Menebar Persaudaraan, Merajut Kebhinnekaan

224
Mgr Yohanes Harun Yuwono, Ketua Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI.
[Dok. HIDUP]

HIDUPKATOLIK.com – Tahun ini, bangsa Indonesia merayakan 72 tahun kemerdekaan. Kebhinnekaan Indonesia adalah rahmat yang mesti disyukuri, karena kita semua bersaudara.

Indonesia, negara yang ideal. Keanekaragaman adalah rahmat yang harus disyukuri. Melalui Sakramen Baptis, setiap umat Katolik dipanggil menjadi saksi Kristus yang senantiasa menebarkan persaudaraan sejati dan nilai-nilai kemanusiaan. Demikian disampaikan Ketua Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Yohanes Harun Yuwono saat ditemui wartawan HIDUP, Christophorus Marimin. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang muncul dalam benak Bapak Uskup saat pertama kali mendengar kata Indonesia?

Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat ideal. Ideal dalam arti, inilah wajah dunia yang dikehendaki Allah untuk kita hidupi dalam kebersamaan dengan keanekaragaman latar belakang, suku, etnis, dan budaya yang diberkati Allah. Saya kira, tidak ada negara selain Indonesia yang terdiri dari banyak penduduk yang beragam, tetapi tetap dalam satu kesatuan. Maka, kita mesti mensyukuri kemajemukan Indonesia ini.

Hal apa yang bisa menguatkan kemajemukan Indonesia?

Menguatkan kemajemukan Indonesia bisa dengan membangkitkan kenangan indah saat para pendiri bangsa ingin mendirikan negara ini. Hasil buah pemikiran mereka lahirlah Indonesia yang berdiri dari pelbagai keanekaragaman yang kita hidupi bersama dengan dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kenangan indah ini perlu dibangkitkan agar seluruh generasi menyadari bahwa kita sebagai warga negara memiliki kenangan indah yang harus dilestarikan karena itulah yang membentuk negara kita. Memang di sebagian tempat ada luka yang mendalam, tapi luka itu tak sebanding dengan keluhuran niat para pendiri bangsa ini.

Dan, seharusnya kita mampu mewarisi roh dari para pendiri bangsa yang begitu bangga dengan keanekaragaman yang kita miliki, baik dari segi budaya, suku, etnis, dan bahasa. Semua ini merupakan kekayaan yang sangat indah kalau kita pelihara bersama.

Hal lainnya, memang saat ini di sanasini banyak ketimpangan; ada suku tertentu yang lebih maju sementara beberapa saudara kita di pedalaman masih sangat tertinggal. Inilah pekerjaan kita bersama.

Lalu, apa yang harus kita dilakukan?

Kita yang mengaku sebagai anak negeri ini harus saling bahu-membahu, bergotong-royong membangun Indonesia, seperti yang dilakukan nenek moyang kita. Mereka bergotong-royong membangun Indonesia, meskipun dalam kemajemukan. Tak perlu menonjolkan suku atau golongan atau agama tertentu. Seluruh keanekaragaman ini dapat kita satukan untuk membangun, memajukan, dan menyejahterakan Indonesia.

Pesan Kitab Suci sangatlah jelas. Kita harus mencintai siapa pun satu sama lain dengan latar belakang apapun. Kita itu bersaudara. Maka, mari kita bersama dengan semua orang mengusahakan persaudaraan yang sejati. Saya kira, itulah terjemahan dari “kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri”.

Sebagai warga negara dan umat Katolik, kita juga mendapatkan tugas untuk evangelisasi. Karena, ini merupakan tugas setiap orang yang telah dibaptis, yakni mewartakan keselamatan; menyampaikan kabar baik dan menebarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Evangelisasi bukan pertama-tama menarik orang agar menjadi Katolik, tetapi mau menunjukkan bahwa kita, Gereja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari setiap orang yang memiliki budaya serta keyakinan yang berbeda-beda di Indonesia ini. Evangelisasi, lebih pada melakukan perbuatan baik kepada setiap orang. Diharap melalui itu, terjalin dialog kehidupan; menjadi saudara dan saudari bagi orang lain serta menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selain itu, sebagai warga negara Indonesia, kita seharusnya memberikan diri demi keindonesiaan yang bermartabat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here