Piala Dunia, Perayaan Solidaritas

47
Kebersamaan:Umat berkumpul di sebuah aula paroki di Brazil untuk menonton bersama perhelatan Piala Dunia 2014.
[dawn.com]
Rate this post

HIDUPKATOLIK.com – Stadion dibangun dan direnovasi. Jalan diperlebar. Meski dilanda protes, Brazil berjibaku menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk kedua kalinya. Gereja tetap konsisten pada pesan moralnya: menjunjung tinggi martabat manusia.

Ratusan orang berkumpul di aula salah satu paroki di Keuskupan Agung Belém, Pará. Mereka datang bukan untuk membahas pelayanan paroki, tapi nonton bareng (nobar) pertandingan sepak bola Brazil melawan Chile dalam partai 16 besar Piala Dunia 2014, di Estádio Mineirão, Belo Horisonte, Sabtu, 28/6.

Ketegangan nobar amat terasa kala laga berujung adu penalti. Hingga perpanjangan waktu 2 x 15 menit, kedua tim bermain imbang (1-1). Penonton menatap layar putih besar sembari memegangi patung Bunda Maria, Santo-Santa atau memilir biji tasbih. Pun terlihat sebagian merapal doa di hadapan patung Bunda Maria. Mereka berharap, Bunda Maria mengabulkan doa-doa mereka: Brazil menang atas Chile.

Aula berubah gaduh saat Seleção julukan untuk Brazil memenangkan drama adu penalti. Tak ada lagi yang berdoa. Mereka larut dalam luapan kegembiraan. Ternyata tak hanya penonton Brazil yang berharap akan bantuan Sang Bunda. Kiper Julius Cesar pun berserah pada Maria. Ia menggenggam rosario kecil saat akan menghadapi eksekusi terakhir. Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari tak segan menempelkan gambar St Maria de Caravaggio di baju Cesar. Usai laga, Cesar pun bersujud mensyukuri bantuan Bunda Maria dalam kemenangan timnya.

Praktek devosi pada Bunda Maria atau Brazil sudah mentradisi begitu kuat. Jika bertandang ke keluarga Katolik, hampir selalu ditemukan patung Maria atau Santo-santa dan Rosario di atas meja kecil khusus. Umat percaya, dalam kesulitan hidup, Bunda Maria akan senantiasa mendengarkan galau kesah mereka.

Figur Maria yang selalu terpatri dalam hati umat Brazil ialah kisah St Perawan Maria Aparecida. Alkisah tahun 1717, tiga nelayan sedang menjala ikan di perairan Sungai Paraiba. Kala itu, mereka butuh banyak ikan untuk menyambut dan merayakan kedatangan seorang tamu terhormat. Berjam-jam mereka melemparkan jaring. Naas tak bisa ditolak. Tak ada seekor ikan pun berhasil ditangkap. Ketika salah seorang nelayan kembali melemparkan jaring ke sungai untuk kesekian ratus kali, keping-keping patung St Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda tersangkut di jaring mereka. Mereka pun menyatukan dan membersihkan patung itu, lalu membungkusnya dengan kain.

Setelah itu, mereka kembali menebarkan jala sembari memohon perantaraan Bunda Maria agar mendapat tangkapan berlimpah. Saat ditarik, jala itu telah penuh dengan ikan. Hasil tangkapan pun amat memuaskan. Mereka pulang penuh sukacita karena kelimpahan berkat itu. Sejak saat itu, patung Bunda Maria ini dijuluki Nossa Senhora Aparecida, Bunda kita yang menampakkan diri.

St Maria Aparecida punya tempat istimewa di hati umat Katolik Brazil. Ia dijadikan pelindung Brazil. Tiap 12 Oktober, rakyat Brazil merayakan pestanya. Hari itu pun menjadi hari libur nasional. Banyak anak Brazil memakai nama ini: Aparecida untuk perempuan dan Aparecido untuk laki-laki. Nama itu biasanya dijajarkan dengan Maria atau Jose.

