Orang Tua Takut Anak Menderita Hikikomori

81
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COMSALAM kenal Romo Erwin. Anak lelaki pertama kami kuliah di Jepang. Tahun ini berlibur di rumah. Selama masa libur ada perilakunya yang aneh. Dia selalu menjauhkan diri dari lingkungan sosial dengan mengurung diri di kamar. Makan-minum, atau semuanya lebih banyak di kamar. Jarang berkumpul dengan kami. Sangat berbeda dengan anak yang kami kenal dulu: suka bersosialisasi dan humoris. Saya takut fenomena Hikikomori di Jepang dialami anak kami. Dimana orang merasa tidak perlu lagi berhubungan langsung dengan orang lain. Saya merasa takut jangan-jangan ini berpengaruh pada iman karena sudah jarang ke gereja di masa pandemi. Takutnya pola hidup beragama anak kami menjadi eksklusif, iman tak punya sumbangsih apapun untuk mengubah hidup anak kami yang saat ini sudah 25 tahun. Mohon bantuannya Romo. Terima kasih.

Widjaya, Jakarta

Salam kenal juga Pak Widjaja. Semoga seluruh keluarga baik baik dan dalam keadaan sehat. Saya ikut prihatin dengan pengalaman anak Anda yang saat ini mengalami masalah sosial dengan keluarga dan dengan lingkungannya. Semoga melalui inspirasi ini Anda sekeluarga memperoleh pencerahan bagaimana membuat seluruh keluarga dan anak Anda menjadi normal kembali.

Yang penting untuk kita ketahui, Hikikomori adalah suatu penyakit yang diberi nama oleh warga Jepang untuk mereka yang mengalami gangguan hidup sosial. Istilahnya, “acute social withdrawal” atau menjauh dari hidup sosial secara berlebihan. Orang-orang ini termasuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Fenomena ini diberi nama sekitar tahun 1980-1990 an oleh Tamaki Saito, seorang psikiater Jepang.

Hikikomori mempunyai kemiripan, meskipun tidak sama persis, dengan gejala social disorder yang takut pada pertemuan dengan orang lain, takut berbicara dengan orang lain, takut menjalin relasi dengan orang lain, takut memandang mata orang lain, tidak mau menggunakan toilet umum, mendatangi orang lain, takut pergi ke sekolah atau bekerja, atau sekedar memulai perbincangan.

Kemungkinan dari orang-orang yang mengalami keinginan untuk mengisolasi diri disebabkan oleh kritikan atau penilaian negatif dari orang lain; atau dipermalukan dan dihina di hadapan banyak orang, atau memang suatu saat pernah mengalami dijadikan pusat perhatian karena hal yang dianggap aneh.

Mereka bisa mengalami detak jantung yang cepat, tegang otot, pusing, masalah perut, sulit bernafas, atau sensasi seperti keluar dari dirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan individu memilih untuk sendiri dan mengisolasi diri, karena takut mengalami hal-hal itu. Untuk itu sangat diperlukan ruang pertemuan dengan orang-orang yang dekat agar ia mengalami perasaan diterima dan didukung.

Dari pengertian itu, kita tidak boleh berpikir bahwa Hikikomori ini semacam penyakit menular yang dibawa dari Jepang dan menular kepada putera Anda. Orang Jepang hanya memberi nama fenomena isolasi diri ini dengan istilah itu.

Cobalah diingat kembali apakah sebelumnya anak Anda tidak pernah memberi kesan seorang yang mau menyendiri? Apakah sebelum berangkat atau di sekitar masa kuliahnya dia adalah seorang yang ceria dan suka bergaul?

Seorang dengan keinginan menyendiri biasanya mengalami masalah psikologis yang hanya orang itu yang tahu. Tetapi seluruh keluarga dapat melihat dan merasakan apa yang (kira kira) terjadi pada anggota keluarga. Bertanya, berkomunikasi dengan lembut, tidak dibebani dengan pertanyaan yang sulit, tidak dihakimi, mungkin menjadi jalan masuk untuk menjadikannya nyaman dan mau keluar dari isolasi dirinya.

Selain itu, diajak berdoa, meskipun sulit, singkat saja dan membuatnya kembali ingin berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu punya cara hebat untuk menyembuhkan, tetapi keterlibatan kita sangat penting dan diperlukan agar berkat itu sampai kepada putera Anda. Semoga membantu. Tuhan memberkati.

Silakan kirim pertanyaan Anda ke : [email protected] atau WhatsApp 0813.8757.2077. Kami menjamin kerahasiaan identitas Anda.

Pastor Alexander Erwin Santoso, MSF
Ketua Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here