Ketua Umum Pukatnas 2022-2025, Julius Yunus Tedja: Melayani di Tengah Kesibukan

44
Julius Yunus Tedja (Foto: Dok HIDUP)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Dengan moto “Terus Mendayung”, ia ingin menjadikan kemunitas kategorial profesional dan usawahan menjadi komunitas yang menampakkan warta kasih Tuhan.

AKRAB dipanggil Julius, sejak awal penjaringan, namanya masuk dalam nominasi bursa Ketua Umum Profesional dan Usahawan Katolik Nasional (Pukatnas) periode 2022-2225. Akhirnya ia terpilih dan dilantik bersama dengan jajaran pengurus Pukatnas di Kapel Seminari Menengah Santo Petrus Claver, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 30/5/2022. Pelantikan berlangsung pada Misa Penutupan Konvensi Nasional (Konvenas) Pukatnas di Makassar, 28-29 Mei 2022. Acara tiga tahunan ini dihadiri Pukat Keuskupan.

Beberapa saat setelah ditetapkan menjadi Ketua Umum Terpilih, Julius menerima HIDUP untuk wawancara. Berikut petikannya:

Julius Yunus Tedja (paling kiri) menerima dokumen pada Sidang Pleno Konvensi Nasional IV PUKAT di Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: Dok HIDUP)

Apa yang Anda impikan ke depan setelah terpilih memimpin Pukatnas 2022-2025?

Dengan pengalaman tiga tahun terakhir sebagai salah satu pengurus Pukatnas dan sebelumnya Pukat Keuskupan, saya melihat beberapa tantangan yang cukup besar yang harus kita laksanakan bersama teman-teman di pengurus Pukat. Saya melihat potensi-potensi Pukat yang sebenarnya begitu besar dan harus memberikan peluang kepada teman-teman Pukat Keuskupan untuk melakukan hal yang sama. Sehingga manfaat atau kehadiran Pukat benar-benar dirasakan oleh pihak hierarki, umat Katolik sendiri, bahkan oleh masyarakat luas. Bahwa keberadaan Pukat memang nyata dan baik untuk sesama (inklusif).

Berdasarkan pengalaman Anda selama ini di Pukatnas maupun Pukat Keuskupan, pada titik mana sebetulnya Pukat bisa berperan?

Di dalam lembaga Gereja, Pukat adalah salah satu kelompok kategorial yang sangat berbeda dengan kategorial lain. Visi dan misi Pukat memang menghadirkan profesional dan pengusaha di dalam Gereja untuk mewartakan kasih Kristus melalui karya-karya yang tidak dilakuan oleh komunitas kategorial lain. Pengertian profesional sebenarnya tidak diukur dari segi kemampuan sosial intelektualnya. Walaupun dia memiliki suatu profesi yang dianggap biasa-biasa tetapi kalau dia bisa melakukan dengan baik dan bertanggung jawab serta berkualitas, saya rasa itu yang disebut sebagai profesional. Bukan soal gelar, walau itu juga perlu. Tapi kalau dia melayani dengan baik, menjual barang dengan baik misalnya, dia masuk kategori profesional.

Orang-orang yang masuk kelompok usahawan mau dibawa ke mana?

Saya melihat potensi Gereja Katolik di kalangan pengusaha, tidak sedikit, jumlah cukup banyak. Tapi mungkin belum banyak yang memiliki kesempatan atau belum mengetahui bahwa panggilan kita sebagai murid Kristus bisa juga dilakukan oleh pengusaha dalam mewartakan kasih Kristus mendukung pelayanan Gereja kepada masyarakat pada umumnya.

Apa yang menjadi “beban” para pengusaha Katolik?

Kita mencoba merangkul para para pengusaha dengan mengajak, membuat kegiatan untuk mendukung spiritualitas para pengusaha sehingga sentuhan spiritual itu menguatkan iman mereka agar ada sesuatu perubahan. Mereka tidak hanya memikirkan dirinya, keluarganya, keuntungan usahanya tapi bisa berbagi dengan cara meluangkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk orang lain yang membutuhkan. Perlu kita tanamkan bahwa dalam hidup ini kita harus berbagi.

Apa yang akan dilakukan untuk penguatan spiritualitas para profesinonal dan usahawan ke depan?

Sebenarnya kami sudah pernah lakukan Vocation of Business Leader dua kali di Bandung, Pukat Business Camp di Surabaya, terakhir Orientasi Kepemimpinan di Makassar. Ini diperuntukkan bagi mereka untuk mengikuti dan mendapatkan sesuau berupa sharing iman, pembelajaran bahwa seorang pengusaha dan profesional itu hadir di Gereja dengan membawakan kasih Kristus. Kegiatan-kegiatan seperti itu akan kami perbanyak ke depan.

