St. Marie Ellen MacKillop (1842-1909): Biarawati Pertama dari Benua Australia

24
Paus Emeritus Benediktus XVI berdoa di depan gambar St Marie Ellen MacKillop pada Misa Beatifikasinya/www,CNA
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Ia menjadi biarawati pertama dari Benua Australia. Kehadirannya tak lepas dari kecintaannya kepada anak-anak miskin dan terlantar.

 DALAM usia 14 tahun, Alexander MacKillop, seorang remaja Scotlandia memutuskan masuk seminari di Roma. Selama menjalani pendidikan, ia seorang yang berbakat, telaten, dan memiliki hidup rohani yang baik. Hampir 15 tahun, Alexander mengalami jatuh bangun sebagai seorang calon imam.

Sayang panggilan ini harus terhenti saat hendak ditahbiskan diakon. Ia mengundurkan diri karena tidak diizinkan terlibat dalam ragam karya karitatif saat itu. Keputusan mengundurkan diri membuat banyak orang terheran-heran. Tidak ada yang berpikir frater pendiam ini begitu cepat melepaskan panggilannya. Secara akademis, Alexander tak diragukan. Ia juga seorang yang saleh dalam hidup rohani.

St. Marie Ellen MacKillop dan Pastor Julian Tenison Woods/www.CNA.org

Dari Roma, Alexander memutuskan bermigrasi ke Australia. Saat itu, Australia dianggap benua yang tengah berkembang makmur. Ia tiba di Sydney tahun 1838. Di sini, Alexander berkenalan dengan Flora MacDonald. Tiga bulan setelahnya, keduanya memutuskan menikah.

Setahun pernikahan, pada 15 Januari 1842, lahirlah Marie Ellen MacKillop, seorang wanita saleh yang kelak menjadi biarawati. Marie juga mendirikan Kongregasi Suster Santo Josef dari Hati Kudus. Kongregasi ini merupakan kongregasi biarawati pertama di Australia.

Sejuta Anak

Marie dibesarkan dalam sebuah rumah kecil di Fitzroy, Melbourne, Australia. Sebagai sulung dari delapan bersaudara, Marie paham betul bagaimana perjuangan Alexander dan Flora dalam membesarkan anak-anaknya. Sebagai pendatang, Alexander kerap menemui kesulitan dalam pekerjaan. Kegagalan demi kegagalan dialami Alexander saat memulai usahanya.

Untung ada Flora. Sang ibu yang tak lelah menguatkan suami dan anak-anaknya. “Allah menyediakan segalanya. Kita hanya butuh sedikit usaha,”pesan Flora kepada anak-anaknya. Keyakinan sang ibu menjadi bara yang menyulut semangat Marie untuk tak putus asa. Sebagai sulung, Marie menunjukkan tanggungjawabnya dengan bekerja apa saja bahkan menjadi pelayan toko.

Marie mengambil peran Alexander yang lebih banyak menggerutu daripada berusaha. Mantan frater ini lebih sering menyalahkan Tuhan atas nasib sial yang menimpah keluarganya. Ia kalah pada takdirnya sendiri hingga tutup usia.

Bila Marie sebagai tulung punggung keluarga, Flora bertindak sebagai peletak dasar hidup rohani. Flora setia mendampingi tumbuh kembang iman anak-anaknya. Hal ini terbukti dengan ketertarikan Marie untuk menjadi biarawati. Tidak saja itu, dua adiknya Donald menjadi seorang Imam Jesuit dan Lexi juga menjadi biarawati.

St Marie Ellen MacKillop/www.CNA.org

Panggilan khusus ini berawal saat kepindahan keluarga MacKillop ke Penola, Australia Selatan. Marie masih 18 tahun tetapi mendapat kepercayaan dari pamannya mengasuh anak-anak dari keluarga Cameron.

Tugas ini ia jalani dengan penuh tanggungjawab. Dalam perjalanan, Marie menyaksikan begitu banyak orang miskin yang tidak mendapatkan pendidikan. Ia lalu mengundang anak-anak malang itu untuk belajar bersama anak-anak Cameron. Keluarga tuan Cameron juga tidak keberatan mengizinkan rumahnya sebagai sekolah mini bagi Marie.

Dukungan tidak saja mengalir dari keluarga Cameron. Kepala paroki setempat, Pastor Julian Tenison Woods sangat senang dengan pelayanan ini. Diakui Pastor Tenison bahwa sejak kehadiran Marie, pendidikan anak usia dini di parokinya menjadi hidup. Ia sangat berharap pelayanan semacam ini terus ada.

Berkat bantuan Pastor Tenison, berdirilah sebuah asrama bagi anak-anak miskin. Asrama ini diberi nama Bay View House Seminary for Young Ladies, (sekarang dikenal dengan nama Bayview College). Tempat ini semacam rumah singgah bagi anak-anak miskin di Australia.

Kongregasi Tukang Kayu

Di asrama Bayview, Marie menyatakan diri sebagai seorang biarawati. Pada Hari Raya St Yosef, 19 maret 1866, Marie mengenakan baju hitam sederhana sebagai awal tekadnya sebagai biarawati. Pastor Tenison, kala itu, telah ditunjuk sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Adelaide sekaligus Direktur Pendidikan wilayah Australia Selatan.

Tanggal 21 November 1866, Marie dan Lexie, menanggalkan busana sekulir itu dan mengenakan baju postulan. Pastor Tenison membantu lagi menyusun regula untuk kongregasi baru ini. Ada empat poin regula itu yaitu kemiskinan, mengandalkan penyelenggaraan Ilahi, melepaskan diri dari harta duniawi, dan siap diutus kemanapun.

