Pastor Eko Reyaan: Duc In Altum, Kisah Sang Nahkoda “Kapal Misi”

51
Pastor Eko Reyaan, Wakil Uskup Wilayah Kei Kecil dan Kota Tual/Dok. pribadi
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – GARIS wajahnya keras. Badan kuat dan otot-otot terlihat jelas di tubuhnya. Sering tersengat matahari laut. Tak banyak bicara. Hanya sesekali, jika memang sangat dibutuhkan. Ada senyum simpul yang senantiasa menghiasi wajahnya. Yah, dialah Sang Nahkoda Kapal “Pelita” puluhan tahun lalu. Kapal ini milik biarawati Suster PBHK yang berkarya di RS Katlarat, Elat, Maluku Tenggara. Mereka umumnya berasal dari Negeri Belanda. Banyak orang menyebut kapal ini sebagai Kapal Misi. Memang demikian adanya. Kapal ini digunakan untuk misi pelayanan para suster kepada orang-orang sakit di Kepulauan Kei. Sudah biasa berkeliling ke Kei Besar, juga Kei Kecil. Dari kampung yang satu ke kampung lainnya tanpa lelah.

Tapi sebenarnya, banyak yang tak tahu jika di balik kemudi Kapal Pelita itu, ada seorang pria kuat yang bergulat dengan ombak setiap datang “musim barat”. Dia Nahkoda. Om Kris Ngutra. Banyak yang menyapanya dengan panggilan “Om Kris”. Baginya tiada kata takut. Jika suster mesti berangkat, yah dia pun patuh. Puluhan tahun ia geluti rutinitasnya. Tetap setia. Sederhana dan apa adanya. Tapi jangan tanya soal kerjanya. Ia kerja bagai Santo Yosep, yang tukang kayu. Banyak diam namun teladan dalam kesetiaan. Puluhan tahun melintasi kerasnya ombak antara Kei Besar dan Kei Kecil, ia terus melaju. Duc in Altum, sesuai perintah Yesus, “bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan (Luk 5:4)”.  Bagai Petrus, Sang Murid Yesus, ia terus menekuni kerjanya di laut. Kadang putus asa dan capai, tapi semua terbayar lunas ketika hadir salah satu putranya, menemaninya di kapal kala waktu senggang tiba.

Yah, si putra kecil nan lincah itu. Sepulang dari sekolahnya di SMP Savio Katlarat, ia selalu menyempatkan diri mampir ke pelabuhan kecil yang tak jauh dari sana. Sembari kerja, sang anak menemani.  Kadang bermain di bibir pantai, kadang juga ia meloncat indah dari atas kapal di laut. Ia datang hanya untuk berteduh sebelum kembali ke kampungnya. Sang ayah hanya melugu sembari menikmati ramainya suasana ini. Di suatu waktu, termakan usia lanjut, sang Nahkoda kembali ke rumah. Ia pensiun. Waktu-waktu hebat di laut seakan tuntas sudah dijalani. Sering ia ingat kisah-kisah perjalanan yang indah, menantang maut di tengah ombak yang menggulung kapal kecil ini. Namun, iman yang kuat telah menghantarnya untuk melewati segalanya itu. Banyak kali ia terdiam bangga.

Beberapa tahun sesudahnya, sang anak nakhoda itu memutuskan untuk menjajaki jalan hidupnya. Kata orang, panggilan menjadi seorang imam. Tak kuasa melarang, Sang Nahkoda dan istrinya merelakan kepergian anaknya. Ia pergi bagai air sungai yang mengalir jauh ikut panggilanNya. Dan kerelaan hati, ketulusan, kesederhanaan itu berbuah limpah tatkala jalanNya telah menuntun sang anak untuk meraihnya. Meski sang Nahkoda tak sempat menikmati masa-masa indah ini, namun dalam diam selamanya di pangkuan Sang Khalik, ia pasti tersenyum indah. Sang Anak menjadi seorang Imam.

Ini kisah sang Anak yang menekuni jalanNya. Tak mudah jua! Ada kerasnya ombak di tengah teduhnya lautan hidup. Sering ombak kehidupan menggulungnya, meski tak pernah dapat menenggelamnya. Ia tetap kuat dan tegar, sekuat dan setegar ayahnya. Mungkin tak disadari bahwa jiwa petualang ayah di laut bebas telah menoreh kuat di batinnya. Berjuang tiada henti, tak boleh patah arang. Dan, kisahnya bagai mengulang kisah Sang Nakhoda tua itu. Jika dulu ayahnya hanya di sebuah kapal kecil bercat putih, kini putranya di sebuah kapal bercat putih yang besar dan luas. Kala dulu sang ayah manantang ganasnya laut di pulau-pulau Kei, sang Anak menerabas laut seluas samudra dalam dan ganas. Tapi seperti pelaut pada umumnya, ganasnya laut ada waktunya. Teduh, diam, indah pandang cakrawala selalu jadi hadiah terindah yang hadir sesudahnya.

Duc in Altum kembali merajut hati sang Nahkoda Kapal Umat Katolik di Propinsi Seribu Pulau itu. Ia terpilih dari sahabat-sahabatnya untuk menjadi yang terdepan dibalik kemudi Kapal Keuskupan Amboina. Ia terpilih sebagai Uskup. Kini ia menjadi Nahkoda “Kapal Misi Baru”: Kapal misi yang tak lagi fisik dan bendawi, tapi kapal misi rohani bagi bagi ribuan umat yang mendamba datangnya sang Khalik kehidupan ke tengah-tengah mereka.

Selamat berkarya dan sukses dalam pelayananmu, Mgr Inno “Duc in Altum”. Jiwa nahkoda yang diturunkan ayahmu telah mengokohkan langkahmu menjadi Nahkoda Umat Katolik Keuskupan Amboina.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here