Komitmen Caritas terhadap Pengungsi Ukraina di Moldova

27
Kamp tenda didirikan pada awal perang di Ukraina di sepanjang perbatasan Ukraina-Moldova di Palanca, tenggara Moldova.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Pater Petru Ciobanu, direktur Caritas Moldova menyoroti pekerjaan Caritas di antara para pengungsi Ukraina di Moldova di tengah kekuatiran baru-baru ini akan penyebaran perang di Ukraina ke Transnistria.

Ketika perang di Ukraina berlanjut, serangkaian ledakan yang tidak dapat dijelaskan di beberapa bagian Transnistria, wilayah memisahkan diri yang didukung Rusia di Moldova yang berbatasan dengan Ukraina, telah memicu kekuatiran bahwa pertempuran dapat menyebar.

Pejabat Transnistria mengatakan bahwa dalam dua hari terakhir, ledakan telah menargetkan markas keamanan negara mereka di Tiraspol, tiang radio era Soviet tua dan unit militer di Parcani, sebuah desa di luar Tiraspol.

Meski tidak ada korban yang dilaporkan dalam ledakan itu, tindakan keamanan yang ditingkatkan sekarang diberlakukan di wilayah yang memisahkan diri dari Moldova sekitar 30 tahun lalu setelah perang singkat.

Meningkatnya kekuatiran

Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, Rabu (27/4), menggambarkan situasi di Moldova sebagai “sangat kritis” meski tidak jelas siapa yang berada di balik serangan di Transnistria.

Nicu Popescu, Menteri Luar Negeri Moldova, mengatakan peristiwa itu adalah “kerusakan situasi keamanan yang berbahaya.”

Menanggapi laporan tersebut dalam sebuah wawancara dengan kantor berita SIR, Uskup Anton Cosa dari Chişinău mencatat bahwa karena negara itu kecil, cukup lemah dan terbagi, ketakutannya bukanlah tentang perang yang mungkin datang dari luar, melainkan bahwa “krisis dapat menimbulkan situasi konfrontasi antara kelompok pro-Rusia dan pro-Ukraina”.

Ia mengungkapkan keinginannya agar negara tersebut dapat tetap setia pada panggilannya sebagai negara Kristen dan dapat terus bekerja untuk membangun perdamaian.

Pengungsi di Moldova

Sementara itu, bagi lebih dari 11 juta orang yang terlantar sejak dimulainya perang di Ukraina pada bulan Februari, Moldova telah menjadi perhentian yang ramah selama perjalanan mereka yang sulit.

Menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), diperkirakan 421.130 pengungsi melarikan diri ke Moldova sejak antara 24 Februari ketika perang dimulai dan 15 April. Dari jumlah itu, 101.331 telah membuat keputusan untuk tinggal di negara itu.

Selain itu, tambahan 8.000 pengungsi juga telah memilih untuk tinggal di wilayah separatis Transnistria.

Di tengah krisis pengungsi besar yang disebabkan oleh perang, Moldova, negara berpenduduk 2,59 juta orang, memiliki arus masuk pengungsi terbesar dari semua negara penerima pengungsi.

Caritas Melayani Orang yang Membutuhkan

Sejak awal pertempuran, Gereja telah secara aktif hadir dalam upaya kemanusiaan untuk menanggapi kebutuhan para pengungsi Ukraina yang melarikan diri dari negara mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan Vatican News, Pater Petru Ciobanu, direktur Caritas Chişinău menyoroti pekerjaan organisasi amal di negara itu di tengah krisis pengungsi.
“Semua organisasi amal kami,” kata imam itu, “masih menawarkan perlindungan, makanan panas, bantuan psikologis dan spiritual. Kami juga telah membantu mereka menemukan transportasi yang aman.”

Dia menjelaskan bahwa kekuatiran yang berkembang di Moldova karena perang di Ukraina telah menyebabkan “ketakutan dan ketidakamanan di antara orang-orang di negara itu.” Sebuah ketakutan yang dapat dimengerti, tambahnya, mengingat apa yang telah terjadi di Odessa dengan pengeboman warga sipil dan di Tiraspol.

Terlepas dari peristiwa-peristiwa ini, Pater Ciobanu berharap keadaan akan berubah dan perang tidak akan menyedot populasi Transnistria, sehingga membahayakan mereka.
“Sebagai seorang imam,” katanya, “Saya dapat mengatakan bahwa kita berdoa agar kehidupan segera kembali normal.”

Pastor Frans de Sales, SCJ; Sumber: Vatican News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here