Semai Persaudaraan
Dalam perayaan World Youth Day 2013 di Brazil, Paus Fransiskus mengunjungi Basilika St Perawan Maria Aparecida yang terletak di sebuah bukit, sekitar 175 kilometer dari São Paulo, 24 Juli 2013. Di sana, Bapa Suci mengajak umat untuk mohon perantaraan dan bantuan St Maria Aparecida dalam usaha membangun generasi muda serta persaudaraan antarbangsa di dunia.

Ajakan doa Bapa Suci itu seolah membekas dalam hati umat Brazil. Seolah seruan Paus ini menemukan lahan persemaian dalam ajang Piala Dunia Brazil setahun kemudian, 13 Juni-13 Juli 2014. Dalam pesta sepak bola terbesar sejagat ini, seluruh peserta dan penikmat sepak bola diajak berjibaku membangun persaudaraan antarbangsa.

Tak heran, Bapa Suci yang juga penggemar sepak bola, menyampaikan pesan yang disiarkan televisi nasional Brazil. Ia mengingatkan, Piala Dunia ialah pesta olah raga yang bisa menjadi pesta solidaritas, kesetiakawanan, kesetiaan dan persahabatan antarmanusia untuk mewujudkan damai dan persaudaraan.

Dalam pesan video berbahasa Portugis itu, Paus mendulang tiga nilai luhur pertandingan sepak bola: berlatih, bermain sportif dan saling menghormati. Pertama, olah raga mengajarkan, orang harus berlatih untuk menang. Pun dalam meraih cita-cita. Jika ingin mencapai hasil yang diimpikan, orang harus berjuang keras. Kedua, semua anggota penting mengedepankan kebaikan bagi tim bukan melulu demi kepentingan diri sendiri. Kemenangan diperoleh dengan mengalahkan individualisme, egosentrisme, rasisme, intoleransi dan instrumentalisasi manusia. Kebajikan ini tak hanya berlaku dalam sepak bola, melainkan juga dalam hidup. Ketiga, rahasia menang di lapangan dan dalam kehidupan ialah belajar menghormati rekan satu tim dan lawan. Tak ada keberhasilan jika orang ingin menang sendiri dan merendahkan kawan serta lawan. Bapa Suci berdoa agar Piala Dunia XX ini berjalan aman dan saling menghormati.

Sementara Gereja Inggris merilis lima doa resmi Piala Dunia yang didaraskan di gereja-gereja. Selain bagi tim nasional Inggris, doa itu diintensikan bagi perhelatan Piala Dunia, Brazil sebagai tuan rumah, serta mereka yang tak peduli dengan pesta empat tahunan itu. Mgr Nick Baines, Uskup Leeds dan penulis doa itu meyakinkan, doa itu tidak otomatis mem bawa peruntungan bagi Inggris. Doa ini memuat harapan agar semua berjalan lancar, baik pemain maupun manager saat mereka menuai kekalahan. “Harapan saya, Piala Dunia diingat sebagai kegembiraan,” ungkap nya seperti dilansir The Guardian (16/6).

Hal senada disampaikan Xeique Abdul Ahmad, tokoh Islam di Salvador, Brazil. Ia berharap, Piala Dunia menjadi ajang perjumpaan aneka budaya serta damai antara Muslim dan non Muslim. Menurutnya, Islam adalah agama damai dan orang yang beriman hidup dalam damai.

Pro Kontra
Sepak bola bukan lagi sekadar joga bonito (permainan indah) dari para aktornya untuk menciptakan gol dan meraih kemenangan. Sepak bola juga tidak lagi sekadar pertandingan 2 x 45 menit (plus extra time dan adu penalti), tapi memberi pelajaran terhadap refleksi kemanusiaan, salah satunya multi kulturalisme. Demikian tulis R. Anung Handoko dalam pengantar bukunya “Sepak Bola Tanpa Batas” (Impulse dan Kanisius, Yogyakarta, 2008, hal.19). Sepak bola, lanjut Hanung, menjadi olah raga paling banyak menyedot perhatian publik. Bukan hanya para fans dari negara peserta, tapi juga para pendukung dari seantero dunia.