Julius Yunus Tedja saat memberikan sambutan pada Konvenas. (Foto: Dok HIDUP)

Apa yang akan Anda lakukan untuk merangkul pengusaha yang belum masuk dalam Pukat?

Tentunya para pengurus Pukat se-Indonesia harus memberikan contoh-contoh yang baik. Ketika hierarki sudah melihat bahwa Pukat bisa melakukan sesuatu, saya kira bapa uskup setempat pasti akan mendukung. Kalau terjadi kerja sama antara Pukat dan keuskupan, saya yakin pasti ada manfaatnya dan berdampak kepada umat. Dengan itu kami bisa mengajak orang lain dengan mudah. Kalau mereka tidak melihat apa yang dilakukan dan tidak paham, mungkin belum tentu percaya.

Bagaimana dengan pukaters muda?

Kami akan mencoba bekerja sama dengan mereka tentu dengan keahlian di bidang masing-masing. Kami akan merangkul dan berkolaborsi dengan mereka. Melalui mereka, kami akan merangkul lagi teman-teman mereka.

Pengalaman Anda di bisnis sudah amat panjang. Dua tahun terakhir ini ada pandemi. Bagaimana anda melihat peran pebisnis Pukat terutama dalam hal mengabdi kepada bangsa yang menghadapi tantangan berat?

Saya sendiri melihat dan banyak belajar bahwa ke depan peran media sosial sangat dominan, maka kami, pengurus, harus paham tentang hal itu. Menurut saya, kalau kita juga tidak cepat, kita akan ketinggalan. Presiden Jokowi sering bilang, negara yang cepat itu  yang akan maju. Para pengusaha Katolik juga tentunya harus masuk dalam dunia itu.

Dalam konteks ini, apa yang Anda harapkan dari Pukat Keuskupan?

Melalui Konvenas ini dan setelah mendengar arahan para uskup yang hadir dalam talk show, semoga para pukaters bisa mendapat suatu pengalaman dan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu. Karena saya juga mengingat, pengalaman di Pukat Keuskupan Agung Makasar (KAMS), ketika pernah terjadi kevakuman, saat saya dihubungi, setelah Temu Aktulisasi Spiritualitas, semangat saya dibangkitkan kembali. Saya kembali ke Makassar. Saya mengajak lagi teman-teman sehingga Pukat KAMS bertumbuh dan berkembang kembali seperti sekarang ini. Makanya perlu mengajak yang lain dan terus belajar. Karena saya selalu merasa kurang dalam hal pengetahuan. Saya pikir pembelajaran tidak boleh berhenti. Kerap saya merasa bahwa masih banyak yang belum saya tahu. Saya sangat senang belajar dari siapa saja. Dari orang yang bisasa-biasa saja kita bisa belajar dalam hal sikap, karakter dan lain sebagainya. Jangan pernah berhenti belajar.

Misa pembukaan Konvenas dipimpin oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku Ada’ bersama Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Uskup Denpasar Mgr.Silvester San, Uskup Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang, dan Uskup Tanjung Selor Mgr. Paulinus Yan Olla dan sejumlah imam yang hadir.

Kalau melihat perjalanan hidup Anda, Anda dekat dengan hierarki KAMS di tengah kesibukan sebagai pengusaha, dan tidak pernah menolak bila diberi kepercayaan oleh uskup misalnya …

Dulunya saya punya lebih banyak pengalaman di organisasi luar, namun pada suatu kesempatan merasa terpanggil dan tergerak. Baru saya rasakan ketika melayani di Gereja, nilainya tidak bisa dibandingan dengan hal lain. Di situ benar-benar saya merasakan kebahagiaan batin, ketenganan, kesabaran, bahkan sering saling mengampuni. Itu sering terjadi. Pada akhirnya ketenangan hati itu bisa kita dapatkan. Ada kedalaman iman dan merasakan tidak pernah ada kekurangan, tidak pernah kuatir, Tuhan betul-betul baik. Melayani di tengah kesibukan.  Kalau ada orang mengatakan, bahwa dia belum waktunya melayani, saya pikir hal itu tidak benar. Saya lihat banyak juga orang muda yang melayani. Menurut saya, sebaiknya kita tidak memberikan sisa-sisa waktu kita untuk Tuhan. Harus pernah mengalami kasih-Nya. Harus sadar bahwa kasih Tuhan itu tidak harus dalam bentuk materi. Kehidupan keluarga yang harmonis, kesehatan, punya banyak teman juga merupakan rahmat Tuhan.

F. Hasiholan Siagian (Makassar)

HIDUP, Edisi No. 23, Tahun ke-76, Minggu, 5 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here