Kelompok Kolintang Of Vitra : Melatih Kekompakan Lewat Kolintang

116
Kompak: Anggota Kolintang Of Vitra saat latihan bersama.
[HIDUP/Norben Syukur]
4/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.com – Awalnya Kolintang yang ada di Panti itu teronggok tidak dimainkan. Pada 2011 dikumpulkan sembilan anak untuk dilatih memainkannya. Sejak itu berdirilah Kelompok Kolintang Of Vitra. Saking senangnya berlatih, kadang anak-anak sampai lupa belajar.

Kekompakan dan kedisiplinan menjadi prinsip yang dijunjung bersama oleh anggota Kolintang Of Vitra (KOV) baik dalam latihan maupun dalam pementasan. Berkat kekompakan dan kedisiplinan ini KOV yang berdiri sejak Juli 2011 telah menghasilkan tiga angkatan dan telah mengisi berbagai pentas baik di Panti maupun di luar Panti, demikian ungkap guru kolintang KOV Fr Kristian Emanuel Stefan OFM, saat ditemui HIDUP, di Panti Asuhan (PA) Vincentius Putra, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu, 7/5. Lebih Lanjut frater kelahiran Ende, 25 Desember 1986 ini, menjelaskan bahwa ketiga kelompok kolintang yang sudah terbentuk ini merupakan harapan pimpinan Panti yang menginginkan adanya berbagai kegiatan ekstrakurikuler di PA Vincentius Putra. Selain harapan pimpinan, rupanya juga adanya kemauan tinggi dari anak-anak PA Vincentius Putra untuk bermain kolintang.

Pengembangan Bakat
Awalnya fasilitas kolintang yang tersedia di PA Vincentius Putra hanya teronggok di Ruang Bakat Minat dan tidak pernah dimainkan. Setelah Fr Stefan melihat alat musik itu, kemudian muncullah ide untuk membentuk kelompok musik kolintang. ”Pada Juli 2011, saya pindah ke Panti ini. Di ruang Bakat Minat, ada satu set kolintang, menurut cerita anak-anak guru kolintangnya tidak ada. Dari situ, saya mencoba memanfaatkan fasilitas yang ada untuk membentuk kelompok kolintang pertama yang berjumlah sembilan orang,” kisah Fr Stefan, mengenang awal mula berdirinya KOV.

Terbentuknya KOV menurut Fr Stefan juga tidak terlepas dari dorongan Direktur PA Vincentius Putra RP Dedie Kurniadi OFM bersama jajarannya. Mereka menginginkan adanya kegiatan ekstrakurikuler bagi anak-anak Panti. Mereka meyakini lewat kegiatan ekstrakurikuler yang aktif dan bervariasi, anak-anak Panti dapat menyalurkan bakat dan talentanya secara maksimal.

Selain itu, dengan KOV diharapkan dapat menyalurkan energi anak-anak Panti dengan terarah dan positif. Sebab dalam masa pertumbuhan, seorang anak harus dibimbing dalam menyalurkan energinya secara baik, sehingga benar-benar bermanfaat bagi perkembangan diri baik mental maupun psikisnya. “Membimbing anak untuk memanfaatkan energinya secara baik adalah hal yang sangat penting apalagi dalam masa pertumbuhan. Ini sebuah keharusan untuk dilakukan”, tukas frater yang telah menerima kaul kekal pada 23 Juli 2013 ini.

Musik Kelompok
Kolintang merupakan alat musik kelompok. Artinya alat musik ini harus dimainkan oleh sekelompok orang. Karena musik kelompok maka, hal utama yang harus diperhatikan dalam bermain kolintang adalah kekompakan. Dengan kekompakan, akan tercipta irama dan alunan musik yang indah dalam mengiringi sebuah lagu yang dimainkan.