Pemandangan lautan manusia itu bisa disaksikan dalam Piala Dunia. Sejak awal digelar (Uruguay, 1930) hingga Brazil, sepak bola berhasil memobilisasi juta an manusia dari latar belakang beranekaragam: bangsa, bahasa, budaya, agama, ideologi, dll. Jumlah ini belum termasuk mereka yang setia mengikuti melalui media cetak dan elektronik.

Pasca 64 tahun silam (24 Juni-19 Juli 1950), Brazil kembali menjadi tuan rumah. Pemerintah setempat dan penyelenggara The Fédération Internationale de Football Association (FIFA) merehabilitasi dan membangun stadion megah, membenahi bandara dan memperluas akses jalan dan transportasi. Pro-kontra mewarnai persiapan hajatan di negara berpenduduk mayoritas Katolik ini.

Kubu pendukung Piala Dunia di Brazil bangga mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah. Acara ini tentu mendatangkan profit bagi negara melalui penjualan tiket, hak siar televisi, iklan/ sponsor, obyek wisata, penginapan, restoran, dll. Sedangkan kubu yang menolak menilai, pemerintah dan FIFA hanya menghamburkan miliaran dollar untuk stadion dan fasilitas penunjangnya. Sementara sarana layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, sanitasi dasar, transportasi dan keamanan di Brazil belum optimal. Bahkan kematian sembilan pekerja saat mengejar pembangunan stadion dan pengusiran kaum miskin di jalan, menambah litani protes.

Keprihatinan juga mengemuka dalam Konferensi Para Uskup Brazil. Pemerintah dan FIFA dinilai menempatkan Piala Dunia di atas berbagai kebutuhan dasar rakyat Brazil. “Di beberapa tempat seperti Brazilia dan Manaus, dibangun stadion besar. Padahal di kota itu, tak ada tim-tim sepak bola yang kuat. Bila acara ini selesai, apakah mereka akan menggunakannya?” ungkap Uskup Agung Maringá, Parana, Mgr Anuar Battisti, seperti dilansir Catholic Herald (12/6).

Selain itu, para uskup juga masygul. Piala Dunia justru meningkatkan masalah perdagangan manusia dan eksploitasi seksual. Konferensi Para Uskup Brazil akhirnya menerbitkan Surat Gembala “Bermain untuk Hidup”. Mereka mendesak pemerintah memerangi eksploitasi seksual dan perdagangan manusia, serta berharap ajang ini menanamkan nilai-nilai fundamental: kebersamaan dengan membuang semua prasangka buruk dan membangun persaudaraan yang menyatukan semua bangsa dan agama.

Kampanye Kesadaran
Konferensi Para Uskup Brazil menunjukkan, selama periode 2002-2012 terdapat 62.802 korban perbudakan di sana. Kini, jumlahnya melonjak hingga sekitar 866.000 anak berusia 7-14 tahun. Mereka menjadi korban perdagangan manusia, kerja paksa, kegiatan ilegal, peredaran narkotika dan pekerjaan yang membahayakan kesehatan anak. Bersama komunitas religius lain, para Uskup Brazil berkampanye memerangi penindasan dan sepak terjang mafia di sana. Lebih dari 30 ribu suster, sedikitnya delapan ribu imam dan sekitar 27 ribu biarawan mempropagandakan pesan moral ini.

Sr Manuela Rodriques, salah satu relawan mengungkapkan, kampanye dimulai sejak Maret dengan mengunjungi sekolah dan paroki. Di sana mereka berkumpul dan mendiskusikan cara menangani korban eksploitasi seksual. Seminggu menjelang pembukaan Piala Dunia, mereka menyebar flyer di terminal bus dan bandara, membantu para pengunjung menikmati 12 kota ajang pertandingan. “Dalam kesempatan ini, kami menawarkan tempat wisata menarik dan positif bagi wisatawan, seperti hotel dan atraksi wisata lain,” terang Sr Manuela.

Kampanye massif didongkrak melalui televisi dan radio nasional yang menjangkau ruang publik dan tempat rawan transaksi seksual. Sehari sebelum kick off, Konferensi Para Uskup Brazil bersama pelbagai organisasi agama dan kemasyarakatan membuat gerak jalan di ibukota. Acara ini ditujukan untuk mengingatkan serta membangkitkan kesadaran rakyat dan wisatawan tentang korban perdagangan manusia dan eksploitasi seksual.

Layanan Gereja
Sejarah mengisahkan, orang Brazil berasal dari Afrika, Eropa dan suku Indigene. Keanekaragaman ini membuat mereka terkenal dengan keramahannya. Sikap terbuka dan kesediaan untuk menerima satu sama lain. Piala Dunia 2014 berhasil memobilisasi 8 ribu wisatawan ke Brazil. Sebagai negara mayoritas Katolik dengan tradisi yang kental, Gereja Katolik Brazil memberikan layanan rohani: Misa, pengakuan dosa bagi para peserta Piala Dunia dan pendukung tim tiap negara.

Gereja Katolik menyambut para pencinta bola dengan program rohani di 12 kota lokasi pertandingan: Rio de Janeiro, São Paulo, Belo Horizonte, Porto Alegre, Brasília, Cuiabá, Curitiba, Fortaleza, Manaus, Natal, Recife dan Salvador. Di sana, digelar Misa dalam aneka bahasa, corak musik, teater rohani yang disertai propaganda gerakan menjunjung tinggi martabat manusia.

Gereja Katedral St Maria Tak Bernoda Manaus dan Gereja St Sebastian menyelenggarakan Misa dalam lima bahasa: Inggris, Italia, Perancis, Spanyol dan Portugis. Kepala Paroki Katedral Manaus, Pastor Charles Silva melibatkan juga para imam dari berbagai negara untuk memimpin Ekaristi yang berlangsung selama 50 menit.

Usai Misa, para tamu diundang mengunjungi Museum Katedral yang dipandu oleh para mahasiswa Universitas Norte. Selain itu, wisatawan diajak menyaksikan keindahan Amozonia, jatung dunia dengan sungai dan hutan yang kesohor.

Selain Misa dengan aneka bahasa, Gereja Katolik di Brazilia menggerakkan kaum muda untuk mengadakan malam doa bersama. Acara ini terinspirasikan dari WYD Rio de Janeiro 2013. Selama doa bersama, Katedral St Maria Aparecida tampak berhiaskan pijar lampu berwarna kuning, yakni warna khas dan identik dengan Brazil. Pijar kuning itu juga berpendar hingga lokasi Kristus Raja di Rio de Janeiro.

Mgr José Antônio Aparecido Tosi Marques, Uskup Agung Fortaleza, menyerukan agar umat terlibat aktif dalam mendampingi para turis sepak bola selama Piala Dunia. Harapannya, para wisatawan dijauhkan dari praktik komersialisasi seksual dan diarahkan menjadi promotor nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara bagi para peserta Piala Dunia dan pendukungnya yang beragama non Kristiani, seperti Aljazair yang mayoritas Islam, pihak hotel telah menyiapkan ruangan khusus untuk sholat. Mereka pun menarik minuman beralkohol di penginapan para pemain Muslim. Bahkan makanannya juga disiapkan di dapur tersendiri untuk menghindari makanan yang tergolong haram. Inilah cermin realisasi seruan Gereja sebagai bentuk penghargaan bagi sesama yang berbeda latar belakang.

Laporan: RP La Nike Joanes SX dari Brasil

HIDUP NO.28, 13 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here