Paus Serukan Warga Sri Lanka Tidak Lakukan Kekerasan di Tengah Kerusuhan Sosial

30
Sebuah bus polisi terbakar setelah protes di Kolombo.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Paus Fransiskus mengimbau masyarakat Sri Lanka untuk membuat suara mereka didengar dengan cara yang damai dan bagi para pemimpin politik untuk mengindahkan tuntutan mereka, ketika protes berubah menjadi kekerasan yang menewaskan beberapa orang.

Protes yang sebagian besar damai di Sri Lanka telah berubah menjadi kekerasan minggu ini, yang menyebabkan kematian delapan orang dan pengunduran diri Perdana Menteri.
Di tengah kerusuhan sosial, Paus Fransiskus mengalihkan pikirannya ke negara Asia Selatan saat berbicara pada Audiensi Umum hari Rabu (11/5/2022).

Paus mengatakan dia mengirimkan salamnya terutama kepada “orang-orang muda yang belakangan ini membuat teriakan mereka didengar dalam menghadapi tantangan dan masalah sosial dan ekonomi negara.”

“Saya bergabung dengan otoritas agama dalam mendesak semua pihak untuk menjaga sikap damai, tanpa menyerah pada kekerasan.”

Paus Fransiskus juga meminta para pemimpin politik yang berkuasa di Sri Lanka untuk mengindahkan suara para pengunjuk rasa.

“Saya mengimbau semua orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan aspirasi rakyat dan memastikan penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil.”

Titik Didih Politik

Krisis ekonomi yang terjadi selama beberapa bulan di Sri Lanka memuncak pada Senin (9/5/2022).

Para pengunjuk rasa telah berdemonstrasi menentang kelas penguasa dengan cara yang sebagian besar damai, menuntut pengunduran diri saudara-saudara Rajapaksa, yang menjabat sebagai presiden dan perdana menteri.

Kesabaran mereka habis pada Senin setelah pendukung pemerintah menyerang kelompok anti-pemerintah di Kolombo, membakar perkemahan protes mereka.

Bentrokan kekerasan pecah, menyebabkan delapan orang tewas dan lebih dari 200 terluka. Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa mengajukan pengunduran dirinya dalam beberapa jam setelah kekerasan. Presiden Gotabaya Rajapaksa sejauh ini menolak untuk mundur.

Bencana Ekonomi

Ekonomi Sri Lanka telah berada di bawah tekanan berat sejak pecahnya pandemi Covid-19 mengerem ekonominya yang bergantung pada pariwisata.

Negara ini telah menghabiskan cadangan mata uang asingnya hingga hanya sekitar US $50 juta, sehingga tidak mampu membayar impor.

Sri Lanka, yang populasinya sekitar 22 juta, menghadapi kekurangan besar-besaran makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan barang-barang penting lainnya, banyak di antaranya diimpor dari luar negeri. Warga terpaksa bertahan hingga 13 jam padam listrik sehari.

Pemerintah telah beralih ke Dana Moneter Internasional (IMF) untuk paket penyelamatan, serta ke India dan China.

Kemarahan para pengunjuk rasa terfokus pada menyalahkan keluarga Rajapaksa atas kesengsaraan ekonomi mereka.

Pasukan keamanan telah menanggapi kekerasan dengan meriam air dan gas air mata, dan kementerian pertahanan telah memerintahkan polisi untuk menembak siapa pun yang tertangkap merusak properti publik atau mengancam nyawa.

Pastor Frans de Sales, SCJ; Sumber: Devin Watkins (Vatican News)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here