Suster Marie MacKillop secara resmi mengucapkan kaulnya pada 15 Agustus 1867 dengan mengambil nama Sr Maria dari Salib. Ia menjadi biarawati pertama sekaligus Superior Kongregasi St. Josef dari Hati Kudus. Kongregasi ini menjadi kongregasi pertama yang didirikan Sr Marie dan Pastor Tenison di benua Australia.

Dari 10 remaja puteri miskin yang mendaftarkan diri, kini anggotanya hampir 1000 biarawati dengan 106 biara, 12 lembaga sosial yang menaungi lebih dari 1000 anak miskin dan tedapat 200 sekolah. Dari rumah singgah di Penola, Sr Marie mendirikan susteran yang kelak menjadi rumah induk kongregasi di Grote Street, Adelaide, Australia.

Susteran Grote, para postulan mendapatkan aneka ketrampilan. Spiritualitas St Josef, tukang kayu, menjiwai semangat kemiskinan para suster. Mereka hadir menyapa anak-anak miskin dan kurang beruntung.

Sayap pelayanan Kongregasi St Josef juga dilebarkan ke wilayah keuskupan lain.  Tahun 1869, Uskup Brisbane, Australia, Mgr James Quinn (1819-1881) mengundang mereka berkarya di Queensland, Brisbane. Dua tahun di Brisbane, mereka mendapatkan 130 bibit panggilan.

Hukuman Ekskomunikasi

Di tengah perjalanan merawat panggilan para suster, sebuah rintangan menghadang langkah Sr Marie. Sejak Mgr James sakit-sakitan, terjadi kecemburuan di kalangan para imam. Beberapa klerus tidak menyukai Pastor Tenison. Mereka menganggap sang imam tidak handal dalam mengelola pendidikan.

Perselisihan ini berpuncak pada kritik terhadap corak hidup para suster. Para klerus menilai terlalu berlebihan para suster turun ke jalan-jalan untuk mengemis. Cara mereka melayani anak-anak miskin untuk memperkaya diri. Berita ini juga sampai ke telingah Uskup Agung Adelaide, Mgr Laurence Bonaventure Sheil OFM (1814-1872). Mgr Sheil kemudian membentuk komisi khusus untuk penyelidikan corak hidup para suster.

Kendati sudah menjelaskan gagasannya kepada Uskup, tetapi pejabat Gereja ini lebih mendengarkan imamnya. Hasilnya adalah hukuman ekskomunikasi pada Sr Marie bulan September 1871. Uskup Sheil beranggapan Sr Marie mendorong para suster untuk membangkang dan tidak taat kepada gembala keuskupan.

Situasi ini membuat sebagian besar sekolah dan komunitas pelayanan milik para suster ditutup. Sr Marie dilarang berhubungan dengan siapapun dalam Gereja. Kendati begitu, ada dua imam Jesuit yaitu Pastor Hinteroecker SJ dan Pastor Tappeiner SJ secara diam-diam melayani komunitas ini. Hampir 19 minggu, Sr Marie mendapat hukuman ekskomunikasi sampai detik-detik terakhir kematian Mgr Sheil baru hukuman ini dicabut.

Atas segala peristiwa ini, Sr Marie berusaha mendapatkan persetujuan resmi dari Tahta Suci. Pada Maret 1873, ia tiba di Roma dan bertemu Paus Pius IX. Lewat Uskup Roma ini, karya komunitas biarawati ini diizinkan berlanjut.

Pada Desember 1874, ia tiba di Australia bersama 15 postulan dari Irlandia. Di tahun yang sama, keluar regula bahwa Kongregasi Suster St.Josepf  harus memiliki Superior Jenderal dan dewannya sendiri serta tidak berada dibawah otoritas keuskupan setempat.

Sejak regula ini keluar, terjadi pro dan kotra. Beberapa Uskup juga menolak regula ini. Uskup Queenland Mgr James dan Uskup Bathrust Mgr Mattew Quinn menghendaki agar komunitas ini tetap di bawah keuskupan. Akibatnya para suster dilarang berkarya di keuskupan mereka. Uskup Agung Adelaide (pengganti Mgr Sheil) Mgr Christopher Augustine Reynolds juga melayangkan surat pengusiran terhadap Suster St Josef.

Para suster kemudian pindah dari Keuskupan Agung Adelaide menuju Sydney dan disambut baik oleh Uskup Agung Sydney Mgr Roger William Bede Vaughan OSB (1834-1883). Karya mereka terus berlanjut hingga keluar keputusan Tahta Suci tahun 1887 yang memerintahkan agar dihapuskannya dekrit dari Dewan Uskup Australia. Selanjutnya pada 14 Juli 1888 Paus Leo XIII memaklumkan Kongregasi St Josef sebagai Kongregasi Kanonik dengan pusat misi di Sydney.

Sr Marie mempersembahkan seluruh hidupnya melayani orang miskin. Selama lima periode, ia terpilih sebagai Superior Jenderal. Sayang pelayanannya terhenti karena penyakit stroke  yang menderanya. Sebagian tubuhnya lumpuh dan harus dirawat di kursi roda. Pada Agustus 1909, Sr Marie tutup usia.

Tanggal 19 Januari 1995 Sr Marie dari salib dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 2010, Paus Benediktus XVI memaklumkan kanonisasi  kepada Beata Maria dari salib.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here