua, serbuk kayu kecil dan halus yang masuk ke mata, membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas. Saya harus menahan rasa sakit dan membutuhkan waktu untuk bisa berusaha memulihkan sakit itu. Kemudian saya juga harus mencari-cari cara untuk bisa menyembuhkannya. Puji Tuhan, akhirnya serbuk kayu itu mau keluar juga dan saya disembuhkan dari rasa sakit itu.

Saya jadi teringat pada kalimat ini: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Matius 7:3)  Ketika mata saya terkena serbuk yang sangat kecil itu, mata saya sudah terasa sakit dan saya tidak bisa melihat dengan jelas. Apalagi kalau ada balok yang besar masuk didalam mata saya. Aduh… Balok itu pasti akan membutakan mata saya. Kebutaan ini pastinya membuat saya menjadi tidak bisa melihat kebaikan orang lain tetapi malah sebaliknya. Keadaan seperti ini sebaiknya harus segera disembuhkan. Kalimat ini juga ingin bertanya kepada saya… Bagaimana saya bisa melihat kesalahan dan ketidakbaikan orang lain? Apakah saya sudah bisa melihat kesalahan dan ketidakbaikkan diri saya sendiri?

Menurut saya, tidaklah mudah untuk bisa menyadari dan menyembuhkan kebutaan itu. Karena kebutaan itu mungkin saja berasal dari hati yang tidak sengaja telah terluka atau tersakiti. Sehingga anda atau saya tidak bisa menemukan serta melihat kembali kebaikan orang itu. Hati yang terluka ini harus segera diobati. Jangan dibiarkan berlama-lama terluka dan berlarut-larut. Berdoalah dan mohonkanlah belas kasih Tuhan agar segera dipulihkan. Dengan mau belajar mengampuni dan menerima keadaan yang telah terjadi. Mudah-mudahan hati yang terluka itu bisa terobati dan mata kebaikan itu bisa terbuka kembali. Karena Dia sangat baik dan akan menyempurnakan semua doa dan permohonan yang telah saya atau anda panjatkan.

Ingatlah selalu bahwa anda atau saya adalah pribadi yang sangat dicintai Tuhan. Kasih setia-Nya selalu baik dan menyegarkan jiwa. Percayalah…

Eviantine Evi Susanto, Kontributor, Ibu Rumah Tangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here