Setelah sering berlatih akhirnya anggota KOV selalu kompak. Kekompakan ini mengalir kuat dalam anggota KOV baik pada angkatan pertama dan angkatan kedua yang terdiri dari anak Panti yang sudah tamat dari bangku SMP. Juga terjadi pada angkatan ketiga yang sampai saat ini masih aktif. Tiap angkatan anggota KOV terdiri dari sembilan orang. Mereka masing-masing berperan sebagai pemain melodi dua orang, pemain bas dua orang, pemain alto dua orang, dan pemain tenor tiga orang.

Dalam perjalanan waktu, kekompakan yang terbangun dalam komunitas KOV ini pun melebur dalam kehidupan sehari-hari anggota KOV. “Kekompakan mereka dalam bermain kolintang, turut mewarnai kehidupan harian mereka. Tentu saja ini sangat positif dan harus dijaga,” ungkap Fr Stefan penuh semangat. Lebih lanjut Fr Stefan menceritakan bahwa kekompakan yang terbentuk pun sangat membantu saat pelatihan. Kadang, tanpa banyak perintah anak-anak langsung berinisiatif memulai latihan. Mereka selalu tepat waktu, saat latihan. Tanpa diperintah mereka mempersiapkan kolintang dan kadang-kadang mereka berlatih sendiri sebelum guru datang.

Berkat ketekunan dan kedisiplinan dalam latihan, kini KOV mendapat dukungan kuat dari para pembina PA Vincentius Putra. Para pembina khususnya direktur Panti selalu mencari kesempatan dan ruang bagi KOV untuk pentas. Mereka diberi kesempatan tampil dalam acara-acara internal seperti ulang tahun Panti, juga tampil di luar Panti. “Mereka sudah banyak kali melakukan pementasan, khususnya kelompok II dan III. Di PA Vincentius Putra mereka sering mengisi acara ulang tahun, juga saat menyambut para donatur. Untuk di luar, mereka juga pernah tampil di Mall Ciputra, Grogol, Jakarta dan Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta. Pementasan ini sering mereka lakukan bersamaan dengan acara pameran foto yang dilakukan oleh kelompok Fotografi PA Vincentius Putra,” tutur Fr Stefan.

Pementasan ini, lanjut Fr Stefan kebanyakan bertujuan untuk memperlihatkan kemampuan mereka juga dalam rangka mencari dana untuk Panti. Ketua kelompok kolintang angkatan ke-III, Alexander Chia, mengakui pementasan yang mereka lakukan selain untuk memperlihatkan kemampuan KOV kepada masyarakat juga untuk mencari dana. “Kami melakukan pementasan untuk memperlihatkan kemampuan kami juga untuk mencari dana untuk kehidupan kami,” tukas siswa kelas II SMP ini.

Berbagi Waktu
Dalam proses membentuk dan membina anggota KOV menurut Fr Stefan tidak terlepas dari berbagai tantangan. Tantangan utama yang ditemukan adalah menghadapi anak-anak yang lebih mementingkan latihan musik dari pada belajar sebagai tugas utama mereka. “Saking asyiknya bermain kolintang, kadang anak-anak melupakan tugas belajar dan malah menghabiskan waktu untuk bermain kolintang. Tentu ini masalah besar sebab anak-anak kami belum bisa membagi waktu sebaik mungkin,” kata Fr Stefan. Untuk mengatasinya mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta ini membuat aturan ketat di KOV. Salah satu aturannya yaitu personil KOV hanya diperbolehkan dari kelas satu dan dua SMP dan latihan rutin hanya diadakan pada hari Selasa dan Kamis sore. Juga apabila memasuki masa ujian sekolah, kegiatan KOV ditiadakan. Besar harapan Fr Stefan jika peraturan ini benar-benar dipatuhi anak-anak.

Harapan lain yang diidamkan KOV saat ini adalah membuat proyek yang lebih besar yaitu ingin membuat album musik kolintang sendiri. “Mungkin awalnya dengan lagu-lagu yang mudah dahulu,” tutur Fr Stefan. Kini anak-anak KOV telah mahir bermain musik kolintang, dengan kemahirannya mereka menjadi lebih percaya diri ketika berbaur di tengah-tengah masyarakat.

Norben Syukur

HIDUP NO.21, 25 Mei 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here