Renungan Selasa, 27 Desember 2016 : Murid yang Mengenal

72

HIDUPKATOLIK.com - PW St Yohanes, Rasul dan Penginjil; 1 Yoh 1:1-4; Mzm 97; Yoh 20:2-8.

PADA awal kisah kebangkitan, Yohanes menulis, saat Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur, “hari masih gelap” (ay. 1). Inilah gambaran kegelapan spiritual (bdk. Yoh 1:5; 3:9; 8:12; 12:35, 46) yang dialami MM, sehingga ia tidak memahami makna “makam kosong”. Kegelapan ini baru terhapus setelah Yesus yang bangkit menyapanya dengan “menyebut namanya”, “Maria” (ay.16). Ini mengingatkan pada Yoh 10:3-4, “ia memanggil domba-dombanya menurut namanya… dan mereka mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya”.

Kisah “murid yang lain” berbeda. Dia bersama Petrus dipanggil oleh MM untuk menjadi saksi yang sah dari fakta “makam kosong”. “Murid yang lain” ini–sering disebut pula sebagai “murid yang dikasihi-Nya”–tampil dalam Injil Yohanes (lih. 13:23; 19:26-27; 20:2; 21:7. 20-23), semuanya terkait peristiwa-peristiwa penting dalam episode sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Posisi sebagai murid dikasihi ini membuat ia paling cepat percaya pada makna “makam kosong”, yaitu bahwa “Ia harus bangkit dari antara orang mati” (ay. 9), sebuah gema dari Mzm 16:10, “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan”.

Dari kisah MM maupun “murid yang lain”, iman akan kebangkitan adalah sebuah karunia dan rahmat dari Yang Ilahi. Inisiatornya adalah Allah. Di sinilah, “membuka hati” menjadi utama, bukan hanya terbatas untuk dan kepada Allah, tetapi juga untuk dan kepada sesama.

Henricus Witdarmono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here