Gereja Inggris Minta Maaf atas Undang-Undang Anti-Yahudi, 800 Tahun Kemudian

80
Uskup Agung Justin Welby dari Canterbury
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sebuah kebaktian khusus untuk menandai ulang tahun kedelapan dari Sinode Oxford bertujuan untuk mendorong orang-orang Kristen untuk menolak bentuk-bentuk kontemporer anti-Yudaisme dan antisemitisme.

Gereja Inggris (Anglikan) telah mengeluarkan permintaan maaf kepada komunitas Yahudi atas undang-undang yang disahkan 800 tahun lalu yang membuka jalan bagi pengusiran orang Yahudi dari Inggris selama ratusan tahun.

Sebuah kebaktian khusus yang diadakan Minggu (8/5/2022) di Katedral Gereja Kristus di Oxford untuk peringatan seratus tahun Sinode Oxford menyaksikan kehadiran pejabat tinggi sipil dan pemimpin agama, termasuk Kepala Rabi Inggris, Ephraim Mirvis dan perwakilan dari Uskup Agung Canterbury, Justin Welby.

Hukum Anti-Yahudi

Sinode Oxford tahun 1222 mengesahkan undang-undang yang melarang interaksi sosial antara orang Yahudi dan Kristen, memberikan persepuluhan khusus pada orang Yahudi dan mengharuskan mereka mengenakan lencana pengenal. Orang-orang Yahudi juga dilarang dari beberapa profesi dan membangun sinagoga baru.

Pembatasan lain yang lebih keras terhadap orang Yahudi terjadi selama bertahun-tahun yang akhirnya menyebabkan pengusiran massal sekitar 3.000 orang Yahudi pada saat itu, dengan dekrit pada tahun 1290 oleh Raja Edward I.

Lebih dari 360 tahun berlalu sebelum orang Yahudi diterima kembali ke Inggris oleh Oliver Cromwell pada tahun 1656.

Kesempatan Bertobat 

Meski Gereja Inggris baru dibentuk pada tahun 1530-an ketika Henry VIII berpisah dari Paus, para pemimpin Gereja Inggris telah menekankan pentingnya permintaan maaf.
“Kebaktian hari ini adalah kesempatan untuk mengingat, bertobat, dan membangun kembali,” kata Uskup Agung Welby dalam tweetnya, Minggu. “Mari kita berdoa demi mengilhami orang Kristen hari ini untuk menolak bentuk kontemporer anti-Yudaisme dan antisemitisme dan untuk menghargai dan menerima hadiah dari tetangga Yahudi kita.”

Dalam pernyataan lain bulan lalu menjelang acara tersebut, Keuskupan Oxford mencatat bahwa niatnya “adalah agar peringatan ini menjadi sinyal kuat dari potensi yang begitu kaya, tercermin dalam kedalaman perjumpaan dan pelayanan antaragama yang semakin eksis di Oxford dan di seluruh negara dan masyarakat kita.”

Jonathan Chaffey, Diakon Agung Oxford, mengatakan bahwa waktunya telah tiba bagi orang Kristen untuk bertobat dari “tindakan memalukan” mereka dan “membingkai ulang secara positif” hubungan mereka dengan komunitas Yahudi. Dia juga mencatat bahwa Gereja Katolik sesuai dengan permintaan maaf tersebut.

Kebaktian khusus Minggu mengikuti langkah-langkah lain untuk menumbuhkan niat baik dengan komunitas Yahudi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, sebuah dokumen oleh Gereja Inggris berjudul “Firman Tuhan yang Tidak Pernah Gagal” menyoroti pentingnya hubungan Kristen-Yahudi dan mendesak orang Kristen untuk secara aktif menentang antisemitisme. **

Pastor Frans de Sales, SCJ; Sumber: Benedict Mayaki SJ (Vatican News